
Sudah hampir pukul sembilan malam, keadaan Opa belum ada perubahan. Perawat sudah memindahkannya keruang perawatan.
"Ini ada beberapa obat yang harus segera diberikan pada pasien, silakan Bapak menebusnya di apotik"
Seorang perawat memberikan selembar resep, lalu Dicky menuju apotik di lantai bawah rumah sakit pusat.
Setelah menebus resep obat, Dicky berniat kembali kekamar perawatan Opa. Namun dimelihat Adel berjalan dari lorong seberang rumah sakit.
"Adellia?!"
Dicky segera menghampirinya.
"Loh, Kak Dicky ngapain disini?"
"Opa kritis, Dek. Tadi sore dia kena serangan jantung. Sekarang sedang diruang perawatan"
"Astagfirullah, lalu gimana keadaan Opa sekarang, Kak"
"Sedang dalam pengawasan dokter. Seharusnya dia segera di operasi, namun tekanan darah dan kadar gula darah nya masih tinggi. Dokter belum berani mengambil tindakan"
Mereka berjalan menuju lantai empat. Begitu pintu lift terbuka Dicky dan Adel menelusuri lorong rumah sakit menuju kamar 412. Adellia menggandeng lengan kakaknya.
Sampai depan pintu ruangan, Juan sudah menunggu nya. Melihat Dicky berjalan bersama adiknya, Juan merasa ada sedikit nyeri disudut hatinya.
__ADS_1
Adel mengambil tangan Papanya, lalu mencium punggung tangannya. Mereka berdua tak saling bersapa, hanya tatapan mata mereka saja yang saling bertemu dan berbicara.
******
Perawat segera datang memberikan suntikan insulin pada pasien, karena kadar gula darah yang terlalu tinggi, obat oral saja tidak cukup untuk membantu menurunkannya.
"Wah, ada dokter Adel ya", ujar perawat itu ketika masuk dan melihat Adellia.
"Hmmm... Jangan mengejekku, suster Mai. Belum juga lulus ujian masuk"
"Kalo kamu mah aku yakin pasti lulus"
Adellia tertawa kecil mendengar ucapan perawat kenalannya itu. Suster Mai mengganti botol infus dengan yang baru.
"Bu dokter, bisa bantu aku mengecek tekanan darah pasien?!", Suster Mai menyerahkan alat tensi dan stetoskop pada Adel.
Adellia dengan cekatan memasang alat tensi pada lengan Opa, lalu meletakkan ujung stetoskop pada telingganya. Dua kali Adel melakukan pengecekan.
"Sistole 190 diastol 100. Sangat tinggi"
"Baiklah"
Suster Mai mencatat tekanan darah pasien. Lalu dia mengambil beberapa mili darah untuk dibawa ke laboratorium, guna mengukur kadar gula darah sewaktu-waktu pasien. Hasilnya diserahkan beberapa jam kemudian.
__ADS_1
"Kamu kenal dengan Suster tadi, Dek"
"Iya, sebelum menikah dia bertugas di rumah sakit umum kota Medan. Waktu kecil aku sering bertemu dengannya dirumah sakit. Kebetulan rumah nya tidak jauh dari rumah kakek"
Dicky menganguk.
******
Ruang perawatan VVIP, tempat nya sangat nyaman. Ber-AC dan ada sebuah sofa panjang di sana. Dicky duduk di sofa itu, sementara Adellia yang tadinya duduk disebelahnya, menyandarkan kepalanya di paha Dicky.
"Kalau kamu ngantuk, Kak Dicky antar pulang ya?!"
Adel menggeleng. Dia memejamkan matanya dan mulai tertidur di pangkuan kakaknya. Dicky membelai-belai kepala Adellia agar adiknya nyaman dan lelap tidurnya.
Tak lama Juan datang membawakan beberapa kaleng minuman kopi dan teh botol buat mereka. Juan tertegun melihat Adellia tertidur lelap di pangkuan kakaknya. Dia berjalan menuju lemari yang ada di pojok kamar mengeluarkan sebuah selimut dan bantal.
Dicky mengangkat kepala adiknya perlahan lalu meletakkan bantal dibawahnya. Juan menyelimuti putri bungsunya itu.
"Kenapa kau tak antar pulang adikmu, Dicky"
"Dia mau tetap disini. Sepertinya dia lelah sekali. Kasihan jika dibangunkan sekarang. Papa sebaiknya pulang dulu. Besok papa bisa kesini siang hari"
"Kamu ga apa-apa Papa tinggal?"
__ADS_1
"Iya, Pa. Nanti Dicky suruh Pak Ujang jemput Papa disini"
Setengah jam kemudian Pak Ujang datang menjemput Juan.