KINATA . Karena Darryl.

KINATA . Karena Darryl.
eps. 3


__ADS_3

Saat aku mengetuk pintu rumah Aliken, orang tua(Ayah) Aliken keluar dengan membawa tongkat yang ia copot dari sapu yang ia punya. Aku berkata, "pak aku sangat minta maaf apa yang telah aku lakukan, aku sangat menyesali apa yang telah aku perbuat, ini saya ada uang, tapi tidak banyak untuk membiayai pengobatan Aliken pak." Tetapi yang Ayah Aliken lakukan ialah, memanggil warga setempat dengan berteriak "maling" "maling" "maling." lalu, warga pun datang dan berkata... kenapa pak Situmorang, mana maling nya... Ini pak, dia maling nya pak, lalu akau di hajar habis oleh seluruh warga yang berada di hadapan aku, karena aku di duga maling oleh warga.


Setelah itu warga pergi meninggalkan aku, lalu bapak Situmorang berkata "itu belum seberapa dari uang yang kamu bawa." Aku memang tidak banyak membawa uang. Aku pun pergi meninggalkan bapak dan ibu Aliken. Aku pergi menuju rumah sakit yang Aliken gunakan untuk berobat. Sesampainya aku di rumah sakit, aku melihat dari jendela kamar Aliken berobat, ia sedang kritis di atas tempat tidur. Dokter yang merawat Aliken keluar dari kamarnya dan berkata "Apakah anda bagian dari keluarga pasien" Aku menjawab "ia, aku bagian dari keluarga pasien, ada masalah apa dengan kakak ku," aku berbohong kepada dokter, demi memastikan Aliken baik baik saja. "Pasien kekurangan darah, ia sangat memerlukan pendonor yang sama dengan nya, karena saat pasien di bawa ke rumah sakit ini, darah pasien bertumpahan di dalam Ambulance," ucap dokter kepada ku.


"Kalau boleh tau golongan darah kakak ku ini apa ya... soal nya saya beda ibu," aku bertanya kepada dokter mengenai golongan darah nya. "golongan darah pasien ialah O, dokter menjawab bahwa golongan darah Aliken ialah O. "Kalau begitu, aku saja yang menjadi pendonor darah buat kakak saya, karena golongan darah saya O," aku memohon kepada dokter tersebut untuk menjadikan aku sebagai pendonor darahnya. "Ok, kalau begitu, ikut saya ke ruang pendonor, untuk di ambil darah nya, dan di donor kepada kakak kamu," aku di bawa ke ruang pendonor untuk di ambil sebagian darah yang ada dalam tubuhku.


"Ok, apakah adek siap untuk di ambil sebagian darah dalam tubuh adek untuk di donorkan?" tanya dokter kepada aku saat aku sudah terbaring di kasur pendonor darah. "Ok, aku siap dok untuk di ambil sebagian darah dalam tubuh ku untuk di donorkan." "Tetapi aku mau berkata kepada dokter, mohon untuk tidak memberi tau siapa-siapa bahwa aku lah yang mendonorkan darah ku untuk pasien, dan juga jangan beri tau bahwa aku ini kakaknya dia, karena aku ini sebenarnya bukan siapa-siapa pasien" aku memohon kepada dokter untuk tidak memberi tau kepada siapa siapa bahwa aku ini Pendonor nya. "Siap dek, dokter tidak akan memberi tau kepada siapa-siapa bahwa adek lah yang mendonorkan darahnya" dokter menyetujui apa yang aku katakan. Aku terasa sangat lemas saat selesai pengambilan darah dalam tubuh ku.


"Darah yang adek berikan, berhasil masuk ke dalam tubuh pasien, jika tadi saja telat memasukan darah adek ke tubuh pasien, kemungkinan besar pasien tidak akan selamat" ucap dokter kepada ku. Darah yang aku berikan berhasil di masuk ke dalam tubuh Aliken yang kekurangan darah. Aliken pun sadar dari kritis nya, dan semakin hari semakin membaik kondisinya.


Suatu hari Aliken dapat kembali ke sekolahnya. aku mengahampiri Aliken untuk mengucapkan permohonan maaf atas kejadian yang menimpa Aliken saat itu. "Aliken, aku mau meminta maaf kepada Aliken atas kejadian yang tidak di sengaja waktu itu" ucap permintaan maaf ku kepada Aliken. "Aku.. tidak akan memaafkan apa yang kamu lakukan kepada ku, karena aku anggap yang kamu lakukan ialah hal yang di sengaja dan di rencanakan, sekarang Densi pergi dari hadapan ku sekarang juga." Aliken pun tidak akan memaafkan perbuatan ku yang sangat tidak di sengaja. Aku tetap berbicara kepada Aliken "aku tidak sengaja Aliken, aku mohon untuk memaafkan ku Aliken"


"pergi" "pergi" "pergi sekarang juga dari hadapan ku" teriak Aliken kepada ku dengan sangat keras.


Sehabis Aliken berteriak, aku pergi dari hadapan nya dan Aliken pun tidak memaafkan kelakuan yang tidak aku sengaja kepadanya. Aku pergi untuk mengikuti kegiatan KMB sekolah yang sedang berlangsung. Bel sekolah berbunyi sangat panjang yang menandakan kegiatan mengajar belajar selesai di lakukan. Anak-anak di persilakan untuk kembali ke rumah nya masing-masing atau meninggalkan sekolah. Aku merasa sangat capek sekali saat itu, maka aku memutuskan untuk pulang lewat jalan cepat, yaitu melewati rumah Aliken.


Saat aku jalan menuju rumah Aku, ada seseorang kira-kira berusia 34 tahun, berteriak kepada waga yang lain, "maling" "maling" "maling" "ada maling di sini". Seluruh warga pun berkumpul lebih banyak dari saat bapak Situmorang memanggil waktu itu. "Ini bukan yang waktu itu maling di rumah bapak Situmorang ya?" ucap seorang warga yang saat itu memukuli aku di luar rumah bapak situmorang. Tentara-tentara Belanda yang berada di sekitar tempat itu mendengar ada seorang yang meneriak ada maling di tempatnya, namun mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi selain pemberontakan terhadap pihak Belanda, di luar itu mereka sangat tidak peduli.


Aku di suruh tiarap di jalanan dan menunggu ada seseorang yang membelanya. Aliken melewati tempat di mana aku tiarap di jalanan. Aliken mengenakan masker dan kaca mata hitam. "Aku bukan maling pak, kalau bapak mau buktikan aku bukan maling, bapak tanya kepada anak itu ,yang menggunakan masker dan kacamata pak, sumpah pak, aku bukan maling pak"


Seorang warga memanggil orang yang di maksud dan berkata "dek, adek kenal anak ini tidak" Aliken tidak menjawab, karena ia tidak menoleh ke belakang dan melihat wajah orang tersebut. Aku pun di pukul habis oleh warga hingga wajah ku bonyok dan hampir mati. Sejak saat itu aku memiliki rasa benci dan ingin menghabisi Aliken. Yang aku pikirkan saat itu ialah "mengapa Aliken sangat tega membiarkan aku di habisi oleh warga sekitar, padahal aku rela memberikan sebagian darah ku saat itu, untuk menyelamatkan nyawanya." aku tidak menghitung-hitung kebaikan aku kepada Aliken, tetapi yang aku maksud ialah mengapa Aliken sangat tega membiarkan aku di habisi oleh warga. "Kenapa dia sangat tega melakukannya?." Selesai aku berfikir aku dapat menyimpulkan "aku tidak akan pernah mau bersekolah lagi, karena bagi ku sekolah tempat paling aku benci di seluruh dunia.


Aku kembali ke rumahku karena sudah pukul tujuh malam. "Nak, papah baru saja di keluarkan dari tempat kerja papah, karena papah di tuduh mencuri uang seorang karyawan teman papah, mulai hari ini Densi harus hidup hemat ya nak," ucap papah ku kepada ku saat aku baru pulang dari sekolah. Hidup aku saat itu sangat kacau sekali, sudah aku pulang-pulang ke rumah kesakitan di wajahku, dan mendengar Ayah aku di keluarkan dari tempat kerjanya. "Ia pah, papah besok ke sekolah untuk mengajukan surat berhenti sekolah, aku sudah malas sekolah pah" kata ku kepada papahku. Keesokan harinya papahku ke sekolah untuk mengajukan surat berhenti sekolah kepada guru aku.


Aku pun berhenti sekolah. Berhari hari aku nganggur. Pada suatu hari aku berfikir untuk membangun sebuah pondok nongkrong dan mendirikan sebuah geng yang di takuti oleh masyarakat. Aku pun mulai mencari kerja dan mendapatkannya. aku mulai menabung dan terkumpul lah uang yang aku hasilkan dari kerja kerasku. Lalu uang tersebut aku gunakan untuk membangun sebuah pondok nongkrong yang tidak terlalu besar. Dan aku kumpulkan seluruh anak jalanan yang berada di sekitar pasar ini sebany ak 10 orang. lalu aku namakan geng Tarata. "itulah cerita mengapa aku bisa di sini dan mendirikan pondok ini" itulah cerita Densi, mengapa ia bisa di tempat itu dan mendirikan pondok sambil memakan cakwe bersama aku. "Ohh, jadi begitu ceritanya," jawab aku terhadap ceritanya yang di ceritakan Densi.

__ADS_1


Anggota geng Densi yang tidur, terbangun mendengar Densi dan Aku berbincang bincang mengenai kehidupan keduanya. "Aduh laper nih, uda ada makan belum?," tanya Seorang anggota kepada Densi tentang makan, begitu ia bangun dari tidur nya. "Itu ada cakwe, tadi aku beli banyak, untuk kalian semua" jawab Densi mengenai makanan yang ia beli. "Keni kamu harus tetap waspada ya di tempat ini, karena geng seperti kita di tempat ini banyak dan saling bermusuhan satu sama lain," ucap Densi kepada aku untuk tetap waspada dengan tempat yang ia tinggali. "Ok, aku akan tetap waspada, dengan tempat ini" jawab Aku kepada Densi mengenai kewaspadaan dengan tempat yang ia tinggali saat ini.


Ternyata saat aku sudah berada di tempat itu, sejak kemarin malam, aku di mata matai oleh anggota geng anggota lain, yang bermusuhan dengan geng Tarata. Lalu anggota geng tersebut yang memata matai aku, menuju ke tempat dimana pemimpin nya berada. geng yang memata matai keberadaan Aku bernama geng Terosi.


"Bos.. ternyata geng Tarata memiliki anggota baru, yaitu perempuan yang bernama Keni," ucap anggota geng Terosi kepada pemimpin nya yang bernama Evan. "Menurut kalian semua, kalau kita bawa Keni ke tempat ini, untuk membebaskan nya kita meminta kepada Densi selaku pemimpin geng Tarata apa ya?," tanya evan kepada seluruh anggotanya, yang berjumlah sepuluh orang bersama Evan. "bagaimana jika kita meminta pondok jelek itu,


karena begitu kita mendapatkan pondok jelek itu, secara otomatis mereka tidak memiliki tempat untuk berkumpul dan nongkrong, jika mereka tidak berkumpul, maka mereka bukan lagi sebuah geng di tempat ini" jawab seorang anggota geng Terosi yang bernama Koli kepada Evan.


"Apakah ada yang memiliki saran lagi, atau sebuah ide untuk melumpuhkan geng Tarata?,"


tanya Evan kepada seluruh anggota nya. "kalau saran saya, bagaimana jika kita mengikuti ide nya Koli, kita tidak memiliki ide sama sekali karena kita tidak tamat SD, hanya Koli yang tamat SD" kata seorang anggota kepada pertanyaan Evan. "Ok kalau begitu, kita ikutin saran dan ide yang Koli berikan" ucap Evan kepada seluruh anggotanya. "Sekarang kalian semua tangkap Keni sekarang juga, bawa ia ke tempat ini, bilang kepadanya, ada sebuah acara ulang tahun," perintah Evan kepada seluruh anggotanya untuk menangkap Keni.


"Ok Keni, kamu tetap waspada di sini ya bersama anggota lain nya, aku mau membeli makan untuk makan siang nanti," kata Densi kepada aku untuk tetap waspada, karena ia mau membeli makanan untuk makan siang nanti. Densi pergi membeli makanan untuk di makan nanti siang.


"Itu Densi sudah pergi," cap seorang anggota geng Terosi kepada seorang anggotanya, dengan suara pelan nya. di sekitar rumah warga yang dekat dengan pondok itu. "Sekarang kita bagi tugas, aku menangkap Keni dan yang lainnya menahan seluruh anggota geng Tarata, jangan ada yang biarkan Keni di jaga, alihkan seluruh anggota untuk tidak menjaga Keni," perintah Koli kepada seluruh anggotanya.


"Ayo, sekarang jalankan rencana nya" ucap Koli kepada anggotanya. Lalu seluruh anggota geng Terosi berjalan secara perlahan melewati rumah warga ke rumah warga lainya, hingga sampai di pondok tersebut. Rencana yang di buat oleh Koli untuk menangkap Keni pun di jalankan satu demi satu. Geng Terosi menyerang geng Tarata dengan kayu yang di tangan nya.


"Ada geng Terosi sedang mengarah kepada kita, semuanya pegang kayu yang berada di belakang pondok, "seraang" ucap seorang geng Tarata kepada anggotanya. Geng Tarata dan geng Terosi pun saling serang-menyerang menggunakan kayu yang berada di tangan nya. "Awas ada kayu nya mengarah ke kepala mu," ucap seorang anggota geng Tarata kepada temannya dengan cepat. "pukul kepalanya higga benjol," ucapan geng Terosi kepada temannya. Sementara yang lain lagi serang- menyerang. Koli anggota geng Terosi menculik Keni dengan sangat mudah dan meletakan surat di pondok tersebut.


Koli pun membawa Keni menuju gudang rongsokan, dimana disitu ada Evan yang menunggunya. "Lepaskan-lepaskan" "lepaskan," ucap Keni kepada Koli, untuk melepaskan nya. "Tenang kamu mau di bawa ke tempat acara ulang tahun," ucap Koli kepada Keni dengan nada senang nya. "Ayo, mundur, Densi sudah datang" ucapan seorang anggota geng Terosi kepada seluruh anggota geng Terosi, untuk kembali ke tempat tongkrong nya. Seluruh geng Terosi pun mundur menuju tempat tongkrong nya.


"Ini ada apa, apa yang terjadi?" tanya Densi kepada seluruh anggotanya. "Kami semua tidak tau bos apa yang terjadi, tiba-tiba mereka menyerang kita dan kita....lawan" jawab seorang anggota kepada pertanyaan Densi.


"ia betul bos"

__ADS_1


"betul"


"betul bos"


"betul bos"


ucap seluruh anggota geng Tarata kepada Densi


"Ok, lalu dimana Keni?, ada yang lihat Keni?,"


tanya Densi kepada anggotanya. "Sepertinya di bawa kabur deh bos oleh geng Terosi" jawab seorang anggota kepada Densi. "Bos ini ada surat dan tulisannya dari Evan, untuk Densi," ucap seorang anggota kepada Densi. "coba, sini, mana lihat," jawab Densi kepada seorang geng yang menemukan surat itu.


Densi membuka surat tersebut dan membacanya, di hadapan anggotanya.


surat tersebut berisi


"Densi teman baik ku, ini Evan, teman tapi musuhan, apa kabarnya Densi, mudah-mudahan selalu baik dan sehat, aku sangat merindukan Densi sejak lima menit yang lalu, apakah Densi merindukan ku?, pasti jawaban nya ia, dulu kita suka main bareng, dengan tongkat yang kita punya, dengan anggota mu, sangking senang nya, kepala ku sampai benjol terkena tongkat yang kamu pegang, di masa seperti itu, yang aku kangenkan, semoga hal itu bisa terulang lagi, aku menulis surat ini karena hal-hal yang aku tulis di atas akan terulang lagi, pasti senang dong, dengan kabar ini, aku tunggu hari ini juga pukul 12.00 siang, untuk menjemput putri Cinderella yang kehilangan sepatunya, dengan ini akan ada kenangan yang tertulis untuk minggu depan. Begitulah isi surat yang di tulis oleh Evan untuk Densi.


"apa yang Evan mau dari kita?" tanya Densi dalam hatinya.


"ok, sekarang kita membagi tugas, aku datang menghadapi Densi, kita semua berjumlah sepuluh anggota, tiga orang mengincar bagian depan, dua orang bagian belakang dua orang bagian samping kanan, dua orang bagian samping kiri, aku menghadapi Evan, aku membawa tongkat yang aku simpan di bajuku, saat aku melemparkan tongkat ke keluar atau ke kaca, kalian semua langsung masuk ke dalam menyerang sekuat tenaga kalian dengan tongkat yang kalian pegang, mengerti semua?." "Ngerti bos," jawab seluruh anggotanya.


Densi menuju tempat tongkrong geng Terosi.


"tok" "tok" "tok" suara ketukan pintu yang di ketuk oleh Densi.

__ADS_1


Tempat tongkrong yang di di diami Evan dengan anggotanya seperti rumah pada umum nya, rumah tersebut membentuk persegi dan atap berbentuk segitiga, bagian sudut rumah terdapat jendela di setiap sisinya.


"Silakan di buka pintu yang di ketuk itu, mungkin itu pangeran yang akan menjemput putri nya" ucap Evan kepada anggotanya Pintu di buka dan Densi masuk mendekati Evan. "Evan apa yang kamu mau dariku?" tanya Densi kepada Evan. "Aku mau pondok kamu saja, gak banyak kok" jawab Evan mengenai pondok nya. "aku tidak akan memberikan pondok itu kepadamu," ucap Densi sambil melempar tongkat nya ke kaca. Anggota geng Tarata pun langsung menyerang geng Terosi dengan tongkat nya.


__ADS_2