Ketika Cinta Itu Datang Lagi

Ketika Cinta Itu Datang Lagi
Perhatian Seorang Kakak


__ADS_3

Fix sudah, liburan kali ini Adel pulang ke Tasikmalaya. Dengan ceria dia menenteng rapornya yang bertuliskan 'Naik ke kelas XII', selain itu dia juga mendapat peringkat juara umum disekolahnya. Bus yang di tumpanginya berjalan santai sehingga ia bisa menikmati pemandangan sekelilingnya. Hal yang paling ia sukai saat pulang kampung selain suasana desa yang asri dan indah adalah masakan mama nya tercinta.


Pepes tahu kesukaannya tentu menjadi hidangan pamungkas yang berharga. Tak sabar dia ingin segera sampai. Berlarian di pinggiran sawah lagi. Lamunannya membawa ia ke alam mimpi yang indah, sepanjang perjalanan ia tertidur pulas. Dia tersadar saat kondektur membangunkannya.


Bergegas ia membawa semua barangnya turun. Sebuah tas ransel kecil serta sebuah papper bag besar dijinjing nya. Dari terminal dia masih harus naik angkutan umum selama setangah jam, barulah ia tiba di pekarangan rumah sederhana yang di kelilinggi oleh pohon-pohon rimbun. Dari kejauhan ia melihat Yulia, mamanya, sedang membersihkan halaman samping.


"Mama!" teriaknya nyaring. Membuat Yulia yang hendak memotong ranting terkejut.


Adellia tak perduli sekelilingnya. Dia langsung berlari memeluk mamanya. Lalu diciumnya punggung tangan mamanya dengan mesra.


"Kamu ini kalo datang seharusnya kasih kabat dulu, Del. Jadi mama kan bisa siap-siap."


"Kejutaaaan .... "


Mereka masuk menuju ruang tamu. Tatanan kursi dan ruangan rumah tidak berubah sejak ia tinggalkan dulu. Tak lama mamanya keluar dengan segelas teh panas.


"Tumben kamu tak menelpon mama. Biasanya kamu sudah sibuk jika mau pembagian rapor kenaikan kelas."


"Ada Kak Yudha, Ma. Dia yang mengambilkan rapor Adel." Adel langsung menyesap teh panas yang dia sukai. Aroma melatinya membuat pikirannya menjadi relax.


"Yudha? Ko dia pulang ke Indonesia ga mampir kerumah?"


"Kak Yudha bilang ada sedikit urusan di Jakarta, dia sempatkan sebentar kesekolah ku, lalu pergi lagi. Sepertinya urusan penting. Soalnya Kak Yudha buru-buru sekali," jelas Adel pada mamanya.


"Lalu?" tanya Yulia penuh selidik. "Lalu dia langsung terbang ke Tokyo," jawab Adellia santai sambil menikmati teh panasnya

__ADS_1


"Anak itu kebiasaan sekali. Seperti tuyul saja. Hilang timbul ga bisa di tebak. Lalu dia apa dia tidak pesan apa-apa?"


"Pesan? Hmmmm ... Kak Yudha bilang kalo nanti dia pulang lagi, dia mau kasih kejutan buat mama. Tapi rahasia."


"Dih, kalo kejutan apa lagi rahasia jangan bilang-bilang atuh. Bikin Mama penasaran aja," protes Yulia.


******


Hari sudah sangat malam, Adel belum juga bisa memejamkan matanya. Dering ponselnya yang berteriak nyaring membuatnya terkejut. Adel meraih ponselnya di atas meja, lalu menggeser tombol hijau.


"Halo."


"Halo ... lagi apa Del?" tanya Dicky di ujung teleponnya.


"Oooh ... Lagi melamun Kak. Kak Dicky belum tidur. Sudah malam lho ini."


"Tidak kok, Kak. Baru aja mau mulai."


"Hah? Mulai apa?" Di ujung sana Dicky mengerutkan kedua alisnya mendengar ucapan Adellia.


"Mulai menghayal." Jawaban Adel mebuay Dicky terpingkal-pingkal. Lucu juga anak ini pikir Dicky. Bicaranya nyeplos kadang-kadang diluar nalar.


"Del,"


"Iya, Kak." Adelia menjawabnya dengan lembut. Beberapa menit berlalu. Dicky terdiam. Dia tidak melanjutkan kata-katanya. "Iih, kenapa atuh diem aja, Kak. Jangan-jangan Kak Dicky ketiduran."

__ADS_1


Diujung sana Dicky tersenyum mendengarnya. Andai saja kamu dekat Del, ingin aku peluk kamu. Aku belai rambutmu. Melampiaskan kerinduan dan rasa sayang kakak mu ini. Sampai kapan kita akan begini terus. Saling diam berjauhan.


"Kamu jaga kesehatan disana ya. Jangan lupa makannya di jaga. Sampaikan salamku untuk mamamu." Telepon terputus. Disana Dicky setengah mati melawan perasannya. Melawan airmatanya. Kesal bercampur sedih. Kesal karena ia tidak bisa berbuat apa-apa, sedih karena harus menahan persaan nya sekuat mungkin. Sampai semua ini berakhir.


******


Marahari pagi menyinari sela-sela dedaunan. Adel sudah bersama mama nya menata bunga-bunga cantik dihalaman samping rumah. Koleksi yang sangat disukai Adel adalah bunga matahari. Mamanya memang pecinta bunga, tak hanya bunga matahari, bunga angrek, mawar, kaca piring, aster dan juga bunga asoka. Halamannya tidak luas, tapi sangat asri. Hijaunya rumput gajah melapisi permukaan tanah. Rutinitasnya setiap pagi saat berada di kampung adalah membantu mamanya menyiram dan merawat bunga-bunga.


"Semalam kamu ngobrol sama siapa, Del. Mama dengar kalian ngobrol sampai larut malam." Yulia mulai penasaran dengan putri bungsunya.


"Ooo, Mama belum tidur ya. Sempat-sempat nya nguping obrolan orang," jawab Adel sambil nyengir.


"Iih ... enak aja nguping. Atuh kedengeran


lah waktu mama lewat kamar kamu. Salah sendiri ngobrol nya teh kuat pisan." Logat sunda yang kental menyatu dalam lidah Yulia.


"Cowok? Pacar mu?" goda Yulia sambil menaik turunkan alisnya.


"Apasih, Ma? Kapo deh."


"Kepo teh naon yak? Makanan?"


"Iya .... Makanan bulat isi gula merah di bulir kelapa parut." Adel tersenyum kecil.


"Eeh? Eta teh klepon Adel." Adel berlari kedalam meledek mamanya yang mengejarnya. Mama ini lucu juga kalo lagi kepoin anaknya, batin Adel dalam hati. Walaupun agak cerewet tapi dia tipe mama yang sangat perhatian pada anaknya. Love you, Mama.

__ADS_1


******


__ADS_2