
Hari terakhir, hari bebas pun tiba. Pukul sembilan pagi, sebagian anak-anak sudah pada pergi ketujuan mereka masing-masing. Adellia pun sudah rapi berdiri di lobi hotel menunggu seseorang. Sederhana. Baju kaos tunik polos panjang sepaha berwarna salem dengan bawahan celana jeans hitam dan hijab sederhana senada dengan baju nya. Tas selempang motif batik berwarna coklat melingkar di bahu kirinya.
Tak berapa lama terlihatlah mobil fortuner hitam berhenti tepat didepan nya. Saat kaca mobil dibuka, Adel tersenyum pada lelaki yang mengendarainya. Dicky. Lelaki tampan dan mapan yang ia kenal setahun lalu di kota Denpasar. Dicky turun dari belakang kemudi lalu membukakan pintu untuk Adel. Tak lama mobil itu sudah melaju dengan riang di jalan raya ibukota.
"Kita mau kemana, Non?" tanya Dicky sopan. Seperti seorang supir bertanya pada nona mudanya.
"Hehe ... terserah pak supir aja deh," kelakar Adel menyambut gurauan Dicky.
"Mampir kerumahku yuk?" ajak Dicky. Laki-laki tampan itu mulai memberanikan diri.
"Eh? Kerumah Kak Dicky?"
"Iya, biar nanti kapan-kapan kamu kesini tidak nyasar. Dirumah ga ada siapa-siapa kok." Dicky memgemudikam mobilnya denga. kecepatan konstan dan santai. Rona bahagia terpancar dari wajahnya.
"Kalo dirumah tidak ada siapa-siapa aku takut. Nanti Kak Dicky nakal." Mendengar ucapan Adel, pecahlah tawa lelaki tampan itu. Anak ini polos sekali pikirnya.
"Tenang saja, aku ini lelaki baik-baik ko. Anak soleh loh."
__ADS_1
"Ah, masa iya, Kak?" ledek Adel.
"Dijamin. Suwer," kata Dicky sambil menunjukkan jari berbentuk huruf "V"
"Kak Dicky hari ini gak kerja?" Adel mulai pembicaraan lebih dalam terhadap Dicky. Pengusaha muda itu menanggapi semua pertanyaan Adel dengan tenang dan penuh senyaman ramah.
"Bolos." Dicky menjawab dengan santai.
"Dih, bolos. Mana ada cerita Bos ko bolos, secara perusahaan kan punya Kak Dicky."
"Siapa bilang. Aku juga di absen ko. Diabsen sama Papa." Mereka berdua tertawa. Rasanya baru setahun lalu mereka bertemu. Tapi mereka sudah sedekat dan seakrab ini. Seperti seorang kakak dan adiknya.
Mata Adel tertuju kesalah satu sudut, dimana ada sebuah meja bilyard. Adel beranjak menuju kesana. Dicky pun mengikutinya. "Kamu bisa maen, Del?" tanya Dicky.
"Bisa. Dulu pernah diajarkan Kak Yudha."
"Kak Yudha itu kakak mu?" tanya Dicky sambil mengambil stick dan menyusun bola dimeja. Dia memulai permainan. Dengan sekali sodok berhamburanlah semua bola diatas meja.
__ADS_1
"Kak Yudha kakak tertuaku. Selisih umur kami cukup jauh. Lima belas tahun." Tembakan Adellia di atas meja bilyard juga bukan remeh. Perempuan muda itu cukup lihai bermain.
"Hmm, cukup dewasa. Lalu adikmu?" Walaupun santai tapi Dicky fokus menyelidiki lawan mainnya itu.
"Aku bungsu. Dari tiga bersaudara. Kakak keduaku entah dimana keberadaannya. Dicky menghentikan bidikannya saat mendengar cerita Adel. Wah, sama percis dengan apa yang dilaporkan detektif itu pikirnya. "Kemana dia? Oh, maaf kalo kamu mau berbagi cerita denganku."
"Sejak kecil aku tidak pernah ketemu dengan nya. Karena kami terpisah sejak aku belum lahir. Begitu juga dengan Papa. Jadi Kak Yudha dan mama terpisah dengan papa dan kakak kedua ku saat mama sedang hamil aku."
"Jadi, tidak pernah bertemu sama sekali?"
"Iya," jawab Adel singkat.
"Sampai sekarang?"
"Hmm, melihat poto mereka aja aku ga pernah, Kak." Mereka meneruskan permainannya sambil bercanda ria. Dicky merasa Adel adalah tipe perempuan sederhana yang cerdas dan menyenangkan. Adel pun merasa Dicky adalah lelaki yang baik yang bisa mengayomi, sama seperti Kak Yudha. Serius tapi humoris. Seperti tumbuh ikatan batin diantara mereka.
Tanpa mereka sadari, Juan, papa Dicky yang baru saja sampai dirumah memperhatikan mereka berdua. Agak mengherankan baginya. Maklum Dicky tidak pernah bercerita tentang teman perempuannya, apalagi mengajak teman perempuannya main kerumah. Suatu kemajuan besar pikir nya.
__ADS_1
******