
(Dukuh Pakis - Surabaya Selatan)
Yudha sudah menghabiskan sarapannya. Mamanya masih terduduk lemas dikamar. Efek hamil muda masih merajai dirinya. Rasa mual dan pusing yang luar biasa sering membuat hari-hari Yulia merasa tidak nyaman. Yudha membawakan sepiring roti bakar, beberapa potong buah dan segelas susu untuk mamanya ke kamar. Sudah dua minggu sejak peristiwa percobaan pembunuhan itu terjadi. Mereka diselamatkan oleh sesorang kakek tua dan sopirnya yang kebetulan melewati jalanan sepi tempat terakhir Yulia tak sadarkan diri.
Kakek baik hati itu langsung membawa Yulia ke rumah sakit. Untung saja tidak terjadi apa-apa pada janin yang dikandungnya. Hanya saja Yulia harus bedrest selama masa kehamilan ini. Dia sama sekali harus istirahat total dari kegiatannya sehari-hari.
"Ma, Yudha bawakan makanan buat Mama." Yudha datang membawakan makanan untuk mamanya.
"Terima kasih, Sayang. Tapi mama ga lapar."
"Mama, sedih?" tanya Yudha. Yulia terdiam. Dia hanya menangis, menjawab pertanyaan anaknya dengan airmata. "Mama, ingat sama Papa dan Dicky ya? Ma, Yudha janji. Yudha akan cari Papa dan Dicky untuk mama. Jadi mama jangan sedih lagi ya. Kasian adek bayi. Nanti dia juga ikut sedih kalau mama sedih." Yudha membelai pipi Yulia. menghapus airmata yang mengalir di pipi mamanya tersayang.
"Yulia, anakmu benar. Kamu harus sehat dan kuat. Demi janin yang ada di perutmu. Jangan lagi kamu pikir kan hal-hal yang bisa membuat kamu dan bayi mu itu dalam bahaya. Ingat Yulia, ada seorang nyawa lagi yang harus kamu jaga didalam perut mu itu. Kamu tidak boleh egois." Kakek tua yang menyelamatkan mereka muncul dari belakang pintu. Dia duduk dan membantu Yudha memotong-motong roti yang dibawanya. Lalu Yudha menyuapi Yulia.
"Aku rindu pada putraku Dicky. Dia ada dimana sekarang. Dia masih begitu kecil dan lucu. Kasihan dia." Lagi-lagi Yulis terisak.
"Sudahlah Nak, jangan lagi kamu larut dalam kesedihan. Kamu harus berjuang untuk Yudha dan adik bayinya nanti. Bapak akan berusaha membantumu menemukan kembali suami dan anak keduamu. Bersabarlah."
"Makan yang banyak, Ma. Nanti kalau adek bayi sudah lahir, kita akan cari papa dan Dicky. Yudha janji, yudha akan cari mereka." Yudha yang baru berumur sepuluh tahunlebih itu seolah tahu akan artinya tanggung jawab sebagai seorang anak sulung, anak laki-laki. Dia meyakinkan mamanya bahwa dia akan menemukan papa dan adiknya kelak.
"Kamu anak yang baik, Yudha. Alangkah bahagianya mama mu punya anak yang hebat dan berbakti seperti kamu. Kakek bangga sama kamu." Kakek itu mengusap-usap kepala Yudha yang tersipu-sipu mendengar pujian kakek itu. Yulia pun tersenyum melihat tingkah anak sulungnya. Ada sedikit rasa lega di hatinya. Paling tidak ada Yudha dan bayi yang dikandungnya saat ini yang menjadi penguatnya sekarang.
__ADS_1
******
(Medan Selayang - Medan)
"Mama belum tidur?"
"Belum, Sayang. Kamu kok belum tidur. Ini sudah malam loh. Besok kamu terlambat sekolah." Yulia menggeser posisi duduknya.
"Belum ngantuk, Ma. Yudha mau ngobrol dulu dengan adek bayi."
"Eh, kamu ini ada-ada saja. Adek bayinya sudah bobok lo, Kak?" Yudha mendekat oada mamanya. Dia duduk bersisian dengan mamanya di atas tempat tidur. Sambil tersenyum Yudha menempelkan telinganya pada perut mamanya, lalu seolah berbisik pada bayi yang ada di dalamnya.
"Jangan bobok dulu dong, Dek. Masa Kak Yudha datang kamu bobok sih," kata Yudha sambil mengusap perut mamanya.
"Yudha sudah tidur?" tanya Kakek. "Sudah, Pak. Baru saja." Yulia bangun dari duduknya lalu menghampiri kakek di sofa.
"Yulia, bapak minta maaf ya. Sampai saat ini belum bisa menemukan suami dan anak kamu."
"Aah, udahlah, Pak. Tidak usah dipikirkan. Aku pikir, benar kata Yudha. Kalau ada umur, suatu saat kami pasti bertemu lagi." Yulis mulai terlihat pasrah akan nasibnya. Dia lebih tenang dari sebelumnya.
"Hmm .... Yudha itu anak yang cerdas. Walaupun terkadang ucapannya terkesan asal-asalan, tapi dia ada benarnya juga. Bapak harap kalian segera berkumpul kembali."
__ADS_1
"Aamiin ... Yulia juga mau mengucapkan terima kasih sama bapak, karena kalau saja waktu itu Bapak tidak menolong kami. Entah bagaimana nasib kami. Bapak begitu baik, membantu mencarikan Kak Juan dan Dicky. Bapak juga mau merawat ku yang sedang hamil begini. Menyekolahkan Yudha dan membawa kami ketempat yang aman dan nyaman ini." Sejak pencarian Juan dan Dicky gagal Yulis ikut ke Medan bersama bapak baik hati itu. Yudha pun senang bersamanya, seolah seperti kakek kandungnya sendiri.
"Sudahlah. Tak usah kau pikirkan. Kamu dan Yudha sudah bapak anggap anak dan cucu kandung bapak sendiri. Sejak cucuku meninggal dunia dua tahun lalu, bapak merasa tidak ada gunanya lagi aku hidup. Tapi setelah bertemu dengan Yudha, bapak merasa cucu bapak hidup kembali. Yudha sudah mengembalikan keceriaan dirumah ini."
"Terima kasih, Pak," ucap Yulia lagi.
"Ya sudah, kamu juga harus istirahat. Ingat apa yang dikatakan dokter jaga bayi yang ada dalam kandungan mu."
******
Kehidupan Yulia dan Yudha berjalan senormal yang lain. Menantikan saat-saat melahirkan membuat Yudha begitu antusias menyambut adik barunya. Sepulang sekolah Yudha berteriak kegirangan dan saat Kakek memberi tahu kalau adiknya sudah lahir.
"Perempuan ya, Kek? Cantik ya?" cerocosnya.
"Iya adik mu perempuan. Dia cantik sekali. Percis seperti mama mu," jelas Kakek.
"Hore .... " Yudha berlari-lari di ruang tamu. Dia kegirangan karena apa yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Seorang adik perempuan. Dia sangat tidak sabar ingin bertemu adik barunya. Tapi kakeknya mengatakan bahwa mereka akan menengoknya pada sore hari nanti.
Yudha masuk kekamarnya, membersihkan diri lalu mengerjakan PR. Seperti kebiasaan yang ia lakukan setiap hari. Sejenak dia berhenti menulis dan mengambil kotak sepatu yang ada di laci lemari nya. Didalamnya ada sebuah bola tenis. Disitu tertulis nama 'Dicky'. Bola itu pemberian adiknya, Dicky, saat Dicky baru belajar menulis namanya di bola tenis itu. Dia memberikan bola itu pada Yudha sebagai hadiah.
"Kapan kita ketemu lagi, Dek. Kak Yudha kangen sama kamu." Dia yakin suatu saat dia akan bertemu lagi dengan adik cengeng nya itu. Dia kembali menyimpan bola itu dengan rapi dalam lemari kamar nya. Lalu melanjutkan belajarnya.
__ADS_1
******