Ketika Cinta Itu Datang Lagi

Ketika Cinta Itu Datang Lagi
Semakin Diragukan Semakin Yakin


__ADS_3

Suasana rumah mendadak tegang. Diruang tamu duduklah seorang laki-laki tua beruban, usianya mungkin sudah 70 tahunan, namun masih terlihat energik dan gayanya sangatlah sombong. Dia bertindak seolah dialah tuan rumah nya. Di sebelahnya duduk seorang perempuan yang berusia agak muda darinya. Berambut keriting di ikat tinggi dan bergaya tak kalah angkuhnya dari kakek tua tadi.


Setangah jam kemudian datanglah Juan yang baru turun dari mobilnya, langsung kedalam rumah menemui kedua orang tadi.


"Papi, datang lebih cepat dari rencana." Juan menyalami lelaki tua itu. Lalu duduk di hadapan nya.


"Ya, jadwal check up-nya memang lusa. Tapi Papi dengar ceritanya dari Jovi, tentang anak perempuan itu. Aduh .... Siapa namanya ...?"


"Adellia."


"Yah, pokoknya siapa pun dia. Papi minta kamu jangan lagi terpedaya dengan tipuan-tipuan klasik seperti itu, Juan. Berhati-hatilah!" hasut laki-laki tua itu.


"Ya, Pi. Tapi Juan kemarin bertemu Yulia, Pi. Dia sudah .... " Belum sempat Juan melanjutkan ucapannya, lelaki tua itu bangkit dari duduknya. Wajahnya merah padam.


"Jangan sebut lagi nama perempuan itu didepan, Papi. Cukup sudah kesalahan mu masa lalu. Jangan buat lagi kesalahan kedua. Perempuan itu telah pergi meninggalkan mu dan anak nya. Dia tak pantas disebut sebagai seorang istri apalagi ibu. Papi sudah tidak ingin melihat apalagi berhubungan dengan perempuan jahat itu."

__ADS_1


"Papi, sudah lah. Jangan terlalu emosional. Lebih baik Papi kekamar dan beristirahat. Jovi antar ya, Pi" Juan hanya terdiam mendengar makian dari Papi nya. Di lubuk hatinya paling dalam dia masih mencintai Yulia. Terlepas dari menghilangnya dia puluhan tahun lalu.


"Bagaimana kalau yang di katakan Yulia itu benar? Bagaimana kalau anak itu adalah benar anak kandungku?" Pertanyaan itu berputar-putar dalam benak Juan. Hatinya jadi tidak tenang. Tapi dia tidak sanggup membantah ucapan Papi nya. Walaupun hanya seorang ayah tiri, bagi Juan, Papinya adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Karena Papinya lah yang membesarkan dia seorang diri sepeninggal Maminya. Hutang budi itu yang tak bisa di putuskan oleh Juan.


******


Malam itu Juan masih terjaga. Hati nya merasa sangat gelisah. Rasa tidak tenang dihatinya membuat Juan sulit untuk memejamkan mata. Dia paham benar watak, Yulia, yang sampai saat ini masih berstatus istrinya. Juan tidak pernah berniat mentalak Yulia. Walaupun dia menghilang berpuluh tahun bersama anak sulungnya, namun dia tak bisa membenci perempuan itu.


Juan dan Yulia merupakan teman sepermainan sejak kecil. Mereka sudah bertaman sejak sekolah menengah pertama. Sepasang sahabat yang menjadi suami istri. Tak ada yang mengira bahwa hubungan mereka yang baik-baik saja tiba-tiba hancur tanpa sebab. Tak ada yang mengetahui penyebab Yulia pergi dari rumah.


"Belum tidur, Pa?" panggil Dicky yang muncul dari balik pintu.


"Hmmm..."


"Boleh Dicky masuk?" pintanya sopan.

__ADS_1


"Hmm ... " Dicky masuk, duduk di sisi tempat tidur. Menyandarkan kepalanya pada tembok kamar sambil memeluk bantal. Dia memperhatikan gelagat papanya. Dia tahu dalam hati kecil papanya merasa gelisah dan tidak tenang terhadap masalah yang terjadi.


"Pa," panggil Dicky lagi. Juan melihat ke arah anaknya. "Apakah Papa tidak ingin kembali bersama Mama lagi, Pa? Sebegitu bencikah Papa pada perempuan yang sudah bersama Papa dalam suka dan duka?"


Juan hanya diam. Helaan nafasnya terdengar jelas diantara kebisuan mereka.


"Pa," panggil Dicky pelan.


"Hmm .... "


"Apapun yang terjadi antara Papa dan Mama, Adel tetaplah anak kandung Papa. Tak sepantasnya dia menanggung semua akibat menyedihkan dari semua yang terjadi ini. Adellia tidak bersalah, Pa. Dia tidak tahu apa-apa. Bahkan Dicky dan Kak Yudha pun demikian," jelasnya kemudian. "Dicky yakin Papa bisa mengambil keputusan yang bijaksana. Dicky yakin Papa bisa lebih percaya pada hati kecil Papa. Maaf, Pa. Bukan maksud hati menggurui Papa. Tapi jika ada hal yang membahayakan keluarga ini Dicky lah orang nomor satu yang akan mengambil tindakan. Apapun itu." Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Lalu Dicky bangkit dari duduknya dan pamit.


"Selamat malam, Pa." Dicky meninggalkan kamar Juan. Di dalam kamar Juan memikirkan apa yang di katakan anaknya tadi. Tapi semakin dia menyangkal hati kecilnya semakin tidak bisa tidak percaya.


"Tidak semudah itu, Dicky. Papa takut ada hal lain yang akan berakibat lebih buruk. Sepertinya kita tak bisa menghindari itu," gumamnya.

__ADS_1


******


__ADS_2