Ketika Cinta Itu Datang Lagi

Ketika Cinta Itu Datang Lagi
Meniti (lagi) Jejak Masa Lalu - Bagian 1


__ADS_3

Awal Januari, cuara di Kota Surabaya diselimuti awan mendung. Sebuah sedan berwarna merah meluncur di jalan raya, memasuki komplek perumahan sederhana di kota Surabaya. Setelah melewati beberapa gang akhirnya sedan merah itu berhenti disebuah rumah minimalis berlantai dua.


Halamannya tidak luas hanya bisa memarkirkan sepeda motor saja. Maklum perumnas yang standar luar tanahnya terbatas. Dari dalam mobil turunlah lelaki berbadan besar tinggi, rambut nya agak sedikit panjang dan memakai topi. Saat ia memasuki pekarangan rumah, seorang anak laki-laki bertubuh tambun datang menghampiri dan memeluknya.


"Halo, jagoan Papa sudah pulang sekolah rupanya," sapa Juan pada putra sulungnya.


"Iya, Pa."


"Belajar apa tadi si sekolah?"


"Tadi aku belajar mewarnai, Pa. Gambar aku dapat nilai B lo. Liat deh, Pa." Dengan bangganya Dicky memamerkan hasil karyanya pada Juan.


"Wah, bagus sekali. Pintarnya anak Papa." Dari dalam rumah kelaurlah seorang wanita muda. Cantik. Berhijab.


"Dicky, ayo turun dulu. Papa mu capek, baru pulang. Yuk ajak Papa nya masuk"


Anak yang di paggil Dicky itu turun dan menuntun Papanya masuk kedalam. Lalu ia membantu Papa nya meletakkan tas yang dibawanya ke kamar. Setelah itu dia berlari ke belakang dan membawakan segelas air putih.


"Terima kasih."


"Cama-cama," katanya manja. Anak lelaki itu berusia lima tahun baru masuk TK kecil.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab orang-orang yang ada didalam rumah.


"Baru pulang, Pa," tanya pemuda kecil yang baru datang itu. Wajahnya tampan, terkesan pendiam tapi cerdas.


"Iya, Sayang. Sini duduk dulu dekat Papa. Bagaimana sekolah mu tadi?"


"Baik, Pa. Hari ini Yudha banyak PR. Nanti Papa bantu Yudha ya mengerjakan PR."


"Oiya, PR apa?" tanya Juan.


"Matematika."


"Matematika lo, Dek. Bukan PR mati." Semua orang tertawa mendengar celoteh lucu, Dicky yang masih cedal kalau bicara. Dia anak yang lincah dan suka sok tau. Suka jahil dengan kakaknya. Cengeng dan manja. Sementara Yudha yang sudah duduk di kelas 4 sekolah dasar lebih pendiam, dia cukup sabar menghadapi polah adiknya yang jahil. Sebagai kakak dia cukup pintar momong adiknya.


Keluarga Reinal Juan Marabahan adalah keluarga kecil yang hidup bahagia bersama kedua anak laki-laki nya. Yudha Lintang Marabahan dan Dicky Aditya Marabahan. Juan merintis usahanya sejak delapan tahun yang lalu. Dia memiliki seorang istri yang cantik dan lemah lembut, Yulia Rahmania Marabahan. Wanita cantik yang merupakan teman sepermainannya itu sudah menemani hidupnya selama 11 tahun. Mereka dikaruniai dua orang anak laki-laki berusia 10 dan 5 tahun.


Banyak yang melihat pernikahan mereka sebagai pernikahan yang sempurna. Selayaknya keluarga yang disebut sebagai keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Paling tidak seperti itulah sampai datangnya badai di tengah keluarga bahagia mereka.


******

__ADS_1


"Belum tidur, Kak?" tanya Yulia yang mendapati suaminya masih asyik didepan laptop.


"Belum. Ada kerjaan yang belum selesai. Anak-anak sudah tidur?"


"Sudah. Baru saja." Yulia berdiri di sisi suaminya.


"Hmm," jawab Juan singkat, dia masih asyik dengan aktivitasnya.


"Jangan terlalu capek, Kak. Jangan di porsir tenaga dan pikiranmu. Istirahatlah."


"Iya, sebentar lagi. Oiya, lusa aku akan ke Jakarta. Ada negosiasi dengan pemilik saham. Kalau disetujui mudah-mudahan kita bisa memperluas bisnis kita di Jakarta. Doakan saja." Juan memeluk pinggang ramping istrinya. Reflek Yulia pun mengalungkan tangannya pada leher suaminya.


"Aamiin .... Semoga lelah Kak Juan menjadi lillah dan berkah untuk keluarga kita." Juan mengusap lembut kepala istrinya, mencium keningnya dengan mesra. Namun tiba-tiba Yulia merasakan tubuhnya mengigil dan ada sesuatu dari dalam perutnya yang menjalar keluar menuju tenggorokan. Dia berlari menuju kamar mandi disudut kamar.


Rasanya seluruh badanya lemas. Sudah dua hari badannya merasa kurang sehat. Pandangannya suka berkunang-kunang dan tubuhnya mengigil. Juan menghentikan pekerjaannya, menyusul istrinya kekamar mandi. Memijat lembut punggung istrinya. Lalu menuntunnya ke tempat tidur.


"Kamu ga apa-apa? Kalau kurang sehat lebih baik besok aku antar kamu kedokter saja."


"Ga apa-apa, Kak. Ini cuma masuk angin biasa. Tiga hari lalu sepulang dari pasar aku kehujanan. Mungkin ini yang bikin beberapa hari ini badanku suka meriang." Yulia menyandarkan tubuhnya pada bantal lembutnya. Berharap akan merasa lebih nyaman.


"Kau yakin?" tanya Juan cemas. Yulia mengangukan kepalanya. Dia membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Juan menyelimutinya hingga sebatas bahu. Menunggu sampai Yulia tertidur, lalu kembali terhanyut dalam pekerjaannya tadi.

__ADS_1


******


__ADS_2