Ketika Cinta Itu Datang Lagi

Ketika Cinta Itu Datang Lagi
Keadaan Berbalik


__ADS_3

Sudah hampir jam sepuluh malam, Adellia belum juga ada di rumah. Saat Dicky mengeceknya kerumah tadi dia tak mendapati adik bungsunya di sana. Dia mencoba menelepon Adel.


"Kamu di mana, Sayang?" tanya Dicky saat Adel mengangkat ponselnya. Sejak pagi Adel pamit untuk menemui seseorang, kawan lamanya dulu. Saat di telepon Adel sedang di taman kota. Tanpa di komando Dicky langsung menjemput Adellia di taman kota. Mendengar bunyi kelakson mobil, Adel menoleh. Lalu dia berjalan mendekat dan masuk kedalam mobil.


"Kamu dari mana, Dek?" tanya Dicky saat Adel sudah duduk di sebelahnya.


"Tadi janjian sama Xena dan Rio. Mereka datang kesini. Jadi aku jalan sama mereka.


sebentar, Kak."


Sejak kuliah di Jogjakarta, Xena jarang ke Jakarta, kali ini dia dan Rio menyempatkan diri untuk main ke ibukota. Mereka menghabiskan waktu bersama Adellia di pusat kota. Dicky mengendarai mobilnya dengan santai dan konstan. Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah. Memasuki rumah keluarga Rainal Juan Marabahan, Dicky memarkirkan kendaraannya di bagasi. Adel terdiam. Dia ragu untuk kembali kerumah itu. Pastinya Opa akan bersikap antipati lagi. Dicky yang seolah tau isi hati adiknya, memegang tangannya.


"Jangan takut, Dek. Ada Kak Dicky disini. Jangan khawatir."


"Kak," panggil Adel.


"Hmm ... "

__ADS_1


"Opa dan Papa bagaimana?" tanya Adellia perlahan.


"Jangan khawatir dengan Papa, dia tak akan mempermasalahkan kamu lagi. Karena hasil tes kemarin membuktikan kalau kamu benar-benar anak kandung Papa." Dicky tersenyum danengusap lembut kapala adik bungsunya.


"Benarkah? Lalu Opa bagaimana?" Dicky menceritakan peristiwa yang di alaminya hari ini. Tentang Yudha, tante Jovi semuanya pada Adellia. Burat wajah kecemasan terlukis di wajah Adel. Dicky paham kekhawatiran adiknya, dia memeluknya lalu mencium kedua pipi dan keningnya. Mentransfer kekuatan pada hati perempuan yang ada dihadapannya.


Dicky turun dan membukakan pintu mobil untuk Adellia. Lalu mereka masuk kedalam rumah. Dicky mengantarnya sampai kedepan pintu kamar, sekali lagi dia mengecup kening adiknya setelah mengucapkan selamat malam.


******


Pagi hari saat sarapan, seperti biasa Opa tidak mau makan satu meja dengan Adellia. Dia memilih sarapan sendiri dikamarnya. Adel tidak perduli, dia merasa ada kekuatan besar yang melindunginya, Dicky, kakak keduanya. dia merasa nyaman dan aman bila Dicky bersamanya. Dia lebih bahagia mengetahui bahwa ini adalah benar-benar keluarga kandungnya. Juan tidak banyak bicara pagi itu, dia hanya fokus pada sarapannya saja. Bukan maksud hatinya untuk tidak perduli lagi, namun merasa bingung harus berbuat apa. Canggung dan kaku baginya berhadapan dengan putri kandungnya.


******


"Kamu bilang saja sama Pak Ujang, minta dia mengantar mu, atau tunggu saja dirumah nanti kak Dicky jemput."


"Ga usah, Kak. Adel naik taxi online aja." Adel merasa tak enak harus merepotkan kakaknya terus. Dia memutuskan untuk memesan taxi online.

__ADS_1


"Bener ga apa-apa, Dek?" tanya Dicky khawatir m


"Iya, Kak," ucap Adellia meyakinkan kakaknya. Bagi Dicky jika sudah berkaitan dengan adiknya, apapun tidak diperdulikan, dia seperti kakak siaga bagi Adel.


******


Sore harinya, diperjalanan pulang Dicky dan papanya mendapat kabar kalau Opa Saut mendapat serangan jantung mendadak dan dilarikan ke rumah sakit pusat. Tanpa pikir panjang Dicky melarikan kendaraanya menuju rumah sakit pusat. Opa Saut mendapatkan pernanganan khusus diruang ICU. Menurut hasil pemeriksaan medis mengatakan bahwa ada penumpukan plak serta penyumbatan pada sekitar dinding pembuluh darah, sehingga menyebabkan kurangnya pasokan ke jantung. Diperlukan operasi segera, namun kondisi gula darah dan hipertensinya menghalangi dokter untuk melakukan tindakan.


"Untuk sementara kita harus menyetabilkan kadar gula darah dan tekanan darahnya. Baru kita bisa lakukan pemasangan ring pada jantung Bapak Saut," ucap dokter pada Juan.


"Apakah itu beresiko, Dokter?" tanta Juan.


"Resiko pasti ada, hanya saja keadaan fisik Papi anda tidak memungkinkan untuk segera melakukan operasi. Untuk itulah kami pihak medis harus menstabilkan semua kondisi sebelum kami mengambil tindakan." Lagi-lagi dokter tak mau mengambil resiko. Mereka dengan sabar meminta untuk mengobservasi dan menunggu kondisi Opa Saut stabil.


"Tolong lakukan yang terbaik, Dok," pinta Juan.


"Baik, Pak. Hanya saja kami mohon kerjasama dari pihak keluarga agar membantu menstabilkan kondisi pasien. Hindari hal-hal yang bisa memicu keadannya makin memburuk." Opa memang punya riwayat penyakit komplikasi hipertensi dan gula darah sejak dulu, dia orang yang malas memeriksakan kesehatannya. Dahulu sewaktu Yulia masih ada, dia lah yang rajin mengantarnya kontrol setiap bulan.

__ADS_1


Walaupun Opa agak kurang menyukai istri Juan, namun untuk urusan ketelatenan dan kesabaran merawatnya saat sakit, Yulia tidak ada tandingannya. Hanya saja Opa terlalu terpengaruh dengan putri kandungnya, Jovi.


******


__ADS_2