
Setelah tahu kebenarannya, Dicky semakin tak mau berpisah dengan adiknya. Setiap hari dia rajin menghubungi Adel atau pun Hanya sekedar say hallo via WhatsApp. Dia seolah tak mau kehilangan untuk kedua kalinya, walaupun masih ada jarak yang begitu jauh diantara mereka. Masih banyak misteri yang harus diungkapkan. Pemegang kunci semua ini adalah Yudha, kakaknya. Karena dia lah yang tahu apa yang sebenarnya terjadi tujuh belas tahun yang lalu.
Minggu pagi, Dicky sudah rapi dan sarapan pagi-pagi sekali. Bahkan saat papanya bangun dia sudah hendak bergegas pergi. "Eeh? Tumben tak biasanya ni anak rapi sekali hari Minggu begini, wangi bener parfum nya. Jangan-jangan mau ngapel cewek ya ..." selidik Juan melihat putra nya itu.
Juan memperhatikan Dicky dari ujung kepala hingga kaki, ganteng juga pikirnya anaknya itu. Wajar saja kalu dia mau menyambangi perempuan. Tapi kenapa dia tidak cerita apa-apa padaku? Apa perempuan anak SMA itu ya? Masa iya sih? batin Juan pernuh pertanyaan.
Saat Dicky berpamitan, dia tersenyum mengejek putranya. Alih-alih ingin mengorek keterangan darinya, akan tetapi Dicky malah berpura-pura tidak mendengar godaan papanya itu. Dia bergegas masuk kedalam Pajero sport hitam miliknya.
Bukan Pajero kalo tidak gagah dan elegan penampilannya, lari nya juga tak bisa di bilang lambat. Dicky melajukan kendaraannya menuju asrama putri SMA Tunas Muda. Apalagi tujuannya kalau bukan ingin bertemu dengan Adellia.
Hari ini dia berjanji mengantar Adellia membeli beberapa alat tulis dan buku referensi untuk dia belajar menghadapi ujian nasional dan SNMPTN. Pukul sepuluh tepat dia sudah memarkirkan mobilnya di halaman asrama. Berhubung ini hari minggu, hari bebas berkunjung. Meja resepsionis asrama juga kosong tanpa ada penjagaan. Dengan langkah pasti dia menaiki tangga asrama menuju kamar 210.
Adellia yang sudah menunggunya dengan sigap membuka pintu, tak berapa lama kemudian mereka menuju ke mobil.
__ADS_1
Puas berkeliling, mereka menuju sebuah restoran cepat saji. Melilih beberapa menu untuk makan siang. Dicky tak melewatkan saat-saat kebersamaan ini. Dia mulai memposisikan diri sebagai seorang kakak yang baik, mengambil kembali perannya yang pernah hilang.
"Kok pesannya sedikit amat, Del?" tanya Dicky. Adel hanya nyengir sambil menutup mulutnya dengam tangan, malu-malu.
"Diet?"
"Bisa jadi, Kak," jawabnya sambil cekikikan sendiri.
"Hmm .... Kalo begitu tolong kondisikan tu pipi ya, Non!" Seseorang menyerobot sepotong kentang goreng yang sudah berada di ujung mulut Adel. Dia terkejut dan menengok kesamping. Bukan main senang nya melihat siapa yang tiba-tiba duduk disamping nya. Nyaris dia berteriak, lalu memeluk orang itu. "Kak Yudha."
Dicky yang berada di hadapan mereka, juga terkejut melihat kedatangan Yudha yang tiba-tiba. Ingin rasanya dia menyerobot dan memeluk mereka berdua. Namun dia harus tetap bersabar dan menahan perasaannya.
Yudha yang tau pasti apa yang dirasakan Dicky, bangun dari duduknya. Ia mendekat kearah Dicky dan memeluknya.
__ADS_1
"Sabarlah sedikit lagi," bisiknya. Dicky mengangguk pelan. Dia tersenyum tipis.
"Kak Yudha, kenal dengan Kak Dicky?" tanya Adel
"Hmm," jawab Yudha sambil menganggukkan kepalanya.
"Hmm .... Apa? Pake kata-kata kenapa sih, Kak?" protes Adel. Yudha bersikap acuh. Duduk santai disebelah nya sambil menyeruput cola dinginnya. "Kak Yudha, nyebelin ya," protesnya lagi.
Matanya beralih menatap Dicky yang dari tadi cekikikan melihat Adellia yang sewot, lalu pemuda gagah itu pura-pura tidak melihat tatapan adiknya.
"Aku pesankan buat, Kak Yudha juga ya?" tanya Dicky.
"Boleh. Kebetulan sudah keroncongan ni perut?" Dicky bangun dari duduknya lalu memesankan makanan untuk kakak sulungnya. Tak lama Dicky datang membawa makanan dengan porsi agak banyak. Cukup buat mereka bertiga.
__ADS_1
Langit senja pun menampakkan kehadirannya. Mereka pulang mengantarkan Adel kembali keasrama. Kali ini Yudha yang mengambil kendali kemudi. Tepat sebelum adzam magrib berkumandang, mereka sudah sampai dihalaman asrama. Yudha mengajak Dicky untuk sholat berjamaah di masjid yang berada tak jauh dari asrama. Adel kembali kekamar nya sambil menunggu kepulangan kedua laki-laki itu.
******