
Hari terakhir ujian. Semua anak berkumpul di lapangan sekolah untuk pengarahan dari kepala sekolah. Boleh dikatakan hari ini adalah hari 'kemerdekaan' siswa kelas XII, ujian nasional telah usai, artinya terbebaslah mereka dari beban belajar. Tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Dan kabar gembiranya mereka akan berada di rumah sampai hari pengumuman itu tiba. Sorak-sorai menyambut gembira pengumuman dari kepala sekolah. Seakan mereka baru terbebas dari penjara kecil yang bernama ujian nasional.
Menjelang sore hari, sekolah mulai sepi. Hanya beberapa anggota OSIS yang akan mempersiapkan acara perpisahan bagi kakak kelas mereka. Disalah satu sudut sekolah juga ada beberapa anak yang sedang berlatih untuk pengisi acara nya. Ruang seni pun dihadiri beberapa orang siswa seni yang juga akan tampil dalam acara tersebut.
Sementara di sudut lain sekolah, dipelataran masjid sekolah, Adellia dan Xena sedang duduk disana. Seusai sholat asar mereka sedikit meluruskan kaki nya di teras masjid sekolah.
"Adel .... Del ... Adellia .... " Suara Xena membuyarkan lamunan Adel. "Ada apa, Del?" tanyanya lagi Adel hanya menggeleng
"Masa? Kamu baik-baik saja? Kamu ada masalah apa, Del?" Lagi-lagi Adel menggelengkan kepalanya. "Ga ada apa-apa ko, Xen. Aku hanya terlalu lelah dan stress aja menghadapi UN kemarin," jawab Adel berbohong.
"Iish ... kamu menganggap remeh Xena, jangan bohong Del."
"Hehehe, iya mbah dukun. Sotoy banget deh kamu Xen."
"Hmm, ini pasti ada hubungannya dengan Kak Dicky, CEO ganteng itu ya?" Tebakan Xena kali ini nyaris mengenai sasaran.
__ADS_1
"Ganteng. Ganteng, aja yang kamu inget, Xen."
"Memang dia ganteng kok. Badannya atletis, kulitnya bersih, senyum nya alamak ... cewek mana yang ga klepek-klepek dibuatnya. Ditambah lagi dia seorang CEO, masih muda dan single lagi." Paparan Xena tentang Dicky sangat sempurna. Adel hanya tersenyum saja melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Apa istimewanya?" tanya Adel polos.
"Iih ... Kamu tu lugu apa **** sih, Del? Dia itu sangat sempurna sebagai seorang laki-laki. Semuanya ada. Kecuali istri. Andaikan dia mau berpaling padaku ... Aku rela tinggalkan Rio." Kali ini celotehan Xena membuat Adel terbahak-bahak mendengar hayalan tingkat tinggi Xena. Sangat tidak mungkin seseorang yang di bilang 'sempurna' itu mau dengan gadis yang belum tamat SMA. Xena bukanlah tipe Kak Dicky, paling tidak itu yang ada di pikiran Adel.
"Ngomong-ngomong ada apa dengan si ganteng itu?" tanya Xena. Adel mengatur nafasnya. Mempersiapkan diri untuk menjelaskan sesuatu pada Xena.
"Dia, mama dan Kak Yudha sepertinya saling kenal. Okelah kalau Kak Yudha, sama-sama lelaki."
"Beberapa hari lalu, sebelum kita UN, aku mendapati mama dan Kak Dicky berdua di food court mall." Adel merubah posisi duduknya.
"Maksudmu? Mereka berdua terlihat mesra-mesraan berdua begitu. Kayak tante-tante simpanan brondong?" Adel membelalakan mata mendengar ucapan, Xena. Xena yang sadar akan ucapannya yang salah dan pastinya sahabatnya itu tidak suka dengan ucapannya, langsung minta maaf.
__ADS_1
"Amit-amit kalau mama seperti itu. Aku kenal banget mamaku seperti apa. Ini di depan Kak Dicky dia begitu bahagia sampai-sampai menangis diperlukan laki-laki itu. Wajahnya tampak begitu bahagia. Entah kenapa. Yaaa... Aneh aja Xen. Ada hubungan apa mereka berdua?"
"Kamu ga berusaha untuk tanya dengan mama mu, Del?" tanya Xena. Adellia menggelengkan kepalanya. "Aku ingin membuktikannya sendiri. Aku akan cari tahu sendiri."
"Atau ...." Xena menghentikan ucapannya. Adel menoleh pada gadia muda yang duduk disebelahnya. "Atau apa? Iiih, apa sih? Atau apa?"
"Maaf ya, atau kamu ini sedang cemburu karena Kak Dicky dekat dengan mamamu?" Sejenak Adellia terdiam lalu dia terbahak-bahak nyaris tersedak mendengar ucapan Xena.
"Siapa? Aku? Cemburu?" cecar Adel.
"Hmm, bisa jadi!"
"Ga mungkin dong Xena. Kak Dicky memang baik padaku, sangat perhatian bahkan cendrung protective, tapi semua aku anggap biasa aja. Karena dia teman Kak Yudha, kakakku, ya aku pun anggap dia kakakku sendiri."
"Nah, kalau sebaliknya. Kak Dicky beneran suka sama kamu gimana?"
__ADS_1
"I don't know and i don't care." Adel menarik tangan Xena. Mengajak nya pulang. Matahari sudah mulai memerah di ujung langit. Pak Kadri, si penjaga sekolah pun sudah akan menutup gerbang sekolah. Dan siswa lainnya sudah tak tampak lagi di sekolah. Mereka bergegas menuju gerbang. Dan berpisah di depan gerbang sekolah menuju rumah masing-masing.
******