
Pagi hari diruang perawatan 412, beberapa perawat menganti botol infus dan melakukan pengecekan terhadap pasien. Selang oksigen dan jarum infus masih melekat di tubuh pasien. Dicky yang sudah mencuci mukanya duduk di tepi tempat tidur setelah para perawat pergi.
"Opa, cepat sembuh ya. Biar kita bisa berkumpul lagi sama-sama", bisik Dicky di telinga Opa nya.
"Kak ... "
"Hmm...."
"Lapar ...", Adel yang baru keluar dari kamar mandi memegang perutnya yang lapar.
Dicky tersenyum. Lalu berjalan mendekati Adellia.
"Tunggu disini sebentar, Kak Dicky cari sarapan dulu ya, sayang"
"Iya, Kak"
Dicky meninggalkan adiknya di ruangan seorang diri. Selang beberapa lama dia sudah kembali dengan dua box nasi uduk dan dua botol air mineral
Mereka berdua duduk di sofa menikmati sarapan darurat nya dirumah sakit.
"Kak, nanti Adel pulang dulu sebentar. Sore hari Adel datang lagi kesini. Kakak mau dibawakan apa?"
"Tolong bawakan baju ganti ya"
__ADS_1
"Oke ... !!"
******
Cekreeek ....
Juan muncul di depan pintu bersama dokter Andreas. Dokter Andreas adalah sahabat Juan dan Yulia di SMP.
"Mana Adellia?", tanya dokter Andreas pada Dicky.
"Dia sudah pulang tadi pagi, Oom. Nanti sore dia kesini lagi"
"Hmmm.. aku senang melihat kalian akur seperti itu, Juan. Akhirnya keluargamu bisa utuh lagi. Cuma sayang sekali ... "
"Seandainya Amel bisa bertahan hidup. Pasti dia juga sudah sebesar dan secantik Adellia ya"
"Amel? Siapa dia, An?"
" Eeh... Jangam bilang kamu tidak tahu siapa Amel? Apa Yulia tidak bercerita pada kalian?"
"Tidak. Katakan padaku. Ada apa sebenarnya"
"Amellia adalah saudara kembar Adellia"
__ADS_1
Juan dan Dicky saling berpandangan. Mereka sangat terkejut mendengarnya. Baik Yulia ataupun Yudha tidak menceritakan hal itu. Entah mungkin mereka tak punya kesempatan untuk bercerita barangkali.
"Dulu saat aku bertugas di Medan, aku bertemu Yulia. Saat itu dia akan masuk ruangan operasi untuk menjalani operasi sesar. Waktu itu seorang rekan ku yang menangganinya"
"Yulia melahirkan sepasang putri kembar. Namun salah satu bayinya kondisinya tidak baik. Tubuhnya dingin dan membiru. Bayi yang dikeluarkan kedua itu mengalami sesak nafas. Sebulan dia berada di inkubator untuk membuat warna tubuhnya normal"
"Sementara bayi yang di angkat pertama sehat. Normal. Dia diberi nama Amellia. Sedangkan yang kecil diberi nama Adellia. Kondisi jantung nya sehat. Hanya saja mungkin disebabkan kondisi psikologis ibu nya saat hamil. Serta kurang nya asupan makanan yang bergizi saat kehamilan"
"Lalu? Bagaimana bisa salah satu bayi itu meninggal, An?"
"Bayi Adellia berada di dalam inkubator selama satu bulan. Kondisi tubuhnya waktu itu tidak sekuat dan sesehat bayi Amel. Amel tumbuh sehat, lincah dan gemuk. Namun sebaliknya dengan Adellia. Dia gampang sekali sakit"
Seisi ruangan tertegun mendengar cerita dokter Andreas, Juan merasakan ada yang sakit dan sesak di salah satu sudut hatinya. Pilu rasanya mendengarkan penderitaan putrinya itu.
"Tepatnya saat si kembar berumur tujuh bulan, Adel kembali masuk ruang perawatan. Demam tinggi dan muntah-muntah. Selang-selang infus dan oksigen dipasang di tubuh kecilnya. Selang tiga hari kemudian Amel pun jatuh sakit"
"Suhu tubuhnya yang tinggi membuat bayi Amel kejang. Dan ... Dan dia tak bertahan lama, empat jam berikutnya dia sudah tak dapat tertolong. Namun keajaiban terjadi pada Adellia, beberapa hari kemudian kondisinya berangsur baik. Bahkan sampai sekarang tak pernah lagi ada keluhan darinya"
"Amel seolah memberikan sisa hidupnya pada Adellia, kembarannya. Keajaiban yang berada diluar nalar manusia, hanya kuasa Tuhan yang bisa begitu. Makanya sampai sekarang Yudha sangat protektif terhadap adik perempuannya"
Juan merasakan lemas pada seluruh tubuhnya, hatinya seperti disayat-sayat mendengar cerita itu. Rasa bersalah telah menelantarkan putri bungsunya semakin membebani hatinya.
******
__ADS_1