
Adellia bukan lah tipe anak yang mau diam saja menunggu kenyataan berbicara dengan sendirinya. Hatinya sangatlah tidak tenang. Terkadang dalam hal ini dia mengambil keputusan sesuai dengan hati kecilnya sendiri. Disaat teman asrama nya mulai berbenah untuk segera pindah, karena mereka sebentar lagi akanelanjutkan pendidikan nya ke tingkat yang lebih tinggi. Biasanya sesudah UN selesai, sisa asrama kelas XII sudah bersiap-siap membenahi barang-barangnya.
Adel hanya menyewa jasa pengepakan dan pengantaran barang. Dia mengirim semua barang-barangnya ke Jakarta. Kerumah Yudha. Karena memang dia berencana mau melanjutkan kuliahnya di Jakarta. Pilihannya sudah mantab untuk berkuliah di Universitas Indonesia, Jakarta.
Hari ini dia mengunjungi bakal calon kampusnya, sendirian. Karena temannya Xena memilih untuk kuliah di Jogjakarta mengikuti kakak tertuanya yang tinggal di sana. Hari perpisahan sekolah kemarin adalah saat terakhir mereka bersama. Selanjutnya mereka menempuh jalan hidup masing-masing. Pelukan erat mereka saat selesai sessi fotografi kelulusan tak kan pernah terlupakan oleh Adel. Teman sepermainan nya sejak SMP.
Puas dia berkeliling kampus ter-top se Indonesia itu sendirian. Hanya menghabiskan waktu saja. Ini kali pertamanya jalan tanpa Xena. Biasanya kalo kmana-mana selalu ada Xena. Pukul dua siang, Adel menikmati makan siang nya di salah satu warung makan sekitaran kampus.
"Mau kemana lagi ya. Bete juga sendirian," gumam Adel
Harus terbiasa dengan susana ibukota, semua serba sendiri. Begini saja sudah merasa bosan pikirnya. Tiba-tiba dia teringat seseorang. Bergegas tangannya meraih handphone yang ada didalam tas kecilnya. Dengan cekatan tangannya memencet layar handphone, memesan salah satu taxi online langganannya. Hanya butuh waktu sepuluh menit, mobil yang dia pesan sudah datang.
Honda Jazz putih itu sudah melaju dengan cepat di jalanan ibu kota, menyusuri komplek perkantoran elite ibukota. Tak lama dia sampai di halaman sebuah kantor. Adellia melangkahkan kakinya menuju lobi hotel, menemui resepsionis kantor, dia menanyakan keberadaan Dicky. Rupanya lelaki yang dicarinya sedang keluar.
"Kak Dicky lagi dimana?"
__ADS_1
Lalu dia menekan tombol bertuliskan 'send". Pesan WhatsApp yang dikirimkannya segera terkirim dan terbaca.
"Baru selesai negosiasi dengan clien, ada apa?"
"Ooo ... ga ada apa-apa, Kak. Aku lagi di lobi kantor Kak Dicky," jelas Adellia.
"Tunggu saja di ruanganku, sebentar lagi sampai kantor kok." Dengan diantarkan seorang security menuju lantai empat, tepat dimana ruang CEO berada. Disana dia dipersikan menunggu.
******
Amplop itu menarik perhatiannya. Entah mendapat ilham dari mana, tangan nya meraih amplop coklat itu. Dibagian depannya tertulis 'Laporan Penyelidikan'
Adel berkali-kali membolak balik amplop itu. Hatinya merasa penasaran, namun ia merasa tidak enak dan tidak sopan menggeledah ruang kerja orang. Dan lagi-lagi keberaniannya muncul, rasa enggan dan sungkannya terkalahkan oleh rasa penasarannya. Dibukalah amplop itu. Dan saat ia menarik lembaran kertas putih dari dalam amplop itu, berhamburan poto-poto dari dalamnya.
"Apa ini? Ini kan ... poto-poto aku dan mama. Apa maksudnya ini?"
__ADS_1
Makin terkejut saat ia membaca isi kertas itu. Itu adalah laporan penyelidikan tentang dia dan mamanya. Dalam pikirannya mulai terlintas ribuan pertanyaan dan saat dia memeriksa kembali poto-poto tadi, ada sebuah poto usang seorang wanita dan seorang anak laki-laki yang berdiri memegang bola kaki di tangan kanannya. Dibalik poto itu tertulis 'Anakku tersayang Dicky Aditya Marabahan'. Wanita yang bersama anak itu adalah .... Yulia, mamanya.
"Anak?" batinnya.
"Ya, Tuhan. Ini tidak mungkin. Tidak mungkin kalo anak ini adalah Kak Dicky. Tidak mungkin kalau mamanya punya anak laki-laki lain. Kenapa dia tak pernah tau? Apa maksud semua ini?" pergulatan batinnya makin menggila menerka-nerka apa yang telah terjadi.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Dicky datang sambil tersenyum pada Adel. Namun dengan cepat Dicky menyadari apa yang telah terjadi diruangan itu. Dia tak bisa berkata-kata. Ada raut kebingungan di wajahnya.
"Apa maksudnya ini, Kak Dicky?" desak Adel. Dicky terdiam. Matanya menatap Adellia dalam-dalam.
"Kak, jelaskan padaku. Apa maksud kertas ini? Poto-poto ini? Juga poto usang ini?",
Adellia menyodorkan poto usang itu kehadapan Dicky. Sejenak Dicky terdiam. Lalu mengambil poto usang itu. Dia merangkul Adel, mengajaknya duduk di sofa.
"Baiklah ... karena kamu sudah melihat poto ini, Kak Dicky akan menceritakan semua yang Kak Dicky tahu padamu"
__ADS_1
******