
Yudha menyiapkan nama yang cantik untuk adik perempuannya. Kulitnya begitu bersih, matanya bulat dan bercahaya. Adellia Nova Marabahan. Dia lahir dengan perjuangan hebat sang mama dengan seksio sesarea.
Yudha yang kelak tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, gagah, jago olahraga dan beladiri, dibesarkan oleh seorang kakek baik hati. Kakek itu menyekolahkan dan memberikan pendidikan terbaik untuk Yudha. Memang Yudha termasuk anak yang cerdas. Dia selalu menjadi juara umum disekolahnya. Selain itu dia juga menjadi idola dan pujaan para gadis.
Sementara itu dia sama sekali tak pernah lagi mendengar kabar tentang Papa dan adik keduanya. Sebulan setelah kejadian penculikan itu, Yudha dan kakek pergi kerumah yang dulu mereka tempati. Namun rumah itu sudah dua minggu dibeli oleh pemilik yang baru.
"Mohon maaf, Pak. Rumah ini sudah saya beli dua minggu yang lalu. Dan saya tidak tahu kemana pemilik yang lama pindah." Begitu ucap pemilik rumah yang baru.
Tak habis akal mereka menuju rumah Opa, dan hal yang sama juga terjadi. Rumah itupun kosong. Menurut tetangga Opa sudah pindah mengikuti anak perempuannya yang pindah tugas ke luar kota.
__ADS_1
Juan dan dirinya tidak punya keluarga lain selain mereka. Opa adalah satu-satunya keluarga Juan, sedangkan Yulia anak yatim piatu. Dia anak tunggal dari kedua orang tuanya. Mereka semua sudah kehilangan harapan untuk dapat menemukan Juan dan Dicky di kota ini.
Tak ada lagi jejak yang bisa diikuti oleh mereka. Karena tak ada lagi keluarga yang mereka miliki, kakek membawa Yudha dan mama nya ke Medan.
"Nak, sabarlah. Jangan kamu lupa berdoa pada Tuhan. Percayalah bahwa suatu saat kelak keluargamu akan bisa berkumpul lagi." Ucapan kakek itulah yang terus terngiang-ngiang di telinga Yudha. Dia yakin dan percaya bahwa ucapan itu akan menjadi kenyataan.
******
"Kakek, terima kasih untuk semua yang telah kakek lakukan buat Yudha, mama dan Adellia. Yudha tidak akan pernah lupa kebaikan kakek seumur hidup Yudha. Sekarang Yudha pamit, Yudha ingin mengejar jalan hidup Yudha sendiri. Mohon diikhlaskan segala salah dan dosa Yudha selama ini. Yudha pamit Kek."
__ADS_1
Itulah kata-kata terakhir yang di ucapkan Yudha di depan pusara kakek saat akan berangkat ke Tasikmalaya bersama mama dan adiknya.
"Doa kami selalu untuk, Bapak. Semoga Allah menghadiahkan syurga yang indah untuk bapak. Terima kasih sudah menjaga aku dan anak-anakku," ucap Yulia yang matanya mulai menggenang saat mengenang kembali kebaikan Bapak penolong itu
Taburan bunga memenuhi pusara kakek, doa dipanjatkan di depan pusara kakek baik hati itu. Adel yang baru berumur tiga tahun itu juga ikut berjongkok dan menengadahkan kedua tangannya. Sepertinya dia tak mengerti apa yang terjadi, namun melihat mama dan kakanya berdoa dia pun ikut berdoa dalam hati kecilnya. Yulia menangis memandangi pusara itu.
"Mama, jangan sedih ya. Mulai hari ini kita bertiga harus berjuang lebih keras lagi. Yudha janji akan membuat Mama dan Adel bahagia. Tidak akan pernah lagi menangis lagi." Tekad Yudha benar-benar bulat. Dia mengambil alih posisi sebagai pelindung keluarga, menggantikan Juan.
"Iya Sayang, karena kamu mama jadi lebih kuat. Terima kasih, Yudha." Yulia tersenyum. Yudha memeluk mamanya. Mencoba menguatkan hati perempuan yang telah melahirkannya itu.
__ADS_1
Rumah peninggalan kakek di sumbangkan kepada yayasan sosial untuk dijadikan rumah yatim piatu. Yulia beserta kedua anaknya pergi meninggalkan Medan Selayang menuju Tasikmalaya. Disana dia membeli sebuah rumah kecil yang bisa ditinggali olehnya dan kedua anaknya. Dia ingin memulai hidup baru di tempat yang baru bersama kedua anaknya.
******