
Wajah Jovi sudah merah padam, meladeni Yudha yang masih dengan tenangnya duduk di sofa sambil mengangkat kakinya keatas meja. Dia bersandar lebih dalam di sofa emuk itu. Yudha bersikap masa bodoh dengan rombongan orang-orang yang menyambanginya itu. Melihat sikapnya begitu, Opa Saut tak terima. Dia tak kalah galaknya dari anak perempuannya itu.
"Sudah lah, dari pada teriak-teriak seperti itu, lebih baik Opa pulang saja. Istirahatkan jantung Opa nanti takut ga kuat menerima kenyataan." Kali ini ucapan Yudha cukup membuat tensi darah Saut meninggi. Dia tak terima di perlakukan begitu.
"Dasar anak kurang ajar kau! Kamu mendoakan aku cepat mati!?"
"Eh? Apa Yudha bilang begitu tadi?" Yudha tertawa terkekeh-kekeh, Opanya mudah sekali disulut emosinya. Kakek tua ini tidak berubah, pikirnya. "Nah, Jojo kau mau menyerah atau aku paksa," ancam Yudha.
"Jangan mengancamku. Kau pikir aku takut. Anak kecil tahu apa kau!" Tiba-tiba ada sekelebat bayangan yang memecah diantara Yudha dan Dicky. Dengan sigap Yudha menarik tangan adiknya, hingga Dicky terduduk dikursi. Yudha berlari keluar mengejar seseorang yang melemparkan sebilah pisau dan nyaris melukai Dicky.
__ADS_1
Kejar-kejaran sepeda motor di area pelabuhan yang sepi itu berakhir saat Yudha berbelok arah, memotong jalan dan muncul dihadapan pengendara tadi. Tanpa ragu Yudha menabrakkan motornya. Lagi-lagi dengan sigap, beberapa detik sebelum motor itu bertabrakan Yudha sudah melompat dari motor.
Pengendara motor itu terjatuh. Yudha segera melepas dan membuang helmnya, menghampiri pengendara itu dan mencengkram leher bajunya. Tak terima diperlakukan seperti itu, laki-laki itu melayangkan bogem mentahnya kearah Yudha. Perkelahian tak terelakkan lagi.
"Kak Yudha, awas!" teriak Dicky yang datang mengejarnya.
Sreeet .... Darah segar mengalir dari lengan kiri Yudha. Dia tadi sedikit lengah hingga dengan cepat sebilah pisau mengenai tubuhnya. Yudha melepas kemejanya. Kali ini dia benar-benar akan bertarung dengan serius. Kaos singlet nya yang ketat makin menunjukkan otot-otot nya yang kekar. Dadanya yang bidang pun terlihat jelas. Pastinya itu berkat latihan yang lama. Yudha dari dulu terkenal jago karate.
"Kak Yudha, ga apa-apa? Tangan Kak Yudha terluka."
__ADS_1
"Ga apa-apa, Dek. Ini cuma luka kecil." Tak lama datang mobil polisi dan turunlah beberapa orang berseragam mengepung tempat itu. Seorang laki-laki berseragam polisi menghampiri mereka. Beberapa lainnya dengan sigap memegang tangan Jovi dan laki-laki penyerang tadi. Jovi berontak, dia tidak terima diperlakukan begitu.
"Ibu Joviana anda kami tahan atas kasus percobaan pembunuhan, 18 tahun lalu, serta penyerangan yang menyebabkan korban dan juga kasus menjualan obat bius ilegal."
"Apa-apaan ini? Saya tidak bersalah. Kalian salah orang. Lepaskan!" Jovi mencoba berontak.
"Bawa dia!" titah komandan polisi. Namun Saut mencoba membela putrinya. Dia hendak bernegosiasi dengan aparat.
"Tunggu dulu pak polisi. Apa maksud semua ini. Jelaskan padaku. Apa kalian punya bukti untuk menangkapnya?" cegah Saut.
__ADS_1
"Bukti-bukti kami sudah sangat kuat pak. Untuk lebih jelasnya kalian semua bisa ikut kami kekantor." Para polisi menyeret Jovi kedalam mobil patroli, namun tiba-tiba saja Jovi memulul opsir polisi yang membawanya. Lalu dia berlari ke arah sebuah mobil. Dengan kecepatan maksimum dia menginjak gas mobil itu kuat-kuat. Polisi yang berada disitu dengan cepat mengejarnya. Mereka tak ingin kehilangan buronannya begitu saja.
******