
Hari ini cuaca jauh berbeda dengan kemariin. Yudha bersama mamanya berjalan menuju sebuah klinik dokter kandungan. Yap, Yulia ingin meyakinkan hasil tespect-nya tadi pagi. Jadi sore ini dia memutuskan untuk mengeceknya ke dokter kandungan langganannya. Dicky sudah tiga hari menginap di rumah Opa nya. Sampai diruang periksa antriannya tidak begitu ramai, hanya dua atau tiga orang saja. Sambil menunggu antrian dia mengirimkan sebuah pesan untuk Juan.
"Aku sedang di klinik bersama Yudha. Dicky menginap di rumah Papi." Tulis Yulia pada pesan singkat kepada suaminya.
"Baiklah. Hati-hati. Semoga sakitmu lekas sembuh. Love you," balas Juan.
"Love you too, Kak." Yulia senyum-senyum membaca pesan singkat dari suaminya. Yudha yang dari tadi melihatnya bertanya kepada mamanya.
"Mama lagi seneng ya. Ko dari tadi senyum-senyum terus."
"Tentu saja sayang. Mama senaaaang sekali," jawab Yulia sambil memeluk Yudha. Pemuda kecil itu menatap mamanya dengan pandangan heran.
"Kenapa, Ma?" tanya Yudha lagi. Belum sempat Yulia menjawabnya, perawat sudah memanggil namanya. Dia masuk bersama Yudha. Benar seperti apa yang ia perkiraan sebelumnya. Dia hamil. Usia kandungannya masuki 5 minggu. Dokter memberinya obat penguat janin dan beberapa vitamin. Karena Yulia mengeluh suka merasa ingin pingsan dan terjatuh. Yudha yang mendengar ucapan dokter bahwa mamanya akan segera punya anak lagi pun sangat gembira. Berkali-kali ia mengusap dan mencium perut mamanya.
Bahkan sampai tiba dirumah pun dia mengusap-usap lembut perut mamanya. "Adek sayang. Adek cantik .... Jangan nakal ya."
"Eeh? Adek cantik?" Yulia mengerutkan kedua alisnya mendengar ucapan putra sulungnya itu. "Memang adek bayi mu ini perempuan?"
"Iya, Ma. Cantik kayak mama," jawab Yudha Yakin.
"Masa sih?" Yulia tertawa melihat tingkah anaknya. Tapi memang itu yang dia dan Juan harapkan, seorang anak perempuan. Karena kedua kakaknya laki-laki, mereka sangat berharap jika masih diperi kepercayaan lagi maka mereka ingin seorang anak perempuan.
******
__ADS_1
(Tengah Malam)
Yulia terbangun mendengar suara aneh dari ruang tamu. Begitu pun Yudha, dia memeluk mamanya. Dia memberanikan diri untuk melihat keluar. Sepi. Sangat sepi. Tidak ada siapapun disana. Aneh sekali pikirnya. Suara apa tadi. Yudha masih memegang tangan mamanya erat-erat. Tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang membekap mulutnya. Yudha yang melihat itu berusaha menolong mamanya. Dia memukul-mukul orang bertopeng itu. Namun tak lama ia merasakan kepalanya pusing dan ikut tak sadarkan diri.
"Ma ... mama .... Bangun Ma!" Yudha menepuk-nepuk pipi Yulia. Saat ia tersadar dia sudah berada diruangan yang seperti gudang. Di sebelahnya mamanya masih belum sadarkan diri. Yudha merogoh saku celananya, masih ada handphone baru milik mamanya. Sebelum tidur sempat ia ambil dan mainkan. Lalu dia masukkan kedalam saku nya. Handphone model terbaru dengan kamera yang baru nge-trend saat itu. Dia berusaha mencari nomor papanya.
Namun sepertinya jaringan sangat buruk. Tidak ada sinyal dalam ruangan itu.
Dari luar ruangan terdengar suara orang berbicara. Siapa mereka. Namun untuk melihatnya dia merlukan sesuatu untuk memanjat lubang pintu Dia tidak kehabisan akal. Disana ada sebuah tangga lipat. Yudha memanjat dan mengintip dari ventilasi pintu.
"Kenapa kalian malah bawa kesini sih. Kenapa tidak langsung di habisi saja!" tirah seseorang.
"Maaf bos. Kami terburu-buru. Karena panik kami bawa sekalian anaknya," ujar laki-laki bertato itu.
"Mereka sedang pingsan. Kami mengurung nya dikamar."
"Tapi pastikan kalian aman kan? Tidak ada yang melihat kejadian itu, bukan?" Si Bos meyakinkan bahwa kerja anak buahnya rapi.
"Aman bos!"
"Bagus. Sementara biarkan saja mereka disitu. Sampai aku temukan cara untuk menghabisinya." Lalu bos perempuan itu pergi setelah menyerahkan amplop berisi uang kepada para penculik tadi.
******
__ADS_1
(Esok harinya - Melarikan diri)
Saat Yulia tersadar Yudha menceritakan apa yang dia lihat barusan pada mamanya. Yulia terkejut. Dia sepertinya trauma berat. Seluruh tubuhnya gemerar, wajahnya bertampah pias. Rasa mual mulai menyerangnya. Maklum, dia sedang hamil muda. Rasa stress itu cukup membuatnya tidak nyaman.
Yudha melihat sedikit celah saat salah seorang penculik itu masuk dan melemparkan roti pada mereka. Penculik itu lupa menutup pintunya. Saat itulah di gunakan Yudha untuk kabur.
"Ma, Mama harus kuat ya. Demi adek bayi, kita harus keluar dengan selamat dari sini." Dengan berani Yudha membantu mamanya berlari. Tangannya menggenggam tangan Yulia erat-erat.
"Tapi Yudha. Mama takut. Nanti kalo ketahuan mereka akan menjahati mu, Nak," ucap Yulia dengan nafas terengah-engah.
"Tenang saja Ma. Berdoa pada Tuhan. Kita pasti selamat." Dengan mengendap-endap mereka berdua berusaha melarikan diri. Dan akhirnya mereka sampai di pinggiran jalan. Mereka tidak tahu sedang berada dimana. Fajar baru saja terbit saat mereka melewati pinggiran jalan, berharap ada seseorang yang lewat.
Tapi sudah cukup jauh mereka berjalan, hanya semak belukar dan pohon-pohon besar yang ada dikedua sisi jalan. Mereka bergandengan tangan menyebrangi jalan, tiba-tiba sebuah mobil hitam berlari kencang ke arah mereka.
Tubuh Yulia terpental ke kanan jalan dan kepalanya menghantam batang pohon besar. Lalu Yudha yang terlepas dari pegangan mamanya terlempar kesisi jalan berlawanan. Seorang wanita berkacamata membuka kaca mobilnya. Untuk sesaat dia memperhatikan Yulia yang tergeletak dan tidak bergerak. Lalu tanpa dikomando lagi dia buru-buru melarikan mobilnya. Yudha berlari kearah mamanya.
"Ma .... Mama .... Bangun Ma!" Yudha berteriak memanggil mamanya.
"Eng ... Hmm ... Aduuuh." Yulia tersadar dan memegang kepalanya.
"Alhamdulillah ... Mama tidak apa-apa?"
"Yudha ... sukurlah kamu tidak apa-apa Sayang." Yulia memegang perutnya yang terasa sakit. Lalu tak lama dia pingsan di tepi jalan yang sepi itu. Yudha panik melihat keadaan mamanya. Dia menangis dan memeluk mamanya yang tak sadarkan diri.
__ADS_1
******