Ketika Cinta Itu Datang Lagi

Ketika Cinta Itu Datang Lagi
Saatnya Bercerita


__ADS_3

Cukup lama Dicky menata nafas dan hatinya, mempersiapkan hatinya untuk bercerita. Adellia pun tak jauh berbeda, jantungnya berdebar, kedua tangannya seolah membeku. Perlahan dia juga menata hembusan nafasnya, mempersiapkan hatinya untuk mendengar kenyataannya. "Apa kamu masih ingat saat pertama kali kita bertemu dua tahun lalu, di kota Denpasar?" Adellia mengangguk. Meng-iya-kan pertanyaan Dicky.


"Kamu ingatkan, waktu itu papper bag kita tertukar? Didalam nya aku menemukan poto ini." Dicky mengeluarkan sebuah guntingan poto, terlukis wajah Adellia dan mamanya. Poto yang terselip diantara halaman buku catatan kecil yang ada dalam papper bag yang tertukar itu. Poto itu di ambil saat Adellia baru masuk sekolah asrama.


"Kak Dicky ga mungkin lupa dengan wajah mama, perempuan yang sembilan belas tahun menghilang. Semula Kak Dicky mengira itu hanyalah seseorang yang mirip dengan mama, namun tulisan yang ada dibelakang foto itu sangat mirip dengan tulisan mama. Dan mama dari dulu biasa menuliskan momen yang terjadi di belakang foto." Sejenak Dicky terdiam. mengatir lagi irama nafasnya.


"Akhirnya Kak Dicky memutuskan untuk menyewa seorang detektif untuk mencari tahu kebenarannya. Butuh waktu untuk menyelidikinya dan butuh waktu juga untuk Kak Dicky mempercayai hal itu. Setelah bukti lengkap barulah Kak Dicky percaya. Apalagi setelah Kak Yudha datang menemui Kak Dicky disini."


"Kak Yudha?" tanya Adellia.


"Hmmm ... " Dicky mengambil segelas air mineral di hadapan nya. Meminumnya sampai habis. Keadaan ini membuat tenggorokannya lebih cepat kering dan merasa haus.


"Kak Yudha, mengetahui kalau Kak Dicky melakukan penyelidikan terhadap kalian. Lalu saat itu Kak Yudha datang dan menjelaskan semuanya. Dia meminta Kak Dicky untuk bersabar sampai waktunya."

__ADS_1


"Mama sudah tahu semua ini, bukan?" desak Adel.


"Iya. Setelah itu Kak Yudha bicara dengan mama. Menjelaskan semuanya pada mama." Selanjutnya Adellia paham apa yang terjadi setelahnya. Dia terdiam. Airmatanya menetes dari sela kedua pipinya. Dadanya tersa sesak.


"Jadi .... Saat kalian berada di asrama itu, kalian sudah saling mengetahui kebenarannya. Bukan begitu, Kak?"


"Ya." Angguk Dicky perlahan.


"Bukan begitu maksudnya, dek. Kak dicky hanya ... " Dicky tak meneruskan ucapannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi sembilan belas tahun yang lalu. Katakan padaku, Kak?"


"Kalau hal itu, hanya Kak Yudha dan mama yang tahu. Namun mereka belum mau menceritakanya. Mereka menunggu saat yang tepat." Dicky kembali merubah posisi duduknya. Mencari posisi nyaman baginya.

__ADS_1


"Lalu ... papa?"


"Papa belum tahu. Kak Dicky belum bercerita apapun pada papa."


"Jadi aku ini ... jangan-jangan ... adalah anak yang tak diinginkan. Benar kan?" Adellia berlari keluar, menuruni gedung dan hilang di keramaian jalan raya. Dicky bukan main kaget dan panik. Dia mengejar adik perempuannya, akan tetapi rupanya Adellia sudah keburu menghilang dari pandangannya.


Bukan main panik nya Dicky. Dia seperti orang gila kesana kemari mencari adiknya yang masih sangat emosional saat ini. Berkali-kali ia menghubungi handphone Adel, tetapi tidak ada respon apapun. Puluhan pesan WhatsApp pun tidak di balasnya.


Ya Tuhan, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Adel, apa yang harus dikatakannya pada mama. Pikirannya jadi kacau hampir saja mobilnya menghantam trotoar jalan. Dicky menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Mengatur nafasnya, mengatur hatinya. Dan juga menenangkan fikirannya agar dia tidak salah dalam bertindak. Dia tak mau gegabah. Sekali dia salah mengambil tindakan akan berakibat fatal nantinya. Dia mencoba meyakinkan dirinya kalau Adellia bukan lah tipe wanita yang gegabah dalam bertindak.


Dia percaya bahwa adiknya akan bijaksana dalam mengambil keputusan.


******

__ADS_1


__ADS_2