
Hujan yang sejak sore mengguyur ibukota perlahan mulai mereda. Hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun Dicky belum juga menemukan Adellia. Lagi dan lagi Dicky berusah menghubungi handphone Adel, namun lagi-lagi tidak ada respons. Rasa cemas dan ketakutan semakin menghantui dirinya.
"Adel, kamu dimana Dek? Kak Dicky khawatir banget." Handphone Dicky bergetar. Adellia. Nama yang tertera di layar ponsel. Buru-buru Dicky menggeser tombol hijau.
"Halo Dek, kamu dimana?" tanyanya panik.
"Jemput aku Kak. Aku di taman di jalan raya selatan."
"Iya dek, kamu tunggu disitu ya. Sabar ya." Tanpa basa-basi Dicky langsung melarikan mobilnya kearah jalan raya selatan. Sesampainya di taman, Dicky menebarkan pandangannya keseluruh penjuru. Mencari sosok Adellia. Di sudut taman sebelah kanan, di atas ayunan, Adellia menunggunya. Bajunya basah kehujanan. Matanya sembab habis menangis.
Dicky menghampirinya. Memeluknya erat-erat. Menghujani Adellia dengan ciuman di kedua pipi dan keningnya. Seluruh tubuh gadis itu sudah dingin. Sambil sesegukan dia memeluk kakaknya.
"Maafkan aku, Kak. Aku udah buat Kak Dicky cemas."
"Ayo kita pulang, Sayang." Dicky menuntun Adellia yang sudah kedinginan. Dia melepaskan jasnya dan memakaikannya pada adiknya. Sepanjang perjalanan Adel tertidur. Dia terlihat begitu lelah dan sedih. Mungkin dia belum sepenuhnya menerima kenyataan ini.
__ADS_1
Dicky sengaja tak membangunkan adiknya. Dia membopong adel menuji kamarnya. Bi Iyah buru-buru datang dan membantunya membukakan pintu kamar.
"Panas sekali," ucap Dicky terkejut saat menyentuh dahi Adel. Dicky menyuruh Bi Iyah mengambil kompres dan obat penurun panas. Dia sibuk membuka lemarinya. Mencari kaos miliknya untuk mengganti pakaian adel yang basah kuyup. Tak lama Bi Iyah datang membawa kompres dan obat penurun panas.
"Bi, tolong gantikan bajunya dengan kaos ini. Bajunya basah sekali. Terus ganti seprainya sekalian ya Bi. Aku keluar dulu." titah Dicky.
******
Dicky menunggu di ruang baca, diacmengambil handphone-nya, dia menghubungi mama dan kakaknya, dia ingin memberitahukan kalau Adel sudah bersamanya. Jadi mereka tidak khawatir lagi. Mungkin memang benar kata Kakaknya di telepon barusan, Adel lebih baik bersamanya dulu. Untuk menjamin keselamatannya, paling tidak jika bersama Dicky ada orang yang akan menjaga dan melindunginya.
"Kebetulan di lemari saya ada celana panjang yang pas ukuran nya dengan, Mbak Adel."
"Terima kasih, Bi." Dicky kembali menuju kamar nya. Melihat keaadaan adiknya yang tertidur. Suhu tubuhnya sudah tidak panas lagi. Mungkin kompres dan obat penurun panas yang diberikan sudah bekerja.
Berkali-kali ia memeriksa kondisi Adel, sampai akhirnya dia yakin kalau Adel baik-baik saja. Dia mengambil selimut dan sebuah bantal dari dalam lemari. Lalu dia merebahkan dirinya di sofa yang terletak di salah satu sudut ruangan. Tak lama dia tertidur di atas sofa.
__ADS_1
******
Hampir tengah malam, mobil yang ditumpangi Juan sampai di halaman rumah. Sopir membukakan pintu mobil untuknya. Lalu ia masuk kedalam rumah, tak berapa lama ia berpapasan dengan Bik Iyah yang baru saja turun dari lantai atas.
"Dicky sudah pulang, Bi?" tanya Juan.
"Sudah, Pak. Dia bersama temannya dikamar?" jawab Bi Iyah perlahan.
"Teman? Siapa, Bik?"
"Hmm, A-anu ... Mbak Adel, Pak." Juan mengerutkan kedua alisnya mendengar ucapan Bi Iyah, lalu naik ke lantai atas, dia bermaksud memastikan ucapan Bik Iyah tadi. Perlahan dia membuka pintu kamar, dilihatnya seorang perempuan tidur di tempat tidur. Lalu disudut ruangan Dicky pun sudah pulas diatas sofa.
"Perempuan ini istimewa sekali bagi Dicky. Siapa dia?"
Sepanjang pengetahuan Juan, anaknya Dicky, tidak pernah mempunyai teman dekat perempuan, apalagi sampai di ajaknya bermain dan menginap kerumah. Juan pun sangat penasaran. Tapi dia tidak terlalu mengambil pusing. Baginya Dicky sudah cukup dewasa untuk mengambil sebuah keputusan bijaksana. Dia pasti punya alasan dan pertimbangan yang cukup matang untuk semua hal yang dia lakukan.
__ADS_1
******