
Keberadaan Adellia dirumah itu sangat dibenci oleh Opa Saut dan Tante Jovi yang tak lain adalah papi tiri dan saudara tiri Juan. Mereka mengacuhkan Adel bahkan terkesan antipati. Dicky selalu melindungi adiknya intimidasi mereka berdua. Juan sendiri tidak dapat berbuat banyak terhadap kedua orang itu. Terlebih terhadap papinya. Walaupun hanya papi tiri namun dia merasa terlalu banyak hutang budi kepada papinya itu.
Siang itu ketegangan menyeruak dari dalam rumah, Dicky yang baru saja tiba dari kantor memarkirkan mobilnya di halaman. Dia buru-buru masuk kedalam rumah. Kejadian ini bermula saat dia menelepon Adel yang berada dirumah, dari ujung teleponnya ia mendengar suara makian dari Jovi kepada adiknya. Tidak terima dengan semua itu Dicky bergegas pulang.
"Hentikan, Tante! Tante tidak pantas berkata seperti itu pada Adellia." Bentakan Dicky cukup membuat semua yang ada di sana tersentak.
"Kamu sudah berani melawan tante ya Dicky. Kamu itu sudah terpengaruh dengan perempuan ga jelas seperti dia!"
"Apa maksud, Tante? Siapa yang perempuan ga jelas? Dia ini adik Dicky. Anak Papa juga," bela Dicky pada adiknya. Dia berdiri dengan gagah di hadapan Adellia. Nalurinya sebagai kakak laki-laki bangkit, dia tak ingin adik perempuannya di sakiti.
"Ya ampun Dicky. Buka deh mata kamu. Sekarang ini banyak sekali orang yang mengaku saudara. Padahal hatinya busuk." Panas hati Dicky mendengar nya. Ingin dia mencekik perempuan busuk mulutnya itu. Namun Adellia menahannya. Memegang tangannya erat-erat. Dia tak ingin kakaknya melakukan sesuatu yang buruk.
"Tantemu benar, Dicky. Jangan terlalu percaya pada perempuan itu. Dia hanya memanfaatkan kamu saja. Sama seperti mamanya." Opa Saut yang datang bersama Juan tiba-tiba mencecar Adel dengan umpatan-umpatan kasar. Adel yang tidak terima mamanya di sebut seperti itu, maju kedepan membalas kata-kata kasar Opa Saut.
"Mulut anda jauh lebih buruk dari wajah anda hei orang tua. Jangan lagi kau menghina mama ku. Atau anda akan menyesalinya seumur hidup. Jangan panggil aku Adellia kalo tidak bisa meluruskan lidah anda yang bengkok!" gertak Adellia penuh amarah.
"Kamu ini tidak punya sopan santun," maki Jovi.
__ADS_1
"Buat apa tata krama dan sopan satun terhadap manusia berhati busuk seperti anda, perempuan tua." Raut wajah Adel menantang Jovi. Tangan Jovi sudah melayang hendak menampar Adellia, namun dengan cepat Dicky menahannya. Dia langsung menarik Adellia kedalam pelukannya.
"Jangan sekali-kali tangan tante coba menyakiti Adellia, kalo sampai itu terjadi, Dicky ga akan tinggal diam!"
"Dicky! Opa kecewa terhadapmu. Kamu terlalu membela perempuan itu. Ingat Dicky jangan sampai kau menyesal nantinya. Dia anak yang ga jelas asal usulnya. Ga jelas siapa orang tuanya. Kalau memang dia benar anak papa mu, dia harus melakuakan tes DNA untuk membuktikannya." Cecaran Opa Saut makin menjadi. Membuat suasana semakin terasa panas.
"Tes DNA?" gumam Adel.
"Ya, tes DNA. Apa kamu takut nona?" ejek Jovi.
"Baiklah kita berangkat sekarang kerumah sakit," titah Opa saut. Dengan tertawa kecil Adellia menerima tantangan itu. Toh, tidak perlu menakutkan apapun. Terlepas dari benar atau tidaknya hasil tes nanti, dia sudah merasa puas dengan pertarungan ini.
******
Setiap orang memiliki DNA yang berbentuk double helix atau rantai ganda, satu rantai diturunkan dari ibu dan satu rantai lagi diturunkan dari ayah. Hal inilah yang bisa mengungkapkan asal usul keturunan. Hal ini bisa dilihat dari susunan DNA anak, lalu dibandingkan dengan kedua orang tuanya. Kalau susunan DNA ibu dan ayah itu ada pada anak, berarti anak itu adalah anak kandung.
Dokter sudah mengambil sampel darah, rambut, air liur dan kuku Juan serta Adellia. Opa Saut meminta untuk tes DNA lengkap supaya hasil yang di peroleh akurat. Dia sangat yakin bahwa Adellia bukanlah anak kandung Juan. Karena menurutnya Yulia melahirkan anak itu saat dia pergi dari rumah dan tak pernah kembali untuk waktu lama.
__ADS_1
"Dengar!" tegas Opa saut pada Adellia. "Jika hasil tes DNA ini membuktikan kalau kau bukan anak kandung Juan, kau harus merasakan dinginnya penjara. Dan jangan sebut aku Saut kalau aku tak bisa melakukan itu."
"Bagaimana jika hasilnya sebaliknya?" tantang Adel. "Kalian juga harus merasakan hal yang sama dong kalau begitu," ejek Adellia sambil tertawa.
"Aku tak perduli apapun hasil tes DNA ini, yang jelas kalian lah yang akan menyesal nantinya .... " Belum selesai selesai Adel melanjutkan perkataannya. Tiba-tiba Yulia muncul di rumah sakit. Dia sangat terkejut mendengar obrolan tadi.
"Mama," gumam Dicky
Yulia mendekati Juan dengan wajah marah, hatinya bagai teriris melihat kejadian itu. Juan hanya diam melihat kedatangan Yulia. Dia tak menyangka kalau Yulia akan muncul pada saat begini.
"Maksudnya ini apa, Kak Juan? Tes DNA? Kau meragukan Adellia?" tanya Yulia.
"Bagus. Akhirnya kau muncul juga," ucap Jovi sinis. Namun Yulia tidak memperdulikan Jovi. Pandanganya tertuju pada Juan. Dia benar-benar kecewa terhadap Juan.
"Dengar! Kau akui atau tidak, Adellia tidak butuh kamu Kak Juan. Sejak lahir dia sudah terbiasa dengan tiadanya kamu bersamanya. Jadi kalau kamu pikir dia akan datang mencari mu, atau bahkan mengharapkan hak waris dari mu, tidak benar. Dia jauh lebih bahagia berama ku dan Yudha. Hidupnya lebih dari layak tanpa kamu. Ingat ini Kak Juan, jangan pernah sekali lagi kamu usik Adel!" Yulia menarik tangan Adel dan mengajaknya pulang. Dia tidak terima putrinya diperlakukan seperti ini oleh ayah kandungnya. Yulia menghentikan sebuah taxi di halaman rumah sakit. Dicky yang datang mengejarnya, memegang tangannya. Dia tak ingin Yulia dan Adel pergi. Namun, Yulia terlanjut sakit hati. Dia hanya memeluk Dicky, lalu bergegas pergi menaiki taxi dan menghilang di keramaian kota.
******
__ADS_1