Ketika Cinta Itu Datang Lagi

Ketika Cinta Itu Datang Lagi
Hari Keberangkatan


__ADS_3

(Di Kamar Asrama)


Suasana asrama masih sepi di minggu pagi ini. Matahari yang malu-malu bersembunyi dibalik awas tipis pagi ini. Tak terasa sudah mau akhir tahun pelajaran saja, rasanya baru kemarin dia menghabiskan waktu berlibur ke Denpasar bersama rombongan sekolah pada saat libur kenaikan kelas, dan sekarang sudah kenaikan kelas lagi. Waktu terasa berlau begitu cepat. Jarum jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Adel sedang bermalas-malasan di atas tempat tidur. Besok dia dan rombongan dari bidang seni akan berangkat ke Gedung Kesenian Jakarta untuk mengikuti lomba seni. Dia akan berada disana selama 4 hari. Sebenarnya lombanya hanya 3 hari, hari terakhir hari bebas. Bisa digunakan untuk berkeliling ataupun shoping.


Ketukan pinti halus membuat Adel mendekat kearah pintu. “Del," Xena menyerobot masuk


“Dih, Pagi amat datengnya?”, ledek Adel nyengir


“Habis jogging, sekalian aja mampir. Duh, aku lapar nih.” Xena dengan cepat tanpa dikomando menggeledah isi kulkas, disana ia menemukan susu murni. Tidak ada camilan. Matanya tertuju plastik mini market putih diatas meja belajar. Dibukanya segera dan ternyata banyak camilan. Keripik kentang kesukaannya, coklat, cracker dan beberapa potong roti. Rezeki nomplok pikirnya.


“Waduh, itu buat camilan kita di mobil besok," protes Adel dan sahabatnya itu sepertinya sudah sangat kelaparan, dilantaknya roti dan keripik kentang serta sebotol susu. Dia tidak perduli Adel yang sudah mengomel melihat kelakuannya, yang penting perutnya tidak lapar lagi.


“Apa gunanya jogging kalau habis jogging makan mu kayak orang kerasukan. Apa kabar tu lemak-lemak yang dibakar tadi.”


“Kabar baik." Xena nyengir


“Pokoknya kamu harus tanggung jawab. Temani aku belanja lagi nanti.” Adellia sewot melihat sikap cuek Xena. “Oke Bos!! Terserah apa katamu. Aku sudah kenyang.” Xena menepuk-nepuk perutnya sambil tertawa.


“Jangan terlambat besok pagi. Jam enam pagi kita harus sudah berkumpul di lapangan sekolah. Aku tinggal kalau sampe kamu terlambat.”

__ADS_1


“Iya, bawel amat sih kayak emak-emak.” Xena memonyongkan bibirnya mendengar celotehan Adellia yang selalu memperingatkannya untuk tidak terlambat datang.


“Soalnya kamu tu lelet, Xen. Kamu bisa cepat kalo berurusan dengan makanan. Tuh, contohnya tadi.” Adel baru saja hendak menjelaskan namun Xena sudah terbahak dibuatnya. Hahaha. Xena terbahak-bahak sambil menganguk-anggukan kepala tanda menyetujui ucapan Adel. Mereka sudah bersahabat dari SMP. Waktu itu Xena tinggal di kampung bersama kakek dan neneknya. Setelah lulus mereka berdua hijrah dan masuk disekolah yang sama. Cuma bedanya Xena sekarang tinggal bersama kedua orangtuanya, sedangkan Adel tinggal di asrama. Bukan saja berbagi makanan, tapi juga mereka acapkali berbagi suka dan duka. Walaupun banyak perrbedaan di antara mereka, namun entah kenapa mereka cocok satu sama lain, Xena yang tipikal anak ceroboh, manja dan agak sedikit 'centil', dia fasih sekali mengaplikasikan kosmetik dan sangat jago bila berdandan.


Sedangkan Adel, walaupun keliatannya pendiam namun sebenarnya dia sangat cerewet dan ramai, terlebih lagi jika dengan orang-orang yang dekat dengannya. Agak sedikit tomboy walaupun kesan judesnya ada. Yang menyamakan mereka hanyalah sama-sama anak bungsu dan mempunyai kakak laki-laki.


******


(Halaman Sekolah)


Pukul enam kurang lima belas pagi. Xena belum menunjukkan batnang hidungnya, Adel yang sejak tadi menelponnya mulai merasa kesal. Tidak ada respon dari sahabatnya itu. Semua siswa yang diutus untuk mengikuti perlombaan itu sudah berbaris di samping bus yang akan mengantar mereka. Pukul enam kurang lima menit, kepala sekolah sudah memberikan pengarahan didampingi oleh Pembina OSIS serta Waka Kesiswaan. Dan Xena belum muncul juga.


******


(Gedung Kesenian Jakarta)


Setelah melakukan registrasi, tim sekolah mereka langsung berpencar menuju cabang lomba masing-masing. Acaranya cukup meriah, banyak sekolah-sekolah yang memiliki siswa hebat. Tapi mereka antusias dan optimis membawa pulang piala untuk sekolah mereka.


Adel mempunyai kualitas vocal yang bagus, bakat itu diturunkan dari sang mama yang merupakan penyanyi Kafe di Surabaya dahulu. Dia juga bisa memainkan beberapa instrument musik. Xena yang sama sekali tidak tertarik dengan seni terlebih musik, mulai merasa bosan. Dia ikut serta datang keperlombaan hanya karena perwakilan OSIS dan juga karena Rio pacarnya yang merupakan peserta. Dia ingin mendukung lelaki pujaannya.

__ADS_1


“Siapa suruh kau ikut?" ucap Adel melihat Xena yang mulai bosan dan menguap berkali-kali.


“ Idih, sewot aja. Ini kan sudah jadi tanggung jawabku sebagai anggota OSIS. Apalagi ini tahu terakhir kita di kepengurusan OSIS, jadi aku ingin memberi kesan terbaik bagi almamater kebanggan kita.”


“Lebay, kamu pikir aku tidak tahu. Kamu itu cuma ngintilin Rio kan. Tanggung jawab model apa itu. Modus.” Adeliia langsung bisa menebak isi pikiran Xena.


“Dih, kamu juga kesini juga moduskan, mau meet up kan dengan CEO ganteng itu. Eh, siapa namanya?”


“Terserah deh,” Adel beranjak meninggalkan Xena


“Oi, Adellia! Ditanya ko malah kabur.” Adel sudah berlari kecil meninggalkan Xena sendirian. Pukul sebelas siang, sebentar lagi giliran dia tampil dalam solo song. Tak berapa lama dia sudah standby dibelakang panggung. Mempersiapkan diri, terutama mempersiapkan mentalnya agar tidak down saat tampil nanti.


******


(Kamar Hotel)


Selama perlombaan berlangsung, Adel dan ke 30 orang siswa beserta tiga orang guru pendamping menginap di hotel kecil yang jaraknya tidak jauh dari tempat perlombaan. Dan seperti biasanya Adel pun sekamar dengan Xena. Sepanjang malam itu Xena sibuk memuji-muji penampilan Rio dalam perlombaan tadi. Adel yang sudah terbiasa mendengar pujian Xena terhadap pujaan hatinya itu bersikap acuh-tak acuh, dia hanya sibuk dengan handpone nya dan membiarkan Xena mengoceh sesuka hatinya sambil sesekali menjawab sekenanya.


Pukul sepuluh malam, suasana semakin sepi. Semua anak sudah tidur, mengistirahatkan tubuh untuk perlombaan hari kedua dan ketiga. Hari setelahnya mereka diberikan kebebasan untuk berkeliling sampai pukul empat sore.

__ADS_1


******


__ADS_2