KINATA . Karena Darryl.

KINATA . Karena Darryl.
bab 5 (eps.1)


__ADS_3

Aku dan Densi terus mencari pintu yang tadi ada di situ. Beberapa saat kemudian aku memikirkan "aku berada di mana ini?, mengapa tidak ada jalan keluar dari tempat ini." Aku mulai merasakan rasa panik yang begitu, aku terus memukuli batu yang tadi nya ialah pintu, sampai kedua tangan ku ini sedikit mengeluarkan darah, dan aku berlari ke tempat yang aku maksud ialah tempat aku keluar dari tempat itu. Aku berlari ke sana, kesini, semua sudah aku tuju(walau tidak semua), aku langsung menaiki atas goa yang aku lalui tadi, setelah aku naik ke atas gua, aku melihat di sekitar, keliling dan semuanya, ternyata aku dan Densi berada di tempat yang aku tak mengerti. Aku berfikir lagi "bagaiman jika aku tidak keluar dari tempat ini, lebih baik tadi aku di tangkap polisi dari pada aku hanya berdua dengan Densi di tempat yang aku sendiri tidak mengetahui di mana ini."


Aku langsung menemui Densi yang sedang juga memukuli batu gua tersebut, ia terus memukuli batu gua itu, lalu aku mengatakan kepada Densi "buat apa kamu pukulin batu gua itu, aku sudah mencobanya hingga tanganku terluka" Densi menjawab "kalau begitu apa yang harus kita lakukan di tempat ini, apakah kita bersenang-senang, apakah kita tertawa, apakah kita mati saja di tempat ini." aku menjawabnya "yang kita harus lakukan ialah temui orang yang tadi kita temui pingsan dan tegeletak di tanah itu."


Aku dan Densi saat itu berada seperti di pantai dengan suara ombak yang cukup bising. Di pantai itu ada seperti gua yang terbuat dari batu, gua di pantai itu berjumlah tiga, di belakang pantai itu terdapat pulau yang aku belum jelajahi. Dan dua orang yang aku temui itu berada di dekat gua sebelah timur. Aku dan Densi menuju dua orang yang tadi pingsan di dekat gua sebelah timur itu. "Densi ayo cepat jalan nya, pasti kamu tidak percaya dengan hal ini. lihat deh, dua orang yang kita temui tadi hilang maksud aku tidak ada di tempat ini. Aku rasa tadi dua orang itu berada di tempat ini" kata aku kepada Densi. "Ia.tadi aku rasa dua orang itu berada di tempat ini, kemana dua orang itu pergi?, aku rasa ada yang tidak beres dengan tempat ini." kata Densi kepada ku "kita berada di tempat ini karena kita memasuki pintu dekat pasar, kita temui dua orang yang tadi tergeletak di sini tetapi ia menghilang, aku sudah berusaha mencari pintu yang tadi kita lewati, tetapi tidak tertemu juga, sebenarnya tempat apa ini?" lanjutkan bicara Densi kepada ku. "aku rasa kita harus tenang sedikit dengan semua ini, walau terdengar aneh tetapi kita harus tenang, kita cari jalan keluar dengan kepala tenang dan santai, sudah cukup cape aku emosi di tempat ini, sudah cukup juga tangan ku ini terluka, yang harus kita lakukan ialah, kita temui dua orang yang tadi berada di tempat ini." kata ku kepada Densi.

__ADS_1


Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang dengan Densi, Densi pun akhirnya mengikuti saran ku, saran ku ialah memasuki pepohonan yang berada di belakang pantai itu. Aku dan Densi pun mulai memasuki pepohonan yang cukup tinggi itu, tinggi pohon itu sekitar lima belas meter, aku lalui pepohonan itu semua, sekeliling ku dan Densi hanya pohon dan pohon. Tidak lama kemudian, saat aku sedang berjalan melewati pepohonan yang tinggi itu, sangat terkejut dan aku kaget, dua orang yang tadinya pingsan lewat di hadapan ku menuju arah lain. "Densi itu orang yang tadi pingsan, ayo kita ikuti dia mau kemana, siapa tau kita bisa bertanya-tanya untuk bisa keluar dari tempat ini," kata ku kepada Densi. "ya sudah jika begitu, kita ikuti saja dua orang itu, siapa tau dia sedang membuat makanan, aku sangat lapar sekali," jawab Densi kepada ku dengan ekspresi lemas dan lelah. Padahal aku dan Densi belum lama di tempat itu, tetapi ia sudah lapar saja. Aku dan Densi mengikuti dua orang itu, tentunya dengan melewati pepohonan yang tinggi-tinggi. Aku rasa pohon-pohon itu ialah pohon kelapa dengan tinggi lima belas meter. Aku terus ikuti dua orang itu dengan jalan pelan dan sunyi. Tanpa aku sadari, aku tersandung ranting pohon yang berada di bawah kaki ku, aku terjatuh dan tak sengaja mendorong Densi hingga ia ikut terjatuh dengan ku. "aduh Keni, kalau jalan itu lihat kebawah juga, jangan hanya tertuju ke depan saja mata nya, dan harusnya kamu terjatuh jangan bawa aku ikut terjatuh juga, aku sudah lapar, terjatuh lagi aduhhh" kata Densi kepada aku.


Dua orang itu tiba-tiba terkejut melihat aku dan Densi yang tersandung itu. "siapa itu?, aku rasa di tempat ini tidak ada siapa-siapa, dua orang yang terjatuh ini siapa" kata Aliken kepada Densi dan aku. Aliken tidak mengetahui bahwa dua orang itu ialah aku dan Densi. Wajah aku dan wajah Densi menunduk ke bawah karena terjatuh, dengan itu Aliken tidak dapat melihat wajah aku dan wajah Densi. Aliken mengambil batang pohon yang berada di bawah kainya itu. Ia mengarahkan nya ke arah ku dan Densi. "Asmira kamu di belakang ku, jangan takut dan panik, jika dua orang itu macam-macam, aku akan memukul nya dengan kayu ini" ucap Aliken kepada ku dan Densi sambil mengarahkan batang pohon itu ke arah aku dan Densi.


Densi berdiri dari jatuhnya itu, setelah Densi berdiri aku meminta tolong kepadanya untuk membantu aku berdiri dari jatuh ku "Densi tolong bantukan aku berdiri dari jatuh ku ini" kata ku kepada Densi. Densi membantu aku untuk berdiri dari jatuh ku itu, ia menarik tanganku yang aku ulurkan kepadanya, dan ia menarik tangan aku itu, akupun berhasil berdiri dari jatuh ku dan kembali seperti semula. Aku usap tana-tanah yang menempel pada bajuku, celanaku dan tubuhku. Setelah aku merapikan bajuku, betapa terkejutnya aku melihat bahwa dua orang itu ialah Aliken dan Asmira. "Densi, aku tidak salah lihat ini? apakah itu Aliken dan Asmira?" tanya aku kepada Densi. "aku rasa juga tidak salah lihat deh, itu sama sekali wajah dua orang itu seperti Asmira dan Aliken" kata Densi kepada ku. Aliken dan Asmira tentunya juga kaget begitu melihat aku dan Densi, ia saling bertanya-tanga mengenai itu.

__ADS_1


Densi yang berada di hadapan Aliken itu langsung mengarahkan batang kayu yang di pegang nya ke wajah Aliken dengan sekuat tenaganya, Aliken yang di pukul wajah nya itu dengan batang kayu hampir terjatuh ke tanah, kayu yang di gunakan untuk memukuk Aliken sampai patah karena kencangnya pukulan itu di wajah Aliken. Kayu yang patah itu di buang ke tanah dan Densi mengambil batang kayu yang bisa di gunakan untuk memukul nya. Ia menemukan kayu itu dan memukul wajah Aliken dengan kayu itu sekuat tenaganya lagi. Aliken yang di pukul nya itu hampir terjatuh lagi, ia seperti tidak ada tenaga di dalam tubuhnya, Aliken berjalan liar seperti orang mabuk, karena sakitnya pukulan Densi itu. Dan Densi memukul wajah Aliken untuk sekali lagi, ia pun mengarahkan batang kayu itu ke wajah Aliken dengan sangat kencang, Aliken pun tidak kuat lagi dengan pukulan nya itu, ia terjatuh dan pingsan. Wajah Aliken di penuhi dengan darah yang keluar dari bagian dahinya. Densi tidak berhenti ternyata sampai situ, ia melihat bahwa Aliken masih membuka matanya sedikit karena sakitnya itu. Densi yang mengetahui Aliken masih terbuka matanya, ia langsung menendang tubuh Aliken itu.


Saat Densi sedang ingin menendang bagian tubuhnya itu untuk kedua kalinya, aku langsung menuju Densi dan mengucapkan "cukup Densi untuk melukai Aliken, tidak ada gunanya untuk semua ini, kamu tidak mikir apa, jika Aliken dan Asmira mati di tempat ini, siapa lagi yang akan menemani kita di tempat seperti ini. Sekarang masalah kita di sini itu ialah bagaimana kita bisa keluar dari tempat ini?, dan tentang Aliken dengan Asmira bisa kau urusi jika kita semua berhasil keluar dari tempat ini," Asmira langsung mengucapkan hal yang sama kepada Densi "ia betul Densi, kamu boleh membunuh atau mematikan aku dengan Aliken, tetapi hal itu bisa kita lakukan setelah kita keluar dari tempat ini, dan sekarang aku ingin menanyakan kepada mu, siapa lagi yang akan membantu kami keluar dari tempat ini?, kita semua sangat di butuhkan di tempat ini. Kamu Densi yang kuat dapat dengan mudah kamu lindungi kita, Keni yang pintar untuk mengelabui musuh sangat di perlukan di tempat ini, Aliken yang pintar memanjat, dapat dengan mudah menemukan jalan selanjutnya yang akan kita lalui, dan aku yang hanya mengetahui sedikit dengan geografi dapat membantu kita semua menemukan jalan yang seharusnya kita lalui"


Densi sadar dengan apa yang ia lakukan itu, jika ia membunuh Aliken dan Asmira di tempat itu, siapa lagi yang dapat menunjukan jalan keluar dari tempat itu. Ia pun tidak jadi menendang Aliken yang sudah tidak berdaya itu. "ok jika begitu, bagaimana jika kita membuat kesepakatan mengenai hal ini, aku tidak akan membunuh kalian di tempat ini dan tidak melukai kamu dan Aliken sedikit pun, tetapi kamu dan Aliken harus menemukan cara keluar dan kembali ke pasar, tempat aku dan Keni awal semula itu, apakah kita sepakat?" ucap Densi kepada Asmira. Asmira yang mendengar hal itu langsung berjabat tangan dengan Densi yang membuat kesepakatan itu, "ok kita sepakat. kamu tidak akan melukai aku dan Aliken sedikit pun selama perjalanan dan aku dengan Aliken akan mencari jalan keluar dari tempat ini" kata Asmira kepada Densi sambil berjabat tangan. Kesepakatan antara Asmira dan Aliken pun di sepakati dengan berjabat tangan. "Bagaimana jika kamu dan Aliken tidak dapat menemukan jalan keluar dari tempat ini?, yang harus aku lakukan ialah melakukan hal yang dengan apa yang aku lakukan tadi kepada Aliken" kata Densi kepada Asmira. "jika saja kamu memikirkan bahwa aku dan Aliken tidak dapat menemukan jalan keluar, siapa lagi yang dapat membantu kamu keluar dari tempat ini. Dan jangan pernah ada pikiran sedikitpun mengenai itu, kita tidak akan bisa keluar dari tempat ini sedangkan kita saja belum mencobanya, jika pikiran itu adalah awal dari pencarian jalan keluar, aku sangat yakin sekali kita tidak dapat keluar dari tempat ini." jawab Asmira kepada Aliken.

__ADS_1


"Ok jika begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang ini?" tanya Densi kepada Asmira. "Yang dapat kita lakukan pertama ialah mengobati Aliken yang terluka itu, kita akan mengobati dan menghilangkan rasa sakit itu dari Aliken. Jika kita sudah mengobatinya, aku akan bilang kepadanya untuk memanjat pohon ini, dengan begitu jika Aliken berhasil memanjat pohon ini, dia akan melihat sekeliling sekitar ini dan kita menemukan salah satu petunjuk dari sini" kata Asmira kepada Densi. Asmira pun mengobati luka Aliken dengan apa saja yang ada tempat itu. Ia membersihkan luka darah Aliken yang banyak di wajah nya itu dengan baju yang ia kenakan. Darah nya itu tidak berhenti keluar dari atas wajahnya itu. Ternyata darah yang keluar itu berasal dari dahinya. Asmira tidak dapat membersihkan wajahnya itu dengan bajunya lagi, karena sudah banyak darah yang berada di bajunya. "sepertinya kita harus menghentikan darah yang mengalir itu, kita tidak dapat membersihkan darahnya itu terus menerus, kita harus menghentikan darahnya yang mengalir itu," kata Keni kepada Asmira. Lalu Keni menyobek bagian bajunya itu untuk di gunakan di kepada Aliken. Ia menyobek bagian bawah bajunya itu, sobekan bajunya itu cukup untuk mengelilingi bagian dahinya Aliken. Lalu sobekan bajunya itu di buat oleh Keni mengelilingi dahinya Aliken, dan terbukti darahnya itu semakin lama semakin sedikit yang keluar dari kepalanya itu. Aliken yang pingsan itu semakin lama semakin sadar dari pingsan nya itu, dan akhirnya Aliken sadar dari pingsan nya itu.


__ADS_2