
Hari Sabtu sore, menjelang pukul lima sore, sebuah Alphard putih memasuki gerbang rumah keluarga Reinal Juan Marabahan. Ken turun dari balik pintu kemudi, membukakan pintu tengah. Yudha turun dengan gaya santai nya. Kemeja tak berkancing dengan singlet abu-abu di dalamnya, celana jeans hitam dipadu dengan sepatu kets abu-abu. Tak lupa kacamata hitamnya. Perempuan yang melihat nya pasti meleleh hatinya.
"Anda yakin saya tinggal disini, Pak?"
"Yap, nanti jemput aku dua hari lagi"
"Apa lusa Bapak berniat langsung ke Tokyo"
"Semua berkas sudah selesai. Tinggal tunggu persetujuan dari KBRI dan kementrian saja"
"Semoga mengajuan Bapak bisa di ACC oleh pihak KBRI dan Kementrian. Saya sangat berharap yang terbaik buat anda, Pak"
"Terima kasih, Ken"
"Baik, Pak. Selamat beristirahat"
Ken membungkuk hormat lalu kembali kedalam mobil. Dia ajudan Yudha yang paling setia. Dia paham apa mau tuan nya itu. Dan Yudha pun sudah satu hati dengan nya. Bahkan terkadang Yudha tak perlu lagi memerintah, Ken akan otomatis melakukan semua yang menurutnya harus dia lakukan.
"Yudha ... ", Juan yang berada di ruang tamu terkejut melihat kedatangan anak sulungnya.
"Assalamu'alaikum, Pa"
"Waalaikumsalam ... "
__ADS_1
Yudha langsung mengambil tangan Papa nya, mencium punggung tangannya dan berpelukan.
"Papa, senang kau datang"
"Yudha mampir sebentar, Pa. Lusa Yudha sudah harus kembali kerja"
"Sepertinya pekerjaanmu sangat sibuk ya"
"Yudha hanya mampir beberapa hari ke Indonesia untuk mengurus beberapa dokumen penting. Dimana mereka berdua, Pa?"
"Ooouh, sepertinya mereka ada dilantai atas. Dikamarnya masing-masing"
Yudha pamit untuk menemui kedua adik nya dikamar atas. Dari ujung tangga dia berbelok ke sisi kanan. Sepi sekali pikirnya. Dia mengetuk pintu sebuah kamar. Namun tidak ada jawaban. Yudha membuka pintunya, lalu masuk kedalam kamar.
Yudha membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur besar. Terdengar dari kamar mandi suara shower mengalir.
"Nyaman bener berbaring diatas kasur lembut. Rasanya seluruh syaraf ku kembali rilex"
Tak lama Dicky keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk di pinggang nya, serta selembar handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan rambut nya. Dia menghentikan langkahnya menuju wardrobe. Ia melihat seseorang tertidur diatas tempat tidurnya.
"Kak Yudha"
"Tadi Kak Yudha ketuk tak ada jawaban lalu Kak Yudha masuk saja, rupanya kamu sedang mandi, Dek"
__ADS_1
"Oh.. ga apa-apa kok. Tunggu sebentar Dicky salin dulu, Kak"
"Hmmm...."
Dicky kembali ke wardrobe. Yudha mengambil handphone nya yang diletakkannya di meja. Membuka aplikasi WhatsApp lalu mengirimkan sebuah pesan. Tak lama Adel keluar dari kamar yang berada tepat di depan kamar Dicky. Tanpa mengetuk pintu dia masuk, lalu duduk menyandar pada Yudha.
"Kak Yudha sekilit"
"Eehhh... "
"Kenapa malah nemuin Kak Dicky dulu, aku dilupain"
Hahahhahaha.... Yudha terkekeh-kekeh mendengarnya. Adik bungsunya rupanya cemburu.
"Don't be jealous sweety "
"Diiih... Siapa yang cemburu"
Adellia memonyongkan bibirnya. Lalu Yudha merangkul leher Adel dan merebahkannya di dadanya. Diusap lembut rambut sang adik. Lalu dikecupnya kepala gadis manis itu.
Dicky yang keluar dari kamar ganti dan sudah berpakaian rapi. Dia langsung duduk di atas tempat tidur. Ikut bergabung dengan kedua orang saudaranya itu. Mereka bercanda tertawa bahagia. Dan dari balik pintu Juan menyaksikan keceriaan ketiga anaknya. Hatinya bahagia ketiganya akur sebagai kakak beradik. Namun masih ada yang kurang. Yulia.
******
__ADS_1