Ketika Cinta Itu Datang Lagi

Ketika Cinta Itu Datang Lagi
Kedatangan Yang Tiba-tiba


__ADS_3

"Pagi, Pa," sapa Dicky saat turun dari kamarnya dan menuju meja makan.


"Pagi, Dicky. Ayo sarapan sini." Dicky duduk didepan papanya. Dihadapannya ada sepiring nasi goreng dan teh panas. Menu sarapan biasa nya. Hari ini tumben sekali Papa nya belum berangkat. Biasanya dia selalu sarapan sendiri.


"Kemarin, hmm ... perempuan itu temanmu?" tanya Juan memulai pembicaraan. "Hmm ..." Dicky hanya berguman.


"Sepertinya masih muda sekali." Juan masih penasaran dengan mereka berdua. Dia melirik pada putranya.


"Baru naik kelas tiga SMA."


"What?" Juan menghentikan makannya sejenak. Melirik pada anak lelakinya. "Sejak kapan kamu hobby sama anak SMA?" Raut wajahnya kali ini benar-benar terkejut.


"Dia anak baik, Pa. Bicaranya sopan. Sederhana dan juga cerdas. Sayang sekali ... "


"Sayang sekali?? Apa??"


"Dia dibuang oleh orang tuanya. Lebih tepatnya oleh bapak kandungnya." Kali ini Dicky menatap papanya dengan pandangan penuh arti. Dia berharap papanya paham arah pembicaraan ini


"Jadi maksudmu, dia anak yang tidak jelas siapa bapaknya?" Dicky terdiam. Otaknya bekerja memilih kata-kata yang baik untuk menjelaskan pada Papanya.


"Papanya pergi ketika dia masih dalam kandungan. Sekarang dia hanya tinggal bertiga dengan mamanya dan kakak laki-lakinya."


"Sepertinya kamu tertarik dengan anak itu." Dicky tak menjawabnya. Dia menyudahi makannya. Kemudian berpamitan dengan papanya. Dengan gaya elegannya dia sudah siap diatas mobil menuju ke kantornya.


******

__ADS_1


Diruang kerjanya Dicky disibukkan dengan setumpuk berkas-berkas pekerjaan. Perusahaannua berencana membuat kerjasama dengan perusahaan asal Jerman. Tidak mudah untuk menembus pangsa pasar di Jerman. Untuk itu dia harus merencanakannya dengan matang. Suara ketukan pintu yang sopan menghentikan kerjanya, dia menoleh kearah pintu.


Sekretarisnya masuk menghampiri lalu mengambil berkas tadi. Sambil meriksa ulang kembali. "Serahkan ini ke bagian perencanaan."


"Baik, Pak," ucapnya sopan. "Oh iya, Pak. Ada sesorang diluar yang ingin bertemu dengan, Bapak."


"Siapa?"


"Seorang laki-laki. Dia bilang, dia bernama Lintang. Teman Bapak." Sekretaris itu bicara dengan hati-hati. Maklumnya lawan bicaranya adalah presiden direktur muda yang disegani.


"Seingat saya, tidak ada teman yang bernama Lintang."


"Dia bilang, teman kecil bapak. Ada hal penting yang ingin dia sampaikan pada Pak Dicky," jelas sekretaris itu lagi.


"Baik, Pak." Sekretaris pamit keluar. Tak lama dia datang bersama seorang laki-laki bertubuh tinggi, badannya sangat proporsional. Kulitnya bersih. Rambutnya agak panjang, tapi stylish bergaya penyanyi J-Pop. Dia memakai kaos berkerah dan celana jeans hitam. Sepatu kets nya memberi kesan santai tapi trendy.


Penampilannya sederhana, tapi tidak kelihatan lusuh. Cukup enak untuk dilihat.


Dicky memperhatikan orang itu dengan seksama. Rasanya dia tak punya teman seperti itu. Siapa orang ini sebenarnya. Walaupun heran, tapi dengan ramah Dicky mempersilakan tamu nya duduk.


"Hmm .... " Orang itu tersenyum. Matanya mengamati sekeliling ruangan dengan seksama. Sikapnya tenang. Namun terlihat kharismatik dan berwibawa.


"Maaf, Anda siapa? Ada perlu apa dengan saya?" tanya Dicky berhati-hati.


"Sejak kapan?"

__ADS_1


"Eeh?"


"Sejak kapan kamu menyadarinya. Sampai-sampai melakukan penyelidikan khusus untuk itu." Ucapan pemuda itu membuat Dicky berdiri dari tempat duduknya "Maksud Anda apa?" Dicky mulai memasang sikap waspada terhadap lawan bicaranya.


"Adellia."


"Adel?" gumam Dicky. Laki-laki itu menoleh dan tersenyum. Lalu ia bangkit dari duduknya. Menuju jendela ruang kerja CEO. Lalu bersandar dipinggir jendela. Sebelah tangannya dimasukkan kesaku celana.


"Aku hanya tak ingin Adel bersedih. Tak ingin dia terluka jika mengetahui keadaan yang sebenarnya. Mungkin lebih baik seperti ini dulu. Sampai nanti waktu yang tepat."


"Aku tak mengerti maksudnya?"


"Dasar anak nakal. Kamu masih belum kenal aku?" Dicky mengamati orang itu dengam seksama. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tapi tetap saja ia tak mengenalinya. Laki-laki itu kembali ke sofa dan membuka bungkusan plastik yang ia bawa.


"Nih, minum susu coklat."


Dia memberikan Dicky sebotol susu coklat merk milky, susu kesukaannya waktu kecil dulu. Dan sebuah benda bulat yang dibungkus dengan kain batik usang. Dicky terheran-heran menerima benda-benda itu. Dipegang nya botol susu itu. Lalu ia kembali mengamati laki-laki tadi. Berusaha meyakinkan dirinya.


Lalu di buka nya bungkusan itu, dan alangkah terkejutnya ia melihat sebuah bola tenis usang dengan tulisan nama nya di bola itu. Itu adalah bola yang diberikan olehnya untuk kakaknya dahulu. Hadiah kecil yang dibelikan dia saat mereka masih kecil.


"Ka-ka-kamu?" tanyanya terbata-bata.


"Aku?" Laki-laki itu tersenyum "Yudha. Yudha Lintang Marabahan." Bukan main terkejudnya Dicky mendengar nama itu. Nyaris saja meloncat dan berteriak. Namun Yudha lebih dulu menghampiri dan memeluknya.


******

__ADS_1


__ADS_2