KINATA . Karena Darryl.

KINATA . Karena Darryl.
eps. 2


__ADS_3

Pagi hari pun tiba, terdengar suara penjual bubur ayam yang sedang berjualan di luar rumah Aliken, penjual bubur kacang ijo yang berteriak "kacang ijo-kacang ijo." Aliken terbangun karena suara penjual kacang ijo yang sedang berjualan di luar rumah nya. "Aduh.. enak sekali tidur malam ini, mungkin karena kemarin sangat lelah," ucap Aliken kepada diri sendiri. Aliken mandi pagi untuk bersiap berangkat ke sekolah, ia pun siap untuk berangkat ke sekolah nya, dengan seragam yang rapih. "Mamah-papah, adek berangkat ke sekolah dulu ya mah-pah," ijin Aliken kepada kedua orang tuanya, untuk berangkat ke sekolah. "Ia dek, hati-hati di jalan ya, belajar yang betul supaya jadi orang sukses," jawab ibu Reni kepada ucapan izin Aliken untuk berangkat ke sekolah.


Saat sedang ke luar dari rumahnya, Aliken melihat Asmira yang melewati rumah nya untuk menuju ke sekolah. Lalu ia memanggilnya dan berkata, "Asmira, tunggu sebentar, aku mau bicara sebentar." "Ia kenapa Aliken, mau bicara tentang apa" jawab Asmira kepada Aliken karena ia memanggilnya. "Kita bicara sambil makan bubur ayam ya, mumpung aku belum sarapan," kata Aliken mengajak Asmira untuk sarapan bereng dengan nya. "oh, ya sudah, aku juga belum sarapan nih, makan bubur ayam saja" jawab Asmira kepada Aliken untuk sarapan bereng dengan bubur ayam. Mereka menuju tempat orang yang berjualan bubur ayam yang berada di sekitar rumah Aliken. "pak, saya pesan bubur ayam ya, dua porsi saja pak, untuk aku dan dia" ucap Aliken kepada tukang bubur ayam. "Ok, sebentar dulu ya, bapak bikin dulu bubur ayam nya" jawab tukang bubur ayam kepada Aliken yang memesan bubur nya.


"Ok pak, saya tunggu ya pak," jawab Aliken kepada penjual bubur ayam itu. Sebelum mereka memakan bubur ayam, mereka berbincang-bincang sesuatu tentang kemarin malam, "Asmira, kemarin malam aku di suruh mamahku beli daun pandan, ya sudah aku beli lah daun pandan nya. Saat aku sudah sampai di tempat orang yang berjualan daun pandan,Itu aku berada di perapatan jalan pasar itu. Lalu aku membeli daun pandan tersebut. Saat aku mau menuju rumah ku, aku merasa aku dikejar oleh sekelompok orang, kurang lebih sepuluh orang. Awal nya aku tidak merasa di kejar, namun mereka melempar batu kepada ku yang berada di tangan nya. Lalu aku lari menghindari mereka semua. Singkat cerita, jalan yang aku lalui buntu, dan aku bingung harus lari ke mana lagi, sampai akhirnya aku di suruh memutarkan tubuh ku ke arah mereka, supaya mereka mengetahui raut wajah ku.

__ADS_1


Sesudah aku memutarkan tubuhku mengarah kepada mereka, aku kaget ternyata yang mengejarku ialah Densi, teman lamaku di SMAN 77. Singkat cerita, mereka mengikat tubuh ku dan membaringkan tubuh ku di jalan, mereka ingin melindasku dengan gerobak, lalu ada tukang sate yang menyuruh Densi untuk berhenti melakukan yang sedang ia lakukan. Densi berhenti melakukan apa yang ia lakukan kepada ku. Setelah itu, tukang sate tersebut dan teman teman Densi, yang ikut mengejarku, ia meninggalkan aku bersama Densi, setelah semua meninggalkan aku dengan Densi. Densi menuduhku melempar batu kepada dia dan teman teman nya. Aku pun berusaha meyakinkan ia bahwa bukan aku yang melemparkan batu kepada mereka. Aku sampai berani berkata aku berani sumpah dan berani bertarung dengan nya.


Lalu Densi menganggap apa yang aku ucap kan dengan sangat serius. Ia pun berkata, besok ia menunggu di lapangan belakang warnet nya pak Budi, jika aku tidak hadir, ia akan membawa teman nya sebanyak kurang lebih dua puluh orang menuju sekolahku dan memaksa nya untuk hadir di lapangan belakang warnet. Aku bingung harus melakukan apa, makanya aku mau tanya kepada kamu, kamu ada saran tidak untuk menghentikan ini semua" tanya Aliken kepada Asmira tentang sebuah saran yang Asmira miliki.


"Kamu sudah bilang ke Densi belum bahwa kamu hanya bercanda saja," tanya Asmira kepada Aliken. "Aku sudah mengatakan kepadanya, bahwa aku hanya bercanda saja, tetapi ia tidak mau tahu, pokonya aku harus menghadapi dia jam sembilan pagi ini" jawab Aliken kepada pertanyaan Asmira. "aku sebenarnya tidak memiliki saran atau ide untuk menghentikan ini semua. Tetapi aku akan tetap berpikir bagaimana untuk menghentikan ini semua," jawab Asmira kepada Aliken. "Aku dari kemarin berpikir, bagaimana untuk menghentikan ini semua, tetapi aku belum sama sekali menemukan ide" kata Aliken kepada Asmira. "Apa, aku harus menghadapi Densi, untuk bertarung dengan nya" ucap Aliken kepada Asmira.

__ADS_1


Mereka memakan bubur ayam dengan memikirkan apa yang harus di lakukan. "Ini dek minumnya sudah jadi" kata penjual bubur ayam itu kepada Asmira dan Aliken. "Ok pak, makasih ya pak," jawab Aliken mengucapkan terimakasih kepada penjual bubur ayam nya. "Jadi aku harus menghadiri pertarungan aku dengan Densi?," tanya Aliken kepada Asmira. "bagaimana jika kamu tidak hadiri pertarungan ini, kamu di sekolah saja, mengumpet di toilet. Aku yakin kok mereka tidak mungkin berani masuk ke dalam sekolah," ucap Asmira kepada Aliken menanggapi pertanyaan Aliken.


"Tidak, aku tidak perlu ngumpet. bagaimana jika kita menelpon polisi saat mereka tiba di sekolah dan membuat kekacauan" ucap Aliken kepada ucapan Asmira. "Oh iya, begitu mereka datang ke sekolah dan mereka membuat kekacaun, kita langsung menelpon polisi terdekat," kata Asmira. Aliken dan Asmira pun mendapatkan ide yang ia pikirkan selama ia berada di tempat bubur ayam itu.


"Oh ia, kita mendapatkan nomor polisi terdekat di mana ya?" tanya Aliken kepada Asmira. "Bagaimana jika kita tanya penjual bubur ayam ini, mungkin ia memiliki nomor polisi terdekat," jawab Asmira kepada Aliken untuk bertanya.

__ADS_1


nomor polisi kepada tukang bubur ayam. "Pak, bapak tau tidak nomor polisi terdekat di daerah ini?" tanya Aliken kepada penjual bubur ayam itu. "oh adek ingin nomor polisi, ini saya punya, untung adek minta kepada saya, soalnya hampir semua orang di daerah ini tidak memiliki nomor polisi, ini nomornya" jawab penjual bubur ayam sambil memberikan nomor polisinya kepada Aliken dan Asmira. "Terimaksih banyak ya pak atas nomornya," ucap terimakasih Aliken kepada penjual bubur ayam. Setelah itu mereka selesai makan di tempat itu dan kembali ke sekolahnya, mereka berlari ke sekolah dengan sangat kencang karena waktu bel sekolah akan berbunyi.


__ADS_2