
Yulia siang itu sibuk disebuah rumah di kawasan elite ibukota. Rumah bercat hijau lembut dengan kombinasi warna orange dan putih itu sangat luas dan besar. Rumah berlantai dua itu memiliki kolam renang di bagian belakang rumah. Taman nya tertata rapi. Dibagasi mobil ada sebuah mobil Jazz merah terparkir dan sebuah Kawasaki Ninja hitam disebelahnya.
Rumah itu milik Yudha. Hasil kerja kerasnya bertahun-tahun di negeri orang sedikit demi sedikit dia tabung untuk membangun rumah itu. Rumah yang melukiskan peejuangan keras seorang lelaki hebat. Yulia datang kesana setelah Juan dan kedua anak nya berangkat. Dia membantu mengatur barang-barang yang datang. Kurir pengiriman barang dari Jepang ke Indonesia datang mengantarkan barang-barang Yudha.
Sementara Yudha yang tadinya akan datang dua hari kemudian, mempercepat kedatangannya. Dia harus mengurus sesuatu berkaitan dengan kepulangannya di kantor kementerian.
"Yudha, pergi dulu Ma. Yudha harus lapor kekementrian mengenai kedatangan Yudha"
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalannya. Serahkan semua urusan rumah dengan mama"
"Mama, ga perlu turun tangan langsung. Nanti Ken akan membantu disini. Aku sudah minta dia untuk mengirim beberapa orang untuk mempercepat kerja disini. Jadi mama ga perlu terlalu capek bekerja"
"Kamu ga usah khawatir, sayang"
Ken membukakan pintu buat tuan nya. Lalu dia memberi hormat kepada Yulia. Ken memegang kemudi mobil, mereka segera menuju kantor kementrian.
"Saya ikut bahagia melihat bapak bisa kembali ketengah keluarga di tanah air"
"Terima kasih, Ken. Aku juga senang akhirnya bisa berkumpul kembali di Indonesia. Terima kasih atas kerja keras mu, Ken"
"Saya hanya melaksanakan tugas saya, Pak"
******
Malam hari nya semua proses penyusunan barang sudah selesai. Rumah tampak cantik dan bersih. Para pekerja dan kurir sudah pulang. Yulia duduk di ruang tamu, dia berfikir apa yang ia lupakan hari ini.
"Ada apa, Ma. Ko sepertinya melamun"
__ADS_1
Sapa seorang wanita berparas blasteran, bertubuh tinggi semampai dan berhijab yang baru datang bersama seorang anak kecil.
"Sepertinya mama melupakan sesuatu deh. Kemana ponsel mama ya?"
Yulia mengambil ponsel yang diletakkannya di atas meja tamu. Lalu menelpon seseorang. Setelah itu dia kembali menekan nomor baru dan menelpon seseorang lainnya.
Dia lupa memberi tahu keberadaan nya sekarang pada Juan dan anak-anaknya. Dia pergi saat mereka sudah berangkat beraktifitas. Dan seharian ini dia tidak memegang ponselnya. Ada sepuluh panggilan masuk dan delapan pesan WhatsApp.
******
Seperti biasanya Dicky menjemput Adel dikampus nya. Begitu memasuki mobil Adel mendapat sebuah panggilan masuk di ponselnya. Dia begitu kegirangan.
"Kak, kita ke jalan raya utara ya. Ke komplek perumahan utara"
"Ada apa disana?"
"Ada sesuatu"
"Ra ... Ha... Si... Aaaa ..."
"Apasih ko pake rahasia segala"
Adel hanya nyengir melihat wajah kakaknya yang penasaran. Sejam kemudian mereka sampai di komplek perumahan Utara. Dicky tertegun melihat sebuah rumah megah dengan penjagaan yang ektra ketat dari security di gerbang utama rumah. Dia memarkirkan mobilnya di depan halaman. Belum sempat mereka membuka pintu mobil, datanglah inova yang berhenti tepat disebelah mobil mereka.
"Kalian juga disini?", tanya Juan kepada kedua anak nya
"Ini rumah siapa, Del", tanya Dicky.
__ADS_1
Dan belum sempat dia menjawab pertnyaan kakaknya, sebuah benda mendarat di jidatnya. Sebuah model pesawat terbang remote control. Adel mengusap-usap kepalanya yang benjol akibat benda terbang tadi.
"Dikaaaaaa......",teriaknya.
Dari balik tembok pilar teras munculah seorang anak laki-laki berusia empat tahun memegang box remote control pesawat tadi.
"I am sorry", kata anak kecil itu.
"What!! Look at my forehead"
Anak lelaki itu menarik tangan Adellia, sehingga ia membungkuk mengikuti anak itu. Anak itu mencium pipi Adel.
"I am sorry"
"Waduuuh... Ini yang buat tante ga kuat sayang. I love you"
Adel mengendong anak itu dan menghujani nya ciuman di kedua pipinya, kening nya dan juga perutnya, sehinga anak itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Siapa anak ini, Del?",tanya Papa nya.
"Ini cucu, Papa. Anak sulung Kak Yudha"
Dicky tak kalah terkejutnya mendengar ucapan Adellia.
"Anak Yudha", gumam Juan sambil memegang kedua pipi anak itu.
"Hei, ganteng. Salam dengan Kakek dan Oom mu"
__ADS_1
Juan mencium Dika, tak terkira rasa hatinya saat itu. Dika langsung pindang ke gendongan Kakeknya. Dicky tak mau melewatkan nya, dia juga mengusap dan mencium kepala malaikat kecil yang lucu itu.
******