
Inova silver berplat Jakarta, meluncur ke arah kota Tasikmalaya, Sang Mutiara Dari Priyangan Timur. Untuk beberapa saat mobil itu berhenti dan beristirahat tepat sebelum adzan Dhuhur, kemudian melaju lagi menuju tujuannya. Hingga sebelum matahari terbenam mobil itu sudah parkir di halaman rumah bercat putih dengan halaman yang dipenuhi bunga-bunga. Juan turun dari dalam mobil. Dia bergegas menuju pintu dan mengetukknya. Tak lama datang perempuan paruh baya yang tergopoh-gopoh membukakan pintu. Perempuan itu mempersilakan Juan untuk masuk dan duduk menunggu di ruang tamu.
Juan menunggu dengan gelisah. Berkali-kali ia bangun dan duduk lagi. Lalu melihat ke arah dalam rumah. Kelang sepuluh menit kemudian, keluarlah perempuan berkerudung biru, berusia kira-kira lima puluh tahunan dari dalam rumah.
"Yulia." Juan terkejut melihat siapa yang datang itu. Perempuan itu tak kalah terkejutnya. Untuk berapa lama mereka hanya saling pandang. Seolah meyakinkan apa yang mereka lihat dihadapannya.
"Kak Juan ... Kau... "
"Yulia .... Ini benar-benar kamu atau aku ... "
"Iya, Kak. Ini benar-benar aku. Yulia." Lagi, mereka hanya saling berpandangan. Yulia mempersilakan Juan duduk. Tampak sekali kekakuan dan rasa canggung diantara mereka berdua. Kalau saja mereka jujur dengan perasaan mereka masing-masing, masih ada cinta di antara mereka. Terpancar jelas kerinduan di kedua pasang mata mereka. Hanya saja rasa sungkan dan ego yang merajai hati masing-masing masih bertahta.
__ADS_1
"Kamu apa kabar, Yul?" tanya Juan memulai pembicaraan.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Kak Juan gimana keadaannya?"
"Hmm," Juan tidak menjawab dia hanya mengangguk.
"Bagaimana Kak Juan bisa tahu aku ada disini?" Yulia mulai mengikuti irama laki-laki yang ada di hadapannya. Dia tahu puluhan tahun berpisah membuat mereka saling merasa asing.
"Kedatanganku kesini tentu bukan tanpa alasan. Adellia ada di rumahku bersama Dicky. Dan Dicky sudah menceritakan semuanya."
"Yang aku ingin ketahui bukan itu, Yulia," potong Juan. "Ini tentang Adellia." Wajah Juan mulai terlihat serius.
__ADS_1
"Adel? Adellia Nova Marabahan. Anak perempuan yang aku lahirkan setelah aku terusir dari rumah. Adel adalah anak kandung mu Kak Juan. Saat aku pergi aku sedang mengandung. Aku sama sekali tidak menyadari hal itu."
"Apa kau yakin kalau anak itu adalah anak kandung ku?" Ucapan Juan membuat Yulia membelalakkan matanya. Dia sangat terkejut mendengar ucapan lelaki yang duduk dihadapannya. Nalurinya sebagai seorang perempuan dan seorang ibu terusik mendengar ucapan itu.
"Maksud Kak Juan apa. Jadi kamu meragukan kalau Adellia itu anak kandung mu? Iya!"
"Yah .... Bisa saja kan kau sudah bersama laki-laki lain sebelum nya. Atau ... "
"Cukup Kak! Cukup kau hina aku serendah itu. Aku tidak perduli apa penilaian mu terhadapku. Tapi jika itu mengenai Adellia, aku tidak bisa menerimanya. Kau akui atau tidak Adellia benar-benar putrimu. Dan aku yakinkan bahwa dia tak membutuhkan Papa nya jikalau pun kau tidak mengakuinya. Dia punya aku dan Yudha, kakaknya. Itu lebih dari cukup untuknya." Kali ini Yulia bersikap tegas atas praduga Juan.
"Ya terserah apa katamu. Kepergianmu yang tak pernah kembali itu cukup membuat aku sadar kalau aku telah melakukan satu kesalahan. Jadi tolong paksa aku untuk percaya bahwa anak itu adalah anak kandungku." Juan pergi meninggalkan Yulia. Segera inova silver itu meninggalkan halaman rumah dan menghilang di ujung jalan. Yulia merasa seluruh tulang yang ada dalam tubuhnya itu lenyap.
__ADS_1
Tiba-tiba ia jatuh terduduk dilantai dan menangis sejadi-jadinya. Bukan kedatangan Juan yang ia tangisi, tapi Adel. Adellia harus kehilangan lagi Papanya. Dia sudah bisa membayangkan betapa hancur hati putrinya mengetahui hal itu. Ayah kandungnya tak mengakui dirinya sebagai anak kandungnya.
******