Ketika Cinta Itu Datang Lagi

Ketika Cinta Itu Datang Lagi
Pembuktian Yang Telah Berakhir


__ADS_3

(Laboratorium rumah sakit)


Semua orang sudah berkumpul diruangan itu. Menanti hasil dari tes DNA. Adellia tidak hadir disana. Hari ini dia harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Sepertinya juga dia tidak tertarik apapun hasil dari tes DNA itu.


Seorang dokter dan laboran yang membawa amplop hasil tes DNA itu sudah hadir meramaikan ruangan itu. Wajah semua orang sangat tegang menunggu hasil lab tersebut dibacakan. Dokter membuka amplop itu. Beberapa saat dia membaca hasilnya.


"Bapak Reinal Juan Marabahan," sapa dokter sambil menyalami Juan.


"Iya, Dok," jawab Juan.


"Menurut hasil tes DNA yang dijalani tiga minggu yang lalu, DNA bapak Reinal Juan Marabahan dengan saudari Adellia, sangat identik. Keduanya dinyatakan cocok."


"Jadi ... " Juan mengerutkan kedua alisnya. Dia menatap dokter dan meminta keyakinan lebih dari apa yang di dengarnya.


"Jadi saudari Adellia adalah anak kandung bapak Juan. Ini sudah bisa dipastikan berdasarkan hasil tes ini." Bukan main terkejutnya Juan. Dicky berkali-kali mengucap syukur kepada Tuhan. Dia senang sekali bahwa ternyata Adel benar adalah adik kandungnya. Sementara wajah pucat terlukis di wajah Jovi. Opa Saut hanya bisa terdiam.


Akhirnya mereka pulang tanpa saling berbicara satu sama lain di dalam mobil. Bahkan ketika sampai dirumahpun semua orang tetap diam dan masuk kekamar masing-masing.


******

__ADS_1


Di dalam kamar Juan hanya terdiam. Ada sedikit hasa sakit disudut hatinya. Ternyata anak yang selama ini dia acuhkan, dia tidak perdulikan bahkan tak pernah dianggap nya itu adalah anak kandungnya. Dia sadar dia telah melakukan kesalahan besar. Entah bagaimana dia akan menebusnya. Jikalau sekarang Adellia membencinya sekalipun dia tak bisa berbuat apa-apa. Ini bukanlah salahnya.


"Akulah yang mencampakkannya. Aku yang telah membuat hatinya luka. Ayah macam apa aku ini!" Kata-kata itulah yang berputar dalam benaknya. Rasa berslahnya membuat dia tak bisa memejamkan mata malam itu. Pikirannya kacau, hati nya begitu gelisah.


"Aku harus menemuinya," gumam Juan.


******


(Ruang Privat Restoran)


Menjelang siang hari Juan sudah berada di ruang privat disalah satu restoran ternama. Dia sengaja memesan ruang privat agar dia dengan leluasa berbicara. Orang yang ditunggu akhirnya datang.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Duduklah." Juan menarik kursi yang ada dihadapannya, mempersilakan tamunya untuk duduk. "Maaf kalau aku mengganggu kegiatanmu, Yulia."


"Ada apa, Kak?" tanya Yulia.


Juan terdiam sebentar, mengumpulkan keberaniannya untuk bicara. Dia menatap perempuan yang duduk dihadapannya. Begitupun Yulia, kedua mata mereka saling memandang. Tatapan yang begitu penuh arti. Ada kerinduan yang terpancar dimata keduanya.


"Hmm, mengenai Adellia. A-a-aku ... minta maaf karena ... " Lagi-lagi Juan terdiam. Dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Hasil tes DNA nya sudah keluar?" tanya Yulia memotong perkataan Juan.


"Ya."


"Lalu apa hasilnya?" tanya Yulia lagi.


"Seperti yang kamu katakan padaku." Dengkusan keras terdengar, Juan menyandarkan tubuhnya lebih dalam. Yulia menarik nafas panjang. Dia menatap dalam-dalam pada Juan. Senyumannya terlihat begitu mempesona dimata Juan.


"Kak, jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada putrimu. Pada Adellia. Dialah satu-satunya orang yang sangat terluka dengan kejadian ini."


"Ya, kamu benar. Tapi apakah aku pantas untuk dimaafkan?" Wajah Juan berubah memelas. Kesedihannya tak bisa ditutupi lagi.


"Adellia anak yang baik. Dia dididik dengan baik. Aku paham betul wataknya. Akupun mengerti posisi Kak Juan saat ini."


"Yulia ... Maafkan aku karena aku sempat tak mempercayaimu. Membuat mu menderita selama bertahun-tahun. Aku pantas mendapat hukuman dari Tuhan."


"Tidak, Kak. Tidak ada yang pantas dihukum. Tidak ada yang bersalah dalam kejadian ini. Terima saja ini sebagai takdir dari Tuhan, Kak. Hanya saja aku minta padamu, tolong sayangi Adellia. Dia benar-benar anak kandung Kak Juan." Juan mengangukkan kepalanya. Digenggamnya tangan Yulia erat-erat. Sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih. Yulia bangkit dari tempat duduknya, dan memeluk Juan yang masih duduk dikursinya. Seakan melepaskan semua kerinduan mereka. Mengakui semua salah dan dosa mereka. Memulainya dari awal lagi.


******

__ADS_1


__ADS_2