Ketika Cinta Itu Datang Lagi

Ketika Cinta Itu Datang Lagi
Raja, Dua Kesatria Dan Seorang Putri


__ADS_3

Bik Iyah datang mengetuk kamar Dicky, memanggil mereka untuk turun makan malam. Diruang makan Juan sudah menunggu mereka. Juan tak melewati kesempatan ini. Hati nya sangat bahagia, ini adalah makan malam pertamanya bersama ketiga orang putra putrinya. Bik Iyah dan Pak Ujang yang mengintip dari dapur pun ikut bahagia melihat mereka bertiga.


"Syukurlah, Pak'e. Aku seneng lihat nya. Bapak dan ketiga anak nya bisa kumpul lagi"


" Iya, bu'e aku juga seneng. Cuma istri Bapak kok belum mau kesini ya bu'e"


"Entah lah, pak'e"


"Semoga mereka berkumpul kembali ya bu'e"


"Aamiin... Eeh... Tapi ... Kakak nya Mas Dicky, Mas Yudha itu lo pak'e, guaaannntenge pool"


"Ooo... Mikir to bu'e. Sampean iku wes tuwek"


"Opo sih pak"


Bik Iyah dan Pak Ujang adalah sepasang suami istri. Mereka sudah lama ikut keluarga Marabahan. Anak-anak mereka dikampung sudah besar-besar dan berkeluarga semua. Jadi mereka menghabiskan masa tuanya dengan mengabdi kepada keluarga Marabahan.


******


Adel merasa bosan mendengar obrolan kedua lelaki yang ada di depannya. Dia berpamitan kembali kekamarnya.


"Sudah ngantuk, Dek?", tanya Dicky.

__ADS_1


"Belum sih. Aku mau kembali ke kamarku saja"


"Eehh...?!"


"Bosan mendengarkan obrolan kalian. Obrolan laki-laki itu ga asik"


Adellia protes lalu meninggalkan kamar kakaknya. Yudha tertawa terbahak-bahak meliat kelakuan adik perempuannya. Malam itu Yudha menginap di kamar Dicky.


Mereka asyik bercerita tentang keseruan mereka masa kecil dulu. Dari dulu Dicky memang penakut dan cengeng. Kalau tidur atau kekamar mandi pun harus ditemani kakaknya. Dari kecil dulu mereka selalu sekamar.


******


Adel yang kembali kekamarnya belum bermaksud untuk tidur. Dia mengambil handphone dari sisi nya. Bermaksud menghubungi Xena. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang.


Cekreeek ....


"Boleh .... Hmmm... Boleh Papa masuk?"


Adel mengangguk. Dia bergeser dari tempat duduknya.


"Kamu belum tidur, Del?"


"Belum"

__ADS_1


"Kalau boleh, Papa ingin bicara sedikit denganmu"


"Ya, silakan"


Juan mengatur nafasnya. Mengatur hatinya. Menyusun kata-kata nya. Dia menatap putri bungsu nya dalam-dalam. Ada sedikit rasa sakit diujung hatinya. Sakitnya menahan kerinduan.


"Del ..."


Adellia hanya diam menatap Papanya.


"Mungkin.... Mungkin kamu benci Papa. Tapi itu adalah hak kamu, Del. Itu bukan kesalahan kamu atau mama mu. Ini semua kesalah pahamanan dan keegoisan Papa sehingga kalian bertiga, kamu, yudha dan mama jadi menderita. Entah bagaimana cara Papa agar bisa menebus dosa itu"


"Dan jika kamu tidak bisa memaafkan Papa atas dosa-dosa papa itu, Papa tidak akan marah. Wajar kalau kamu bersikap begitu. Wajar jika kamu sakit hati karenanya"


"Tapi Papa tetap akan memohon ampun kepada Tuhan dan akan selalu mendoakan kamu dan juga kedua kakakmu. Sampai kapan pun kalian tetap anak-anak kebanggaan, Papa"


Untuk sejenak mereka berdua sama-sama terdiam. Mencoba saling memahami dan menelaah keadaan.


"Ya, sudah. Papa keluar dulu. Istirahatlah"


Saat Juan beranjak dari duduk nya. Adel menarik lengannya lalu menangis di dadanya. Memeluk nya erat. Detik itu juga luluh lah hati dan keangkuhan Juan sebagai seorang laki-laki. Luruh semua isi hatinya. Melihat putri bungsunya yang selama ini dirindukannya. Yang tak pernah dipeluknya sejak lahir. Kini ada dalam dekapannya.


"Maafin Adel, Pa. Adel yang ga mau ngertiin posisi, Papa. Adel yang egois. Adel sayang sama Papa".

__ADS_1


Reinal Juan Marabahan merasa kalah dan menyerah dengan kelembutan hati gadis kecil itu. Baru kali ini dia mendengar Adellia memanggilnya, Papa. Dipeluknya begitu erat lalu dikecup nya kepala gadis kesayangannya itu. Adellia Nova Marabahan.


******


__ADS_2