Ketika Cinta Itu Datang Lagi

Ketika Cinta Itu Datang Lagi
Pertarungan Dimulai


__ADS_3

Perkampungan nelayan dekat pelabuhan, tempat yang jauh dari pusat kota. Tempat yang sederhana dan jauh dari hingar bingar kota. Namun kehidupan disini sangatlah keras. Rata-rata masyarakatnya adalah nelayan ataupun buruh pelabuhan. Kapal-kapal bongkar muat barang silih berganti bersandar di dermaga, puluhan kuli angkut mondar-mandir menaiki kapal, memindahkan karung-karung besar kedalam kapal.


Di salah satu sudut pelabuhan ada sebuah rumah kecil. Rumah berdinding kayu itu hanya memiliki satu ruangan depan dan ruang belakang, dengan kamar mandi di ujung kanannya. Di ruangan depan ada beberapa laki-laki sedang asyik bermain kartu sambil menikmati kacang rebus dan tuak. Asap rokok memenuhi ruangan itu. Suara musik yang sangat kencang mengaung. Disudut bawah jendela ada seorang laki-laki yang tertidur, kemeja kotak-kotak besar nya yang tak di kancing serta jeans usang nya yang sobek di kedua lututnya.


Lelaki itu tak menghiraukan betapa pengap dan hingar-bingar nya ruangan itu. Aroma asap rokok dan minuman keras berbaur jadi satu. Pajero hitam parkir di depannya. Lalu Dicky turun dan memasuki halaman rumah papan itu. Ada dua orang yang sedang asyik duduk dan berbincang di depan terasnya. Lagi-lagi aroma minuman keras tercium dari keduanya.


"Hei! Ada perlu apa kau kesini anak muda?" tanya salah seorang dari mereka.


"Aku mencari seseorang. Namanya Yudha. Aku dengar dia sering kesini." jawab Dicky sopan.


"Yudha?" Dicky memperlihatkan poto di layar ponselnya. "Oo, Bang Iyud," jawab mereka kompak.


"Iya, kalian tau dimana dia?" tanya Dicky lagi.


"Kamu siapa? Ada perlu apa mencarinya?"


"Aku Dicky. Adiknya." Kedua orang tadi saling pandang, seolah tak percaya. Mereka memperhatikan Dicky. Salah seorang dari mereka masuk dan tak lama dia keluar lagi.

__ADS_1


"Masuklah, dia ada di dalam." Dicky menganguk. Dia melangkahkan kakinya kedalam. Melihat kedatangan Dicky, semua yang ada disana terdiam. Melihat kearahnya. Yudha yang tidur di sofapun terbangun. Tanpa dikomando semua yang ada disana membubarkan diri. Seolah tau kalau ada pembicaraan penting diantara mereka berdua.


"Duduklah," kata Yudha sambil menepuk sofa di sebelahnya. Dia melonjorkan badannya, kepalanya bersandar lebih dalam di bantalan sofa. Dicky menghampiri dan duduk disebelahnya.


"Ada perlu apa, Dek?" tanya Yudha dengan mata sendu. Dicky memperhatikan penampilan kakaknya. Matanya merah sekali. Seperti orang yang sedang mabuk. Tapi cara bicaranya normal. Tegas. Dan tidak terlihat kalau sedang mabuk.


"Kak," panggilnya.


"Hmm ... "


"Kak Yudha, baik-baik saja?" Dicky merasa sedikit cemas dengan keadaan kakaknya yang sendu. Tidak seperti biasanya.


Belum sempat Dicky menjawab pertanyaan kakaknya, dari luar terdengar suara mobil berhenti. Lalu Papa nya, Opa Saut dan Tante Jovi muncul di depan pintu. Mereka bertiga terkejut melihat Dicky berada disana. Terlebih lagi aroma asap rokok dan alkohol yang masih mendominasi, membuat mereka menerka yang bukan-bukan.


******


Wajah Opa Saut memerah melihat susana yang ada dihadapannya. Amarahnya tidak terbendung lagi. Dia tak mengira apa yang dikatakan Jovi benar adanya. Paling tidak itulah yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lalukan disini, Dicky!" bentak Opa


"Begini Opa.Dicky hanya mengobrol dengan Kak Yudha," kilahnya berdusta.


"Buat apa kamu bersama orang yang ga bener ini? Lihat apa yang dia lakukan disini."


"Opa mu benar Dicky, kamu harus menjauh dari orang-orang yang bisa merusak masa depanmu nanti." Ucapan Jovi membuat Yudha bangkit dari sandarannya. Hatinya kesal. Ia merasa tidur siangnya di ganggu dengan kedatangan makhluk-makhluk dari planet ngeselin ini. Dia hanya menatap kumpulan orang-orang yang berjejer di depan nya. Dia memandang kearah, Jovi dan tertawa mengejeknya.


"Bisa tidak bicaranya lebih tenang. Ga perlu ngegas begitu. Bikin kepalaku sakit saja." Seringai Yudha membuat Jovi panas. Dia merasa diremehkan oleh pemuda yanga ada di hadapannya.


"Anak tidak tau sopan santun! Kau sadar ga sedang bicara dengan siapa?" bentak Jovi.


"Apa perduliku!" Yudha tak kalah meninggi.


"Kau ini seperti tidak pernah di makan bangku sekolahan saja. Apa begitu cara mu bicara pada orang yang lebih tua?"


"Ooo .... Apa aku harus bersikap sopan pada mu, Jojo!?" Semua yang ada diruangan itu terkejut. Juan, Saut dan Jovi. Mereka memandang tanjam ke arah Yudha. Tidak ada orang lain yang memanggil Jovi dengan sebuatan Jojo. Dari kecil Yudha tidak pernah memanggil Jovi dengan sebutan tante Jovi. Juan sadar bahwa orang yang di hadapannya benar adalah Yudha, anak sulungnya yang menghilang puluhan tahun lalu.

__ADS_1


******


__ADS_2