
Jovi mengemudikan mobilnya seperti orang yang kesetanan. Dia tidak perduli rambu-rambu bahkan apa yang ada di hadapannya di tabraknya. Dia sangat takut masuk penjara. Dari belakangnya terdengar suara mobil polisi yang mengejarnya. Jovi makin melajukan kendaraannya, sampai-sampai ia kehilangan kendali atas mobil itu dan menumbur kereta pengangkut batu bara. Efek tumbrukan yang begitu keras tak dapat lagi ia elakkan. Meledaklah mobil curian itu. Bisa dipastikan bahwa pengemudinya tidak akan selamat.
Mendengar kabar tersebut Saut mendadak lemas, tubuhnya seperti tak bertulang. Tubuhnya gemertar hebat menahan semua perasaannya. Juan memerintahkan seorang sopir untuk mengantar papinya pulang. Sementara dia dan Dicky masih dimintai keterangan di TKP sebelumnya. Pelabuhan sore itu ramai dengan polisi yang berlalu lalang menyisir tempat kejadian.
Seorang laki-laki berjas rapi turun dari sebuah mobil. Dia berjalan kearah Yudha dan Dicky yang sedang di mintai keterangan oleh opsir polisi. Untuk beberapa saat dia menunggu sampai opsir itu selesai, lalu dia mendekat dan membungkukkan kepalanya.
"Bagaimana, Ken?" tanya Yudha
"Maaf pak, sebaiknya luka anda diobati dulu." Kenzo pergi kearah mobil dan mengambil kotak P3K. Dicky melihat kearah kakaknya. Dia lupa dengan luka tadi. Lalu dia mendekat dan memegang lengan kakaknya yang terluka.
"Luka Kak Yudha nanti bisa infeksi."
"Tenang saja. Ken akan mengurusnya." Ken datang membawakan kotak P3K, dia membersihkan luka dilengan Yudha dengan antiseptik dan obat luka. Lalu membungkusnya dengan perban.
"Kau bisa jadi perawat, Ken," canda Yudha.
__ADS_1
"Saya harap Bapak lebih berhati-hati lagi. Untung saja lukanya tidak dalam." Ucapan Kenzo terdengar dingin. Namun sebagai tangan kanannya, Yudha sangat mempercayainya laki-laki itu.
"Terima kasih, Ken." Ken membungkuk hormat, lalu kembali ke mobil untuk meletakkan kotak P3K nya kembali.
"Kamu tidak apa-apa, Yudha?" tanya Juan mendekat.
"Yudha tidak apa-apa, Pa. Ini hanya luka kecil kok. Jangan khawatir."
"Apa tidak sebaiknya kita bawa kerumah sakit, Kak?" Dicky mengamati kakaknya dengan begitu lekat. Dia meyakinkan kalau kakaknya baik-baik saja.
"Yudha," panggil Juan.
"Iya, Pa."
"Sepertinya kita perlu bicara sebentar. Apa kamu punya waktu? Papa ingin menanyakan sesuatu pada mu." Ekspresi Juan sangat serius. Yudha sepertinya paham arah pembicaraan papanya itu. Dia hanya tersenyum. "Ada apa, Pa? Apa ini hal yang sangat penting?"
__ADS_1
"Iya, ini sangat penting buat Papa."
"Baiklah. Kita bicara di tempat yang nyaman aja. Mana kunci mobilmu, Dek. Biar Kak Yudha yang bawa." Dicky menyerahkan kunci mobilnya. Juan duduk di depan, disebelah bangku kemudi. Sementara Dicky membuka pintu belakang mobil dan duduk di kursi tengah. Ken datang menghampirinya membawakan sebuah termos air panas berisi kopi robusta hangat.
"Bapak yakin akan pergi sendiri? Sudah beberapa hari ini anda kurang tidur," tanya Ken.
"Ya. Aku serahkan sisanya pada mu."
"Baik pak, berhati-hatilah." Ken mundur beberapa langkah. Yudha membuka termos kopi itu lalu meminumnya. Lumayan pikirnya, kopi pahit bisa membuat mata melotot.
Yudha melajukan mobilnya kearah kota. Melewati jalan-jalan kota yang cukup lengang siang itu. Setengah jam kemudian mereka berhenti disebuah kafe, Yudha memarkirkan mobilnya di sebelah kiri pintu kafe. Lalu mereka bertiga masuk kedalam.
Dikafe itu cukup ramai pengunjung. Yudha mengajak Papa dan adiknya menuju ruang bawah tanah kafe itu. Mereka berjalan menuruni anak tangga, lalu melewati lorong-lorong yang cukup panjang. Ujung kanan terdapat gudang penyimpanan makanan dan ruangan kepala dapur. Dan disebelah kirinya diujung ruangan ada sebuah ruangan kecil, ruangan itu cukup rapi dan ber-Ac. Di tengah ruangan ada sebuah sofa dan meja kecilnya. Yudha mempersilakan Papa dan adiknya duduk. Diletakkanya dua botol teh dingin. Lalu dia berpamitan untuk mandi sebentar.
******
__ADS_1