
Dicky dan papanya duduk menunggu di sofa. Dia membaurkan pandangannya keseluruh ruangan. Di dinding sebelah kiri terdapat sebuah foto. Dicky bangun dan mendekatinya. Di foto itu tertulis, 'Grand Opening Kafe Charika' disana ada Yudha yang berdiri sedang menggunting pita pada saat upacara pembukaan kafe Charika.
"Apakah kafe ini milik Kak Yudha?" pikirnya. Lalu dia kembali duduk disebelah papa nya.
"Pa," panggil Dicky. Juan menoleh kearah putranya. "Ada apa?" tanya Juan.
"Kak Yudha, orang nya kuat dan tegar ya. Dia ga pernah berubah. Selalu menjaga dan melindungi keluarga dengan sekuat tenaganya. Dicky bangga punya kakak seperti Kak Yudha. Bangga, Pa."
"Ya, kamu benar Dicky. Papa pun demikian." Suara ketukan pintu memutus pembicaraan seru ayah dan anak itu. Pintu tebuka. Ken masuk dan memberi hormat pada Juan dan Dicky yang duduk disofa. Lalu dia menuju ruang belakang. Di tangannya ada beberapa amplop. Tak lama Yudha keluar dari ruang ganti. Ken menyerahkan beberapa amplop yang dibawanya. Yudha membacanya lalu tersenyum.
"Kerja bagus, Ken. Tolong kau percepat proses nya. Kalau bisa dalam waktu beberapa bulan ini semua sudah selesai," titahnya.
"Baik, Pak. Ada lagi yang Bapak butuhkan?" tanya Ken sopan
__ADS_1
"Sementara ini cukup. Oiya, tolong persiapkan untuk keberangkatanku nanti malam."
"Baik, Pak. Saya hanya mengingatkan kalau pesawat Bapak berangkat pukul delapan malam." Ken membuka buku saku yang selalu di bawanya. Di sana tercatat semua jadwal bosnya itu.
"Oke!" jawab Yudha yakin. Ken beranjak dari ruangan itu. Meninggalkan tiga orang lelaki, ayah dan anak-anak nya. Sudah lama sekali mereka tidak berkumpul seperti itu. Bahkan Juan pun sudah lupa kapan terakhir kalinya dia dan kedua anak laki-lakinya berkumpul dan mengobrol santai seperti itu.
Yudha cukup lama di kamar mandi tadi. Sekarang dia sudah berpakaian rapi, rambutnya pun sudah disisir rapi. Gayanya cukup macho dan elegan. Dia mendekat dan duduk didekat Papanya. Harum parfumnya tercium, bahkan dari jarak yang jauh. Wangi lembut mengesankan sosoknya yang kharismatik. Gaya seorang eksekutif muda yang sukses.
"Wow, Kak Yudha tampan sekali. Bahkan aku yang laki-laki pun kagum dengan kharisma nya" batin Yudha sambil tersenyum memandang kakak sulungnya.
"Ga kok Kak. Kak Yudha makin dewasa. Dicky bangga punya kakak seperti, Kak Yudha."
"Jangan berlebihan, Dek. Sudah sewajarnya ko. Kak Yudha ini bukan siapa-siapa. Manusia biasa juga." Senyuman Yudha terlukis di ujung bibirnya.
__ADS_1
"Kamu sudah berbuat banyak untuk keluarga kita, Yudha. Papa sangat berterima kasih. Papa sangat malu pada kalian. Papa minta maaf pada kalian karena selama ini Papa tidak bisa menjadi orang tua yang baik buat kalian." Juan mencurahkan isi hatinya pada kedua putranya.
Dicky dan Yudha saling berpandangan.
"Papa ga perlu minta maaf. Ga ada yang salah atau benar dalam hal ini, Pa. Ini sudah takdir dari Tuhan. Kita sebagai manusia harus bisa berbesar hati menerimanya. Yudha juga sangat bangga punya, orang tua seperti Papa. Papa ini adalah Papa terhebat yang ada didunia. Pasti Dicky pun berpikir demikian." Untuk sesaat Yudha menarik nafas lembut. Lalu melanjutkan ucapannya.
"Yudhalah yang seharusnya minta maaf, karena keegoisan Yudha membuat Papa jadi susah. Yudha selalu bertindak sesuka hati Yudha tanpa menghiraukan larangan Papa. Maafkan Yudha ya, Pa"
Yudha berlutut lalu mengambil tangan Papanya, mencium punggung tangan Juan. Juan memeluk anak sulungnya dengan erat. Melepaskan kerinduan yang lama disimpannya. Baginya Yudha anak yang sangat baik walaupun sifat keras kepalanya sangat dominan. Dicky tersenyum haru menyaksikan pemandangan ini. Dia pun memeluk kakaknya. Rasanya satu cinta sudah datang lagi padanya. Cinta yang hilang dulu. Cinta kakaknya yang sangat dikagumi nya.
******
Suasana haru biru menyelimuti ruang bawah tanah kafe itu, tiga lelaki tangguh yang lama tidak berjumpa. Yang terpisah oleh keadaan yang hampir membuat mereka saling menyakti. Namun untungnya, takdir berkata lain. Mereka dipertemukan dalam keadaan bahagia seperti ini.
__ADS_1
"Kak, apa yang sebenarnya terjadi waktu itu? Bagaimana Kakak dan Mama bisa menghilang tanpa kabar? Apa hubungan semua ini dengan Tante Jovi? Tolong jelaskan pada Dicky, Kak. Lalu apa yang Kak Yudha lakukan dengan buruh-buruh itu di sana?" cecar Dicky tak sabar. Yudha terdiam sesaat, mungkin ini sudah waktunya untuk menceritakan kebenarannya. Papa dan adiknya berhak tau apa yang terjadi sebenarnya.
******