
Andhika Alzio Marabahan. Cucu pertama keluarga Marabahan. Putra sulung dari Yudha Lintang Marabahan. Walaupun masih berusia empat tahun dia memiliki wajah yang tampan dengan kulitnya yang bersih. Manik matanya keabu-abuan. Maklum ibunya seorang blasteran Jerman-Inggris-Indonesia. Clarissa Krueger, lahir dari ayah seorang Jerman tulen dan ibu yang Blasteran Inggris-Jogjakarta.
Dika lahir di Jerman dan besar di Jepang. Maklum saja, Papa nya sering pindah tugas ke luar negeri. Lesung pipinya menambah manis senyuman pemuda kecil itu. Selain itu dia juga sangat lincah dan ceriwis.
Pemuda kecil itu sejak umur satu tahun dua bulan sudah pandai berjalan, lalu pada saat berusia dua tahun delapan bulan dia sudah bisa mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas. Dia juga lancar berbahasa Inggris, Jepang dan Indonesia. Selama di Jepang dia berhabasa Jepang dengan teman seusianya, namun saat di Pra-sekolah di jepang, dia dimasukkan di kelompok Pra-sekolah khusus anak-anak Indonesia. Mama nya membisakan sehari-hari berbahasa Inggris yang dicampur bahasa Indonesia dirumah. Karena itu tak heran bahasanya campur-campur. Jadi menambah kesan lucu dan menggemaskan bagi yang melihat nya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Jawab perempuan yang ada didalam. Melihat kedatangan Adel, perempuan itu langsung memeluk nya.
"Kak, Risa ... Kangen sekali. Lama ga ketemu"
"Aku juga kangen loh, cantik. Bagaimana kabarmu"
"Kabar baik, Kak. Ooh.. iya , Pa ... Ini Kak Clarissa. Istri Kak Yudha"
Clarissa tersenyum. Dia mengambil tangan Juan lalu mencium punggung tangan Papa mertuanya. Risa sudah terbisa dengan adat dan budaya Indonesia.
Lalu dia bersalaman dengan adik iparnya yang tampan. Dicky kagum dengan Kakaknya. Rupanya kakaknya punya selera yang sangat bagus untuk urusan perempuan.
Terlebih lagi Clarissa saat ini sedang hamil muda, dia mengandung calon cucu kedua keluarga Marabahan.
__ADS_1
"Kak Yudha, kemana Kak?" ,tanya Dicky.
"Tadi pagi dia bilang akan ke kantor kementerian. Mungkin sebentar lagi dia pulang"
Benar saja, Yudha muncul di balik pintu.
"Papa ...."
Dika melompat ke pelukan Papanya. Dia membisikkan sesuatu. Lalu Yudha terawa mendengarnya.
"Apaan sih pake bisik-bisik?",protes Adellia.
"Tante ..."
"Ini pembicaraan laki-laki. Perempuan tidak usah ikut campur, ya ..."
Sontak saja seisi ruangan tertawa mendengarnya. Adel yang merasa sebal, langsung memonyongkan bibirnya.
"Sudah cukup bercanda nya, saatnya makan malam. Ayo semuanya kesini"
Yulia memberi kode untuk segera berkumpul dan makan malam. Tanpa di komando lagi semua menuju ruang makan. Makan malam yang sempurna bagi keluarga Marabahan.
******
__ADS_1
Malam itu semua keluarga berkumpul dan menginap dirumah Yudha. Saking bahagianya malam itu, Dicky tak bisa memejamkan matanya. Hatinya begitu gembira sekaligus tak percaya. Dia takut jika ia memejamkan mata, semua ini akan berkahir sebagai mimpi belaka.
Dia berdiri di balkon lantai atas. Menatap kelangit malam yang cerah dan pernuh bintang.
"Kamu belum tidur, Dek?"
"Belum, Kak. Kak Yudha juga belum tidur?"
"Hmm..."
Yudha berdiri disamping adiknya. Ikut memandang kearah langit malam berbintang.
"Kak ..."
"Hmmm..."
"Dicky, bahagia sekali. Keluarga kita bisa lengkap dan sempurna seperti ini. Bertahun-tahun Dicky merasa sendiri dan kesepian. Tapi tiba-tiba Tuhan memberikan Dicky begitu banyak cinta"
" Ya, Dek. Kak Yudha lebih bahagia. Karena perjuangan Kak Yudha untuk mempertemukan kita berhasil. Keluarga kita kembali utuh setelag bertahun-tahun kehilangan cintanya, sekarang cinta itu datang lagi"
Yudha dan Dicky saling pandang. Lalu kedua kakak beradik itu saling berpelukan. Menikmati kebersamaan kembali mereka berdua. Rasa syukur yang tak terhingga ketika cinta itu datang lagi.
TAMAT
__ADS_1