
mereka pun selesai makan dan minum di warteg tersebut.
"ayo gais, kita pulang sekarang, awan sudah mulai gelap, kayak nya sudah mau hujan"ucap Densi kepada semua anggota geng nya untuk langsung pulang ke pondok.
mereka pun berjalan sekitar 200 meter dari warteg menuju pondok tempat ia tinggal dan nongkrong.
saat sedang di jalan, hujan turun sangat deras mengenai semua orang yang berada di jalan bersama nya.
"aduh.. hujan nih , ayo.. kita lari sangat kencang menuju pondok" ucap Densi kepada semua anggota geng nya.
seluruh anggota geng Tarata pun berlari menuju pondok, untuk beteduh dan menghindari hujan yang jatuh dari langit.
"Keni.. mengapa Keni tidak berlari?" , tanya Densi kepada Keni, karena ia tidak berlari berlari menuju pondok.
"aku tidak bisa berlari jika hujan deras seperti ini, aku takut dengan petir, karena temanku saat itu tersamber petir saat sedang berlari lari di bawah hujan" jawab Keni mengenai ia mengapa tidak berlari.
"ya sudah, sini aku mau berlari menuju pondok, kamu aku gendong saja ya" ucap Densi kepada Keni sambil mengangkat Keni dan di bawa lari menuju pondok.
Keni pun di gendong oleh Densi dengan berlari, melewati hujan yang mengguyur mereka.
"Densi, aku pengen tanya ke Densi"
ucap Keni kepada Densi saat sedang di gendong melewati air hujan yang deras.
"tanya apa Keni, kalau Keni mau bertanya, langsung tanya saja" jawab Densi kepada Keni dan berharap Keni akan bertanya, apakah Densi mencintai aku?.
"mengapa kita tidak tinggal di rumah orang tua Densi?, dan jadikan pondok sebagai tempat tongkrong saja" tanya Keni kepada Densi.
"ohh.. ternyata cuman tanya itu...,
aku dan anggota geng ku tidak tinggal di rumah orang tuaku, karena orang tuaku di tuntut untuk membayar hutang yang ia pinjam sebesar dua ratus juta untuk berjudi, lalu menjadikan rumah nya sebagai jaminan, dan rumahku di sita untuk beberapa waktu yang aku tak tau berapa lama, oleh Bank",
jawab Densi kepada Keni, mengenai, mengapa ia dan anggota geng nya tidak tinggal di rumah orang tuanya.
Keni dan Densi pun sampai di pondok untuk berteduh dari hujan yang deras bersama semua anggota geng nya.
"aduh.. malam ini kita makan apa ya, uang yang aku punya hanya tiga puluh ribu rupiah saja" ucap Densi dalam hatinya sambil menatap Keni dan yang lain nya yang sedang bercanda dan tertawa tertawa.
hujan deras pun berhenti, mengguyur pondok itu dan sekitar nya.
__ADS_1
"gais, aku mau membeli makan dan minum, untuk kita makan malam nanti. jaga Keni ya, jangan sampai tertangkap lagi oleh geng Terosi. karena geng Terosi tidak mengincar Keni tapi ia mengincar pondok yang kita jadikan tempat tinggal ini. jika pondok ini jatuh ke tangan geng Terosi, maka kita tidak memiliki tempat untuk tinggal dan berteduh dari hujan yang deras"
ucap Densi kepada semua anggota nya untuk menjaga Keni.
Densi pun pergi dari pondok dan mencari makan yang murah tapi cukup untuk sepuluh orang.
lalu Densi bertemu bencong yang sedang meminta uang di dekat nya.
"mas, boleh minta uang nya tidak, sedikit saja" ucap bencong tersebut kepada Densi untuk meminta uang yang Densi miliki.
kebiasaan bencong ialah meminta uang kepada orang yang berada di dekat nya, dengan berpenampilan seperti perempuan, padahal ia laki laki. biasa nya bencong memiliki sifat yang memaksa kepada orang yang dia anggap lemah, tetapi karena Densi di anggap di tempat itu, bersama geng nya, ialah paling di takuti di tempat itu.
"enggak ya.. aku tidak memiliki uang lebih untuk aku berikan kepadamu" jawab Densi kepada bencong yang meminta uang dengan nya.
"ya sudah kalau begitu, aku pergi aja dari sini, bayy" ucap bencong kepada Densi dengan nada laki laki berbicara seperti perempuan.
"nah.. itu ada sate di situ, beli sate saja lah"
ucap Densi kepada diri sendiri.
Densi pun menuju gerobak sate tersebut.
"pak satu bungkus berapa duit pak?"
"satu bungkus, isi sepuluh bungkus, harganya dua belas ribu saja dek" jawab tukang sate tersebut mengenai harga sate yang di jual nya.
"pak, satu bungkus sepuluh ribu rupiah saja pak. satu bungkus sepuluh ribu, saya beli tiga bungkus, karena teman teman ku pada belum makan pak" ucap Densi kepada tukang sate tersebut mengenai harga satenya untuk di kurangkan sedikit.
"ok deh, kalau begitu, karena bapak kasihan dengan teman mu yang belum makan, saya kasih lima bungkus dengan gratis" jawab tukang sate kepada Densi dengan memberikan sate gratis.
"makasih banyak ya pak, bapak kalau butuh bantuan saya, saya siapa membantu bapak,dan saya doakan supaya bapak di lancarkan rezekinya" ucap terimaksih Densi kepada tukang sate tersebut.
"ia, sama sama, semoga teman teman adek kenyang dengan memakan sate ini" , kata tukang sate menanggapi ucapan terimaksih Densi.
"ini dek, satenya sudah jadi" ucap tukang sate kepada Densi.
"sekali lagi saya berterimakasih sebesar besarnya kepada bapak" kata Densi berterimakasih kepada tukang sate.
Keni pun menuju pondok dengan membawa sate yang di kasih oleh tukang sate tersebut.
__ADS_1
awan di langit berubah menjadi hitam yang menandakan malam hari sudah tiba.
"Aliken" "Aliken" "Aliken" , suara ibu Reni memanggil Aliken yang berada di ruang atas rumah nya.
"ia mah, ada apa mah" jawab Aliken menanggapi panggilan mamanya.
"ini....tolong belikan daun pandan di pasar malam yang berada di gang besar, daun pandan nya mamah mau pake untuk membuat kacang ijo. teman mamah beli kacang ijo dadakan. katanya ia mau langsung ada saat pagi hari" ucap ibu Reni kepada Aliken untuk meminta tolong membelikan daun pandan.
"ok mah,pasar nya berada di gang besar ya mah?" tanya Aliken mengenai lokasi pasarnya.
"ia.. nanti Aliken keluar rumah, terus lurus saja sejauh lima puluh meter, setelah itu belok kiri, setelah belok kiri Aliken lurus saja sampai menemukan gang besar yang berada di sebelah kanan, nanti Aliken masuk aja ke gang itu, dan cari daun pandan" jawab ibu Reni mengenai lokasi pasar gang besar tersebut.
Aliken pun menuju pasar gang besar tersebut.
setelah perjalanan yang lumayan jauh, ahkirnya Aliken sampai di pasar malam tersebut.
"pak, yang berjualan daun pandan di mana ya pak?" tanya Aliken kepada tukang bayam yang berjualan di situ.
"adek tinggal lurus, terus ada perapatan, nah di daerah itu yang berjualan daun pandan, jika adek kebingungan , adek tanya saja kepada orang sekitar yang berada di sana" jawab tukang bayam tersebut mengenai pertanyaan Aliken tentang lokasi orang yang berjualan daun pandan.
Aliken pun menuju perapatan dan mencari orang yang berjualan daun pandan.
Aliken pun belum menemukan orang yang berjualan daun pandan, karena Aliken tidak pernah melihat daun pandan.
"pak, disini yang berjualan daun pandan tidak?"
tanya Aliken kepada seorang yang berada di sekitarnya.
"itu di situ, di depan tukang bawang" jawab seorang yang di tanya Aliken.
"terimaksih ya pak, karena sudah menunjukan tempat orang yang berjualan daun pandan" ucap terimakasih Aliken kepada orang yang mengasih petunjuk kepada orang yang berjualan daun pandan.
Aliken pun mendekati orang yang berjualan dau pandan.
"ibu... ada jual daun pandan tidak?" tanya Aliken kepada orang yang di tunjukannya.
"oh daun pandan, ini daun pandan, mau beli berapa dek?" tanya orang yang berjualan daun pandan kepada Aliken
"emm.. beli sepuluh ribu saja bu" jawab Aliken kepada orang yang berjualan daun pandan.
__ADS_1
"ok, bentar ya, ini daun pandan nya dek"
ucap orang yang berjualan daun pandan tersebut dengan memberikan daun pandan.