
Adellia mengeliatkan tubuhnya kekanan dan kekiri. Rasa pegal menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya saat bangun. Menyakinkan tentang keberadaan dirinya. Gelap sekali pikirnya. Perlahan-lahan matanya mulai terbiasa melihat dalam ruangan kamar dengan penerangan temaram itu. Adel melemparkan pandangannya ke sekeliling kamar. Dia sama sekali tidak mengenali di mana dia saat ini. Sampai dia melihat kearah sofa.
"Kak Dicky?" gumamnya.
Adel bangun dan mendekat ke arah kakaknya yang tertidur di atas sofa. Dia memperbaiki selimut dan menaikkannya sampai menutupi separuh leher Dicky. Dia duduk berlulut di sisi sofa. Dihadapannya kakaknya yang baru ia temui itu sedang tertidur pulas. Ditatapnya lekat-lekat lelaki yang membawanya pulang itu.
"Kak," ucapnya dalam hati. "Selama ini kita sangat dekat. Kak Dicky selalu ada untukku, selalu menjagaku dan memperhatikan aku. Tapi kenapa Kak Dicky baru mengatakannya sekarang. Menahan semua perasaan kakak. Kak Dicky pasti benar-benar menderita menahan semua persaan kakak. Maafkan Adel, Kak. Adel terlalu egois"
Ujung mata nya mulai basah. Dicky mulai terbangun. Adel buru-buru menyeka airmatanya. Dicky duduk dan menarik tangan Adel. Dia memeluk adiknya. Adel membalas pelukan hangat kakaknya. "Maafkan Adel ya, Kak. Adel sudah buat Kak Dicky khawatir?"
"Kak Dicky, yang salah. Harusnya dari pertama dulu Kak Dicky bercerita padamu. Tapi, Kak Dicky mohon, jangan lagi seperti ini ya. Jangan lagi pergi tanpa kabar. Kak Dicky sangat takut. Takut terjadi sesuatu padamu, Dek." Dicky membelai rambut Adellia. Memegang kedua pipinya, menatapnya penuh rasa sayang. Rasa takut kehilangan adik yang baru ditemuinya itu benar-benar membuatnya gila. Sekali lagi Adellia menyandarkan kepalanya pada dada Dicky. Dia merasa sangat nyaman, bersadar pada laki-laki berdada bidang itu. Sama nyamannya ketika dia menyandarkan kepalanya kepada kakak sulungnya, Yudha. Dia sangat bersyukur memiliki dua lelaki hebat yang menjadi 'sayap'-nya kini.
__ADS_1
"Sudah Subuh. Yuk, kita sholat dulu." Ajak Dicky. Adel mengangguk. Mereka berdua bergantian ke kamar mandi untuk berwudhu. Lalu sholat berjamaah. Setelah itu mereka turun kebawah untuk sarapan. Dibawah Juan sudah menunggu di meja makan dengan koran pagi yang sedang dibacanya.
"Pagi, Pa," sapa Dicky.
"Pagi, Dicky." Juan meletakkan koran yang dibacanya. Melihat ke arah Dicky yang turun bersama Adellia. Mereka berdua sudah berpakaian rapi.
"Pa, ini Adellia." Adel tersenyum lalu mengambil tangan Juan dan mencium punggung tangannya. Juan melihat pada Adellia. Cantik juga perempuan ini. Pikirnya. Masih sangat muda. Dia tidak banyak bertanya, hanya mempersilakan Adellia untuk duduk dan sarapan bersama.
Adellia diam-diam menatap ke arah Juan, yang tak bukan adalah Papa kandungnya. Hatinya saat ini campur-baur, ingin rasanya ia berteriak 'Aku ini anak mu, Pa'. Paling tidak pandanglah kebaradaanku. Tangannya menggenggam erat ujung bajunya. Rasa sedih, rasa rindu, dan rasa kesal membaur jadi satu dihatinya.
******
__ADS_1
"Sabar ya, Dek. Nanti Kak Dicky akan coba bicara dengan Papa perlahan. Semoga saja semua akan baik-baik saja," ucap Dicky di dalam mobil. Adel hanya mengangguk kecil. Meng-iya-kan ucapan kakaknya.
"Kita mau kemana Kak?" tanya Adel kemudian.
"Kita jalan-jalan aja hari ini. Kita cari pakaian buatmu. Kak Dicky sudah minta izin mama untuk membawamu tinggal bersama di Jakarta"
"Di Jakarta? Sama Kak Dicky?" Adellia sedikit terkejut mendengar ucapan kakaknya itu.
"Iya. Kenapa, Dek?" tanya Dicky.
"Papa gimana, Kak?. Apa dia akan menggizinkan aku tinggal bersama kalian?"
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir, ya. Kak Dicky akan atur semua. Percaya pada, Kak Dicky ya Dek." Dicky mengusap kepala Adel. Adel membalasnya dengan senyuman. Dia percaya sepenuhnya pada Dicky. Namun tetap saja dia merasa canggung jika bersama Juan. Maklumlah baru kali ini dia bertemu dan berinteraksi langsung dengan Papanya itu, terlebih Juan hanya tau kalau dia adalah teman dekat Dicky. Itulah yang ia khawatirkan. Dia takut kalau papanya tidak menerima dia.
******