
Hujan dan petir yang menyambar-nyambar terlihat begitu mengerikan dari balik jendela. Tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam wakti dekat. Yudha dan kedua adik nya masih terkurung dalam kamar asrama. Mereka tidak bisa kemanapun. Waktu juga terus berjalan semakin larut.
"Tampak nya kita tidak bisa pulang, Dek?" Tatapan mata Yudha mencari celah dibalik tirai kamar asrama. "Sudah jam sepuluh malam, akan berbahaya jika kau mengendarai dalam cuaca seperti ini. Lebih baik kita menginap disini saja."
"Sepertinya begitu. Tak mungkin melanjutkan perjalanan dengan cuaca seperti ini. Sangat berbahaya" Dicky sepertinya menyetujui ucapan Yudha.
Adel hanya berbaring di tempat tidur sambil membaca buku. Tapi hanya tampaknya saja demikian. Namun sebenarnya dia merasa aneh, kakaknya begitu terlihat akrab dengan CEO muda ini. Ada hubungan apa mereka. Teman kah? Kenalan kah? Atau sahabat. Tapi sepertinya bukan.
Hoaaaamm .... Berkali-kali mulutnya menguap dan matanya mengeluarkan air mata. Artinya sudah saat nya untuk tidur. Namun dua laki-laki ini masih asyik mengobrol.
"Kalau ngantuk, tidur saja duluan," ucap Dicky seakan tahu kalo batrai tubuhnya sudah lowbat. "Tenang saja kami ini laki-laki. Kuat dan terbiasa mandiri. Kami bisa tidur dimana saja nanti. Tidur saja duluan, dek"
Yudha menarik selimut dan menutupinya sampai bahu Adellia. Tanpa di komando, Adel langsung memejamkan matanya. Tak lamapun dia tertidur pulas. Dicky duduk di sisi tempat tidur. Memandang adik perempuannya yang sedang tertidur. Yudha pun duduk disebelahnya. Dia menepuk pundak Dicky. Seolah ia mengerti perasaan adiknya itu.
__ADS_1
"Bersabarlah sedikit lagi, Dek. Percaya sama Kak Yudha, semua akan berakhir indah."
"Kak, apa mama sudah tahu masalah ini?" tanya Dicky.
"Ya, Kak Yudha sudah bercerita pada mama beberapa waktu yang lalu." Untuk beberapa saat Yudha terdiam. "Dia sangat merindukan mu, Dek. Mama benar-benar ingein bertemu denganmu. Tapi jangan terburu-buru dalam bertindak. Kak Yudha takut akan terjadi hal yang buruk nantinya."
"Maksud Kak Yudha? Hal buruk apa Kak?" Dicky mengerutkan kedua alisnya. Yudha menarik Dicky kedekat pintu setelah meyakinkan kalau Adellia benar-benar tertidur. Dia bicara sedikit berbisik, Dicky pun mendekatkan telinganya agar dapat mendengar jelas ucapan Yudha.
"Tentu saja. Kak Yudha sudah mengantongi barang bukti. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membukanya." Mata Yudha penuh dengan keyakinan.
"Tapi jujur saja, Dicky masih belum bisa mempercayainya, Kak."
"Untuk itu Kak Yudha minta, sampai waktu itu terjadi, tolong jaga Adellia."
__ADS_1
"Kak Yudha ga perlu minta itupun, Dicky pasti akan jaga adek dengan baik. Dicky tak akan membiarkan siapapun menyakitinya." Kali ini Dicky mengambil sikao tegas sebagai seorang kakak dari perempuan selembut Adellia. "Tapi Adel pun berhak tau, Kak. Dia harus tahu hal yang sebenarnya terjadi. Dicky takut dia akan salah faham nantinya."
"Ya... Perlahan namun pasti dia harus tahu kebenarannya. Tapi semoga saja dia bisa menerima kenyataan yang terjadi."
"Dicky juga berharap begitu, Kak." Senyuman Dicky penuh harapan.
"Lalu .... bagaimana dengan Papa? Kamu sudah bercerita sejauh apa dengan Papa, Dek?" Yudha menyandarkan pundaknya ke dinding kamar asrama. Dia tahu kalau adiknya belum berkata apapun pada Juan, papanya.
"Dicky, belum berani cerita ke Papa, Kak. Kak Yudha paham betulkan sifat Papa bagaimana. Dia tak akan mudah menerima semua ini. sifat keras kepala dan keras hatinya itu yang membuat Dicky ragu."
"Yach, nanti kita cari cara terbaik untuk menyampaikan hal ini pada Papa." Pembicaraan mereka berakhir sampai hampir tengah malam. Hujan pun mulai mereda dan akhirnya berhenti. Kedua lelaku itu akhirnya ikut merebahkan tubuhnya di bawah sisi tempat tidur.
******
__ADS_1