Ketika Cinta Itu Datang Lagi

Ketika Cinta Itu Datang Lagi
Pilihan Yang Sulit Untuk Juan


__ADS_3

Ruangan bawah tanah ber-AC itu jadi semakin membuat Juan dingin. Dia menggenggam kedua telapak tangannya, menahan semua perasaannya mendengar cerita Yudha. Rasa bersalah dan penyesalan menyelimuti hatinya. Ada rasa sakit diujung hatinya. Begitu pun dengan Dicky, dia sekuat tenaga menahan tangisnya. Cerita Yudha membuat hatinya teriris-iris. Sebegitu hebat perjuangan kakaknya untuk bertahan hidup. Sementara selama ini dia hidup berkecukupan.


"Kak," panggil Dicky. Dia menatap pada kakak sulungnya itu. "Kakak hebat. Kakak kuat. Tidak salah kalau Dicky bangga punya kakak seperti Kak Yudha. Yudha menepuk-nepuk pundak adiknya. Sekali laki dia memeluk adik cengeng nya itu. Menguatkan hatinya.


Sesaat suasana menjadi hening. Semua orang merenungi lagi kisah yang telah di paparkan tadi. Juan menggeser posisi duduknya. Dia memandang pada anak sulung kebanggaannya itu. "Apa yang kamu lakukan di pelabuhan itu, Yudha? Kenapa Yovi menyebut para preman dan pemabuk itu?" tanya Juan.


Yudha tersenyum. "Itu hanya taktik, Pa. Sebelumnya Yudha tahu rencana Jojo, lalu sengaja Yudha membuat kesan seperti itu. Agar Jojo yakin kalau Yudha ini sama seperti yang lain. Preman dan pemabuk." Dering handphone memecah suasana. Yudha menggeser tombol hijau.


"Halo," sapanya.


"Maaf, Pak Yudha. Saya hanya mengingatkan bahwa pesawat bapak akan berangkat kurang lebih satu jam lagi. Semuanya sudah saya persiapkan, Pak." Kenzo di tangan kanan Yudha selalu melakukan tugasnya dengan disiplin. Tak pernah gagal dalam tugas. Itulah nilai plus Kenzo bagi Yudha.


"Baik. Aku segera kesana." Yudha menutup teleponnya.


"Kak Yudha, sudah mau pergi?" tanya Dicky.

__ADS_1


"Satu jam lagi pesawat Kak Yudha berangkat. Kak Yudha harus ke bandara sekarang." Yudha bangun dari duduknya dan merapikan pakaiannya. Dia mengambil ponsel lalu memasukkan ke dalam saku jasnya.


"Ya, sudah Kak. Dicky antarkan ya?" Dengan cepat Dicky menyambar kunci mobilnya diatas meja. Mereka menuju lantai dasar, kembali melewati lorong dan menaiki anak tangga menuju parkir kendaraan. Kali ini Dicky yang pegang kemudi. Empat puluh lima menit kemudian mereka sudah sampai di bandara. Ken menghampiri Yudha.


Yudha menarik lengan Dicky, dia membawa adiknya menjauh kesudut ruangan.


"Dek, Kak Yudha masih belum yakin dengan kejadian tadi, takutnya akan berimbas dengan keselamatan Adellia. Kalau mama kamu jangan khawatir, ada orang yang kakak tugas kan untuk menjaga keselamatan mama. Tapi Adellia dia harus mengurus kuliah nya di Jakarta. Jadi Kak Yudha pikir akan lebih aman kalau dia tetap tinggal bersama kalian."


"Kalau masalah itu Kak Yudha ga usah khawatir, Dicky akan menjaga Adel dengan baik. Adellia akan tetap tinggal dirumah Papa. Kalau masalah Opa Saut, Dicky rasa dia tidak akan berani lagi menyakiti Adel. Selama ada Dicky, tak akan Dicky biarkan seorang pun menyakiti Adellia." Kali ini Dicky sangat yakin dengan ucapannya. Dia berjanji dengan sungguh-sungguh akan menjaga adik bungsu kesayangannya itu.


"Kak Yudha percaya pada mu, Dek. Mungkin Kak Yudha tidak bisa kembali ke Indonesia dalam beberapa waktu kedepan. Banyak hal yang harus Kak Yudha kerjakan di Jepang."


******


"Pa," panggil Dicky di dalam mobil saat perjalanan pulang. Juan menoleh pada putranya. "Apa yang selanjutnya akan papa lakukan?"

__ADS_1


"Maksudmu?" Juan mengerutkan kedua alisnya.


"Maksud Dicky, apa papa tak ingin memperbaiki hubungan papa dengan mama? Bukankah kita sudah mengetahui kebenarannya, Pa. Dicky sangat senang sekali jika papa dan mama bisa bersama lagi. Terlebih sekarang ada Adellia." Juan hanya terdiam mendengar ucapan Dicky. Dia sebenarnya membenarkan ucapan putra keduanya dan jauh di lubuk hatinya terdalam dia pun ingin bersama dengan Yulia lagi.


"Pa," panggil Dicky lagi. Juan menengok ke arah Dicky, menanti apa yang akan dikatakan Dicky selanjutnya. "Mama juga pasti merasakan hal yang sama dengan apa yang Papa rasakan. Jadi maaf sebelumnya Pa, hanya saja tinggal membuang ego kalian masing-masing. Memulainya lagi dari awal."


"Ya, kamu benar Dicky. Namun Papa rasa papa dan mama perlu waktu untuk kembali menata hati kami berdua. Semoga saja ada jalan terbaik buat masalah ini. Hanya saja ... " Juan tidak melanjutkan ucapannya.


"Hanya saja apa, Pa? Masalah Opa bukan?" Tebakan Dicky kali ini benar. Raut wajah Juan berubah saat mendengar ucapannya.


"Ya," jawab Juan pelan.


"Sepertinya Opa sudah menyadari kekeliruannya, Pa."


"Papa rasa begitu, tapi Dicky, kamu tak paham bagaimana Opa. Dia orang yang punya harga diri tinggi. Ego yang tinggi. Tak akan semudah itu dia bisa menerima kekalahannya." Lagi-lagi raut wajah Juan berubah sedih. Dia tak bekutik di hadapan papi tirinya itu.

__ADS_1


"Papa tidak bisa berbuat apa-apa bukan?" tebak Dicky lagi. Juan mengangukkan kepalanya. Dicky benar. Papinya adalah orang yang paling berjasa bagi hidupnya. Dia tak bisa memilih antara Yulia, perempuan yang ia sayangi ataukah papinya yang sangat dihormatinya. Sebuah pilihan yang berat dan diantara mereka ada Adellia. Putri kandungnya yang selama ini tak pernah di hiraukannya.


******


__ADS_2