
Malam baru saja menyelimuti dunia. Dicky masih berleha-leha di kamar nya. Seharian menghabiskan waktu bersama adik tersayang. Malam ini dia bertekad ingin menceritakan kebenaran pada papanya. Siap tidak siap dia harus mengatakannya. Apapun yang terjadi dia harus menjaga Adellia. Seperti janji nya pada Yudha. Tapi sepertinya papanya pulang terlambat hari ini. Dicky menoleh ke arah pintu saat suara ketukan lembut itu terdengar. Adellia datang dari balik pintu.
"Kak."
"Hmm ..."
"Makan malam sudah siap. Mau makan?" Dicky bangkit dari tempat tidur nya. Lalu merangkul Adel turun kebawah menuju ruang makan. Disana Bik Iyah sudah menghidangakan menu makan malam yang lezat buat mereka berdua.
"Dikit banget ambil nasinya? Diet?" ledek Dicky melihat Adel mengurangi porsi nasi yang ada di piringnya.
"Gak ah. Aku lagi nafsu makan."
"Gak bisa. Ga boleh begitu. Nih, buka mulut! Aaaaaa .... " Dicky memaksa menyuapkan nasi ke mulut adel. Mau tak mau Adiknya itu makan juga. Akhirnya mereka makan sepiring berdua. Dicky menyuapi adiknya dengan penuh kasih sayang. "Nah kalo, banyak makannya kan Kak Dicky senang liatnya."
"Iih, ga maksa juga kali, Kak. Emang aku bayi pake di paksa disuap," protes Adel sambil memanyunkan bibirnya.
"Iya, kamu ini bayi. Bayi kesayangannya, Kak Dicky." sambil mengusap-usap kepala adiknya. Adel hanya tersipu malu diperlakukan istimewa seperti itu oleh kakak keduanya ini. Setelah selesai makan mereka kembali menuju ruang atas. Dicky mengantarkan adel ke kamarnya. Adel pamit hendak belajar untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Sebelum menutup pintunya, Dicky lebih dulu menarik tangan Adel dan mencium keningnya.
"Selamat belajar adikku, Sayang."
******
Dicky kembali ke kamarnya. Dia mengambil handphone-nya yang dari tadi tergeletak dimeja. Tiga penggilan tak terjawab dari kakaknya Yudha. Dicky duduk di sofa dan menelepon balik kakaknya.
"Halo, Kak." Dicky menyapa di ujung teleponnya.
"Kamu sudah tidur, Dek?"
"Belum. Baru selesai makan malam, Kak. Maaf handphone Dicky tinggal di kamar," ucap Dicky yang merasa tak enak mengabaikan panggilan kakak sulungnya.
__ADS_1
"Adikmu baik-baik saja, Dek?" tanya Yudha.
"Iya, Kak. Kak Yudha tak perlu khawatir. Kak, malam ini Dicky berencana menceritakan semuanya sama Papa. Doakan semoga Papa mau menerima kenyataan ini." Ucapan Dicky membuat Yudha terdiam. Untuk beberapa saat dia tidak menanggapai perkataan Dicky.
"Kak ... Kak Yudha?" panggil Dicky.
"Sepertinya Kak Yudha ragu, Dek. Ini ga akan berjalan mudah. Kak Yudha takut ini tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan, jika memang demikian Adellah yang paling bersedih."
"Ga ada salahnya jika kita mencobanya, Kak." Sifat ngotot Dicky mulai timbul.
"Ya, Kak Yudha percaya padamu, Dek. Cuma satu pesan Kak Yudha. Tolong jaga Adellia ya."
"Baik, Kak. Kak Yudha ga usah khawatir soal itu." Tapi jika mau jujur, Dicky juga menakutkan hal yang sama seperti kakaknya. Namun berkali-kali dia meyakinkan dirinya untuk berani berterus terang. Apapun yang terjadi Adellia adalah adiknya, adik kandungnya.
******
Hampir pukul sepuluh malam, dari halaman terdengar suara mobil berhenti. Juan turun dari dalamnya menuju rumah. Dia menanyakan Dicky pada Bik Iyah. Memang sejak selesai makan malam Dicky tidak keluar dari dalam kamarnya. Juan menuju kamarnya di lantai bawah, disudut kanan rumah. Setelah selesai membersihkan diri, dia berniat untuk segera tidur. Namun Dicky datang mengetuk pintunya, dia membawakan dua cangkir teh panas. Juan sudah paham maksud anaknya ini. Dia yakin pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan Dicky padanya. Mereka duduk berdua di sofa sambil menikmati secangkir teh panas.
"Papa ini sangat cerdas. Paham benar maksud hati Dicky ya." Dicky mengambil sebuah komputer tablet yang dibawa nya tadi. Tanganya sibuk membolah balik file-file yang ada. Di bukanya tombol video. Lalu diperlihatkannya pada Papanya.
Video itu adalah video yang di ambil sembunyi-sembunyi oleh detektif sewaannya saat menyelidiki kebenaran tentang Adel dan mamanya. Video yang berisi obrolan Adel dan mamanya di kebun bunga milik mereka di Tasikmalaya. Bukan main terkejutnya Juan melihat itu. Dia tak sempat mengatakan apapun, Dicky segera menyodorkan amplop coklat berisi berkas penyelidikan kepada Papanya.
Dengan seksama Juan membolak-balik dan membaca isi berkas penyelidikan itu. Deru nafasnya kini menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Mukanya berubah menjadi merah. Digenggamnya erat-erat berkas itu. Lalu di lemparkan nya diatas meja.
"Apa maksud kamu ini, Dicky?" Juan mulai emosional.
"Seperti yang tertulis didalam berkas dan foto-foto itu, serta video ini."
"Maksudmu ... mamamu masih hidup? Dia baik-baik saja?"
__ADS_1
"Iya." Dicky kembali diam. Dia menunggu reaksi papanya.
"Anak perempuan yang ada di atas itu, yang ada dalam video ini adalah anak mamamu?"
"Dia anak kandung Papa juga. Adik Dicky, Pa," jelas Dicky tegas. Juan menoleh pada putranya. Dia mencari kebenaran di balik manik mata anak laki-lakinya itu.
"Dari mana kamu bisa seyakin itu, Dicky." Juan mulai kehilangan kendali dirinya dan berteriak pada anaknya. Dicky sekuat mungkin menahan dirinya agar tidak terpancing emosi Papanya. Dia tau ini adalah pilihan yang sulit. Dan papanya tak akan semudah itu mempercayainya.
"Dicky, sudah bertemu dan bicara langsung dengan mama dan Kak Yudha, Pa."
"Papa tidak bisa mempercayai semua ini. jangan lagi membicarakan mamamu dihadapan Papa." Mata Juan memerah menahan marahnya.
"Terserah Papa. Tapi ingat Pa, apapun yang terjadi dahulu antara papa dan mama, sangat tidak adil jika Adel menjadi korbannya. Dia anak kandung Papa. Apapun yang terjadi Adellia tetap bersama kita dirumah ini. Dia dalam perlindungan Dicky, Pa." Dicky pergi meninggalkan kamar papanya. Dengan menahan emosi Dicky menuju lantai atas. Dibukanya pintu kamar Adel yang berada tepat disebelah kamarnya. Di lihatnya Adel sedang menungkupkan wajahnya diatas kasur sambil sesegukan. Rupanya adel mendengar semuanya. Jelas saja, Juan yang terlanjur emosi bicara dengan berteriak.
Hampir mengagetkan seisi rumah.
Dicky mendekati adiknya, membelai lembut rambut Adellia yang halus. Lalu memeluknya erat-erat. Membiarkan adel menangis di dadanya. Rasa sakit yang ada di dadanya mendengar adiknya menangis. Namun ia tak bisa berbuat apapun. Dicky menunggu sampai Adel tertidur. Lalu mengecup kening adiknya sebelum meninggalkan kamar dan kembali kekamarnya.
******
Saat sarapan pagi pun terasa dingin, efek dari pertengkaran Ayah dan anak semalam sangat terasa. Bahkan Juan tidak melihat sebelah mata pun kepada adel yang duduk dihadapannya.
"Dua atau tiga hari ini Kakek akan datang kesini," ucap Juan setelah menyelesaikan makannya. Tanpa basa-basi dia langsung meninggalkan ruang makan dan masuk kedalam mobilnya yang sudah terparkir di halaman. Wajah Adellia berubah pucat pasi. Hatinya ciut dan merasa bersalah.
"Seandainya tidak ada dia di antara Papa dan Kakaknya, mungkin hubungan ayah dan anak itu tetap seharmonis dulu," batin Adel.
"Sabar ya, Dek," ucap Dicky sambil mengusap kepala adiknya. Seakan tau apa yang dipikirkan adel.
"Kak, aku mulai hari ini akan ada bimbel intensif buat ujian masuk perguruan tinggi nanti. Jadi aku mungkin pulang agak malam, Kak. Kelasnya dimulai pukul lima sore." Adellia mengalihkan perhatian dengan membuka obrolan lain. Dia tahu kalau kakaknya pasti sangat sedih.
__ADS_1
"Hati-hati dijalan, Sayang. Nanti minta saja supir mengantar mu bimbel." Adellia mengangguk. Dia mengantak kepergian kakaknya kekantor sampai pintu depan rumah. Dia meraih tangan Dicky dan mencium punggung tangannya, lalu Dicky memeluknya dan mencium keningnya.
******