Ketika Cinta Itu Datang Lagi

Ketika Cinta Itu Datang Lagi
Selamat Jalan Opa


__ADS_3

Pukul dua dini hari, Opa Saut mengalami sesak nafas, dokter langsung membawanya ke ruang ICU guna penanganan lebih intensif. Jantung nya melemah dan keadaan kembali kritis.


"Berdoa lah, semoga pasien bisa melalui masa kritisnya"


Setengah jam kemudian dia kembali menunjukkan tanda-tanda makin melemah, denyut jantungnya di motinor makin menurun. Begitu juga suhu tubuh nya. Dua orang dokter dan tiga orang perawat berjibaku merangsang kembali kerja jantung pasien.


"Bagaimana dokter?", tanya Juan ketika dokter keluar dari ruang ICU.


"Pasien kehilangan kesadarannya, alias koma. Kita tinggal menunggu seberapa kuat daya tahan pasien tersebut"


"Apa tidak ada yang lain yang bisa kita lakukan, dokter?"


"Kami mohon maaf, Pak. Ini usaha kita sudah maximal. Hanya keajaiban dari Tuhan yang bisa menyelamatkan nya. Berdoa saja, Pak"


Juan, Dicky dan Adellia yang ada di depan ruang ICU terdiam. Mereka tak tahu harus berbuat apa lagi. Hanya bisa pasrah kepada Tuhan.


Setelah dua hari koma detak jantung Opa di monitor mengalami peningkatan. Ada sedikit denyut kehidupan. Juan yang berada disebelahnya seorang diri, duduk mendekat dan menggenggam tangan nya.

__ADS_1


"Papi ... "


"Juan tahu Papi bisa mendengar ucapan, Juan. Juan minta maaf, Pi. Atas segala keegoisan Juan selama ini, yang mungkin membuat Papi susah. Juan juga berterima kasih atas segala perhatian dan kasih sayang, Papi kepada Juan. Papi tidak pernah menganggap Juan sebagai anak tiri. Papi selalu memperhatikan Juan"


"Papi, Juan tau Papi juga sayang dengan Yulia. Aku sebagai suaminya, memintakan maaf untuk semua kesalahan Yulia. Juga maafkan kami, anak-anak Papi yang belum bisa membahagiakan Papi. Bagaimanapun, Yulia tetaplah istri Juan dan Adellia adalah putri kandungku, Pi"


"Juan harap, kita bisa berkumpul selayak nya keluarga utuh yang sempurna seperti dulu lagi. Cepet sembuh ya, Pi"


Juan bangkit dari duduk nya dan mencium kening Papi nya. Berharap ada keajaiban yang diberikan Tuhan untuk papi nya. Namun Tuhan rupanya berkehendak lain, pukul tiga dua puluh menit dini hari, Saut Adijaya menghembuskan nafas terakhirnya. Dia menyerah dengan kondisinya yang makin menurun.


******


Semua pelayat sudah meninggalkan pemakaman, hanya tinggal Juan dan kedua putra putrinya. Saat mereka hendak meninggalkan pemakaman. Yudha bediri di belakang mereka.


"Kak Yudha", ucap Dicky dan Adel bersamaan.


Yudha tersenyum lalu menghampiri mereka. Kedua adiknya langsung bersalaman dan memeluk kakak tertua mereka. Lalu yudha menghampiri Papanya, mereka berpelukan. Lalu kembali menuju mobil.

__ADS_1


"Kak Yudha, kapan datang?", tanya Adellia.


"Tadi subuh pesawat terakhir dari Tokyo"


"Mau stay lama di Indonesia atau pergi lagi, Kak?"


"Ya, ada urusan sedikit di Jakarta. Mungkin akan stay beberapa hari di Jakarta. Kenapa?"


Adel menggelengkan kepala nya. Lalu pindah menggandeng tangan Yudha. Dicky yang melihat itu mengejar mereka. Lalu berjalan beriringan menuju tempat parkir.


******


Yasinan hanya diselenggarakan selama tiga hari. Dan hari keempat semua kegiatan di rumah Reinal Juan Marabahan berjalan sepertu biasanya. Mereka melakukan aktivitasnya masing-masing.


Dicky kembali bekerja di kantornya, Juan masih beristirahat di rumah. Dia masih belum kembali ke kantornya. Hatinya masih merasa sedih atas kematian Papinya. Sementara Adellia, juga dirumah. Ya... Di rumah Reinal Juan Marabahan, Papa kandungnya.


Mereka masih tak saling bicara. Masih terasa kekakuan diantara ayah dan anak itu. Sama-sama malu untuk saling memulai, untuk saling bicara.

__ADS_1


******


__ADS_2