
(Ruang Kelas)
"Del," tepuk Xena membuyarkan fokus Adellia pada buku-buku nya. Dia menutup bukunya lalu memutar bangkunya ke arah belakang.
"Ada apa?" tanya Adel.
"Semalam CEO ganteng itu menginap ya di kamarmu. Aku lihat mobil nya di halaman sampai pagi." Xena manatap sahabatnya penuh selidik.
"Hmm." Angguk Adel
"What! Are you sure?" Kedua matanya melotot. Tidak percaya dengan ucapan yang baru di dengarnya.
"Shht .... Bibir tu ya. Pake toak masjid aja sekalian biar rame."
"Ini tidak becanda kan, Del?"
"Tidak." Adellia terdiam sejenak. Merapikan jilbabnya. "Memang semalam Kak Dicky menginap. Hujan petirnya luar biasa. Bahaya kalau dia pulang dengan cuaca begitu."
"Jadi?" Lagi, Xena masih penasaran.
"Dia menginap bersama Kak Yudha, kok. Ternyata mereka berteman."
"Oo .... " Xena membulatkan mulutnya.
"Kamu pikir aku segila itu. Dasar bibir mu sadis ya." Adel sewot, dia paham benar arah pembicaraan Xena.
__ADS_1
"Jangan marah, Cantik. Sekedar tanya lho," ucap Adel sambil menarik garis lengkung di kedua ujung bibirnya. Dari belakang Rio datang membawa dua minuman dan dua bungkus roti. Diletakkannya di meja. "Nih, buat temen ngobrol. Biar tambah asik."
"Widiiih .... Ini baru pacar tersayang. Makasih ya honey," ucap Xena manja.
******
(Parkiran Motor)
"Jangan lupa besok ada TO terakhir jam dua siang ya, Xen." Adellia memperingatkan Xena sebelum mereka berpisah sore itu.
"Oke siap. Aku jemput kamu ke asrama atau gimana, Del?"
"Kita ketemu di ruangan aja, Xen," jawab Adel.
******
Adellia berjalan menuju halaman luar sekolah. Langkah kaki nya berbalik arah. Dia mengurungkan niatnya untuk pulang ke asrama. Dia berjalan menuju pemberhentian angkot, lalu menaikinya. Inikan minggu tenang. Tak ada salahnya lah pergi berjalan-jalan sebentar, sekedar menyegarkan pikiran sebelum UN beberapa hari lagi.
Dia berkeliling sekitaran pusat perbelanjaan. Menghabiskan waktunya di toko buku langganannya. Deretan novel karya penulis idolanya, dia mengambil satu judul buku yang terbaru. Lalu membayarnya ke kasir.
Tanpa disengaja matanya melihat ke arah kaca luar toko, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam berjalan bergandengan tangan dengan seorang laki-laki yang keduanya sangat dia kenal.
Langkah kakinya makin dipercepat mengikuti kedua orang itu. Mereka menuju sebuah food court yang berada di lantai 3. Dari kejauhan Adellia melihat keduanya berbincang-bincang, cukup akrab. Bahkan lebih dari itu. Lelaki itu memeluk mesra wanita paruh baya itu. Lalu mengusap airmatanya. Mengecup keningnya.
"Ya, Tuhan. Apa maksud semua ini?" gumam Adel dalam hati nya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa hubungan mereka berdua? Apa yang mereka lakukan disini? pertanyaan itu berputar-putar di pikiran gadis kelas tiga SMA itu.
__ADS_1
Kak Dicky dan ... Mama.
******
(Kamar Asrama)
Adel baru saja hendak merebahkam tubuhnya saat pintu kamar asrama nya diketuk oleh sesorang. Dia bangkit menuju pintu.
"Mama??!"
Yulia, mamanya, berdiri di depan pintu dan tersenyum. Adel mengambil tangan mamanya lalu mencium punggung tangan nya. Meluknya erat. Lalu mereka masuk kedalam kamar.
"Gimana kabar kamu, Del?" tanya Yulia.
"Alhamdulillah, Ma. Adel sehat-sehat saja. Beberapa hari lagi mau UN jadi Adel agak sibuk, fokus dengan peesiapan UN nanti." Adellia mempersilakan mamanya masuk. Lalu mengambilkan sebotol air mineral.
"Syukurlah kalo begitu. Semoga kamu berhasil dan lulus, Del."
"Aamiin ... mama ko datang kesini tanpa telepon dulu. Tumben." Manik mata adel mencari sesuatu pada manik mata Yulia. Mamanya hanya memberikan sebuah senyuman, bagi Adel senyum itu penuh misteri. Ada sesuatu yang dia tidak ketahui.
"Aah, tadi mama ada janji dengan teman lama didekat sini. Jadi mampir sebentar."
Teman lama? Teman lama apa mama? tanya Adel dalam hati. Dia sebenarmya ingin menanyakan tentang peristiwa yang disaksikannya tadi. Namun di urungkannya. Dia tak ingin merusaj suasana yang jarang terjadi ini. Maklum mama nya jarang meninggalkan kampung, biasanya dia atau kakaknya yang mengunjungi saat libur.
******
__ADS_1