
Hasil tes DNA kemarin baru akan keluar tiga minggu lagi. Jovi tidak kehabisan akalnya. Dia mencari keberadaan Yudha dan tentunya hasil pencariannya itu dilaporkan kepada papinya dengan tujuan untuk menghancurkan Yulia dan anak-anaknya.
"Papi," panggilnya siang itu. "Jovi tidak menggangu istirahat papi, bukan?"
"Tidak. Ada apa? Masuklah." Jovi duduk disebelah papinya. Mulailah dia membisikkan mantra jahatnya. "Papi, aku mendapat informasi penting tentang anak dari perempuan itu."
"Anak dari perempuan itu?" Saut mengerutkan kedua alisnnya.
"Iya, Pi. Yudha. Anak sulung Yulia," jawab Jovi.
"Yudha?"
"Iya. Ternyata orang yang mengaku sebagai Yudha itu, adalah seorang preman kampung yang tidak punya pekerjaaan. Dia hanya memanfaatkan Juan saja. Kerjanya hanya kumpul-kumpul dengan temannya, berjudi dan mabuk-mabukkan." Cerita Jovi membuat Saut terbelalak. Dia tak menyangka dengan apa yang baru di dengarnya itu.
"Apa kau yakin itu Yudha? Yudha anaknya Juan?" cecar Saut penasaran.
"Aku rasa dia hanya mengaku-ngaku sebagai anaknya Juan. Dialah yang merekayasa bahwa Juan punya anak perempuan bernama Adel itu. Aku rasa dia lah otak dari semua ini. Papi harus memperingatkan Juan, terutama Dicky. Dia sangat terpengaruh dengan orang-orang yang tidak jelas asal usulnya itu." Seringai Jovi membuat bulu kuduk merinding. Dengan penuh keyakinan dia menghasut Saut agar percaya pada ceritanya.
__ADS_1
"Apa kau punya buktinya, Jovi?" tanya papinya lagi.
"Tentu saja, Papi. Aku bisa mengantar Papi ketempat dia bisa berkumpul. Didaerah pelabuhan, Pi."
"Baiklah. Papi percaya ucapan mu. Papi akan memperingatkan Juan dan Dicky." Jovi tersenyum puas dengan apa yang dia lakukan hari ini. Dia berhasil mencuci otak Saut, papinya.
"Tunggu saja tanggal mainnya, aku akan menghabisi kalian semua!" batin Jovi tertawa puas.
******
"Pemabuk?" Juan terkejut mendengar cerita Papinya.
"Apa papi yakin?" Dalam hati kecilnya, Juan tak meyakini cerita itu. Hati kecilnya mengatakan kalau itu adalah putra sulungnya. Percis seperti yang dikatakan Dicky. Namun lagi-lagi dia tak bisa membantah titah papinya.
"Tentu saja papi yakin Juan. Papi punya bukti-buktinya," tungkas Saut. Juan terdiam, sekilas dia melirik kepada Dicky. Dia berusaha mencerna dengan baik ucapan papinya. Sementara itu Dicky yang duduk disebelahnya tidak percaya seratus persen dengan apa yang disampaikan Opa Saut. Dia percaya dengan Kakaknya. Dia percaya bahwa itu adalah benar-benar kakak kandungnya, Yudha Lintang Marabahan.
******
__ADS_1
(Di Lobi Kantor)
"Pa," panggil Dicky. "Jujur Dicky tidak percaya sama sekali dengan apa yang di katakan Opa tadi pagi. Dicky percaya sama Kak Yudha. Dicky juga percaya sama mama dan Adel. Dicky harap keluarga kita bisa utuh kembali, Pa."
"Tapi bagaimana jika yang di ucapkan Opamu benar, Dicky. Zaman sekarang kita tak bisa percaya dengan sembarang orang."
"Jadi, papa tidak percaya dengan mama?" Pertanyaan Dicky membuat Juan menghentikan langkahnya. Dia menatap anaknya yang berjalan dibelakang. Dia tidak mengatakan sepatah katapun. Dia hanya bergegas menuju mobil yang terparkir di halaman kantor.
Dicky hanya bisa menatap kepergian papanya dengan penuh harapan. Semoga hati papanya masih terbuka dan mau jujur terhadap perasaannya sendiri. Dicky yakin papanya masih sangat mencintai dan menyayangi mamanya. Namun keegoisan papanya membuat dia harus sedikit bersabar. Menunggu saat-saat indah yang akan datang.
******
(Di Rumah Reinal Juan Marabahan)
Jovi sangat tidak tenang memabaca surat yang diterimanya siang ini. Amplop besar berisi banyak kertas dan foto-foto, serta sekeping CD. Wajahnya pucat, tangan dan kaki nya gemetar. Baru kali ini ada orang yang berani menentangnya.
"Aku harus bertindak cepat. Akan ku hancurkan kamu sampai berkeping-keping bocah ingusan," geramnya. Lalu ia bergegas menuju tempat sampah dihalaman belakang, dia membakar semua amplop besar itu beserta isinya. Nafasnya terdengar begitu terengah-engah. Setelah yakin semua telah terbakar, ia mengambil handphone dan menekan sebuah nomor.
__ADS_1
"Halo, kau kesini sekarang. Jemput aku di rumah Juan. Kita harus bertindak lebih cepat dari rencana semula," titahnya di ujung telepon. Dalam waktu kurang dari setengah jam ia sudah siap dan menuju halaman. Disana ada sebuah hartop hitam menunggunya. Tanpa banyak basa-basi hartop itu melaju meninggalkan rumah.
******