
Jakarta pada tahun 1938, belum ada banyak gedung tinggi yang kayak sekarang ini, yang aku ketahui tentang jakarta pada saat itu ialah hanya ada satu bangunan tertinggi di kota jakarta itu, bangunan itu ialah menara setinggi seratus tiga puluh tujuh meter. pada tahun 1935,menara itu di ganti fungsi nya oleh pihak Belanda, yang awal fungsi menara itu aku juga tidak mengetahui nya, di ganti fungsi menjadi tempat rekreasi.
"akhirnya sampai juga deh" ucap Aliken kepada Asmira yang berada di belakang motor nya.
Aliken dan Asmira pun turun dari motornya, lalu memasuki menara tersebut .
"pak harga naik menara berapa duit pak?" tanya Aliken kepada penjaga kasir tersebut.
"untuk pelajar 8 ribu dek" , jawab penjaga kasir itu kepada pertanyaan Aliken yang di tanyakan ke kasir itu.
"nih pak, uangnya jadi 16 ribu ya pak" ucap Aliken sambil memberikan uangnya.
"ok dek, silakan naik" jawab penjaga kasir tersebut.
Aliken dan Asmira pun naik ke puncak menara menggunakan tangga yang berada di dalam nya. ia lewati anak tangga satu persatu, hingga akhirnya ia sampai di puncak menara itu.
Aliken dan Asmira sampai di puncak menara tersebut dengan ketinggian 137 meter diatas permukaan laut.
"waw tinggi bangat, aku pikir biasa saja, ternyata tinggi bangat dari yang aku bayangkan", ucap Asmira kepada Aliken.
"uhhh, udara yang segar dan sejuk, mengingatkan ku, rumah paman di bandung yang begitu sejuk" , ucap Aliken ke Asmira dengan rasa kangennya dengan rumah pamannya yang berada di bandung.
"kalo begitu, jika aku dewasa, rumahku di bandung saja karena sejuk dan dingin, gak seperti di jakarta yang panas" kata Asmira mengucapkan kepada Aliken.
__ADS_1
Aliken dan Asmira pun menikmati udara segar puncak menara dengan mengunyah permen karet yang ia bawa di kantongnya.
Setelah selesai melihat pemandangan jakarta dan menghirup udara segar di ketinggian 132 meter. Aliken pun turun dari menara untuk mengantar Asmira pulang ke rumahnya.
Aliken sampai di bawah menara dan bergegas pulang bersama Asmira.
Aliken dan Asmira pun pulang meninggalkan menara menggunakan motor untuk balik ke rumah.
Asmira sampai di depan warung ibu Tati dengan di antar oleh Aliken.
"maksih ya Aliken udah mengajak ku ke monas untuk menikmati pemandangan jakarta"
ucap Asmira berterimakasih kepada Aliken.
jawab Aliken kepada Asmira.
Aliken pun balik ke rumahnya dan Aliken mengembalikan motor ke rumah nya Kero.
"tok" "tok" "tok" , suara ketukan pintu rumah Kero yang di ketuk oleh Aliken.
pintu pun di buka oleh Kero.
"ini bro gua balikin motor yang gua pinjam, maksih banyak ya" ucap terimakasih Aliken kepada Kero.
__ADS_1
"biasa aja, gak usah bilang makasih segala, kalo mau pinjam tinggal ambil aja, kuncinya gua taro di atas meja" jawab Kero terhadap ucapan terimakasih kasih Aliken.
"ia, bro, lo itu teman paling baik di hidup gua"
jawab Aliken kepada Kero.
lalu Aliken pun balik ke rumahnya dengan berjalan kaki sejauh 200 meter dari rumah Kero.
"gua, harus siap menghadapi bapak gua di rumah nanti" , ucap Aliken dalam hatinya saat sedang di jalan.
Aliken pun sampai di rumahnya. ia menarik nafas sedalam dalamnya. "tok" "tok" "tok", suara ketukan pintu yang di ketuk oleh Aliken di rumahnya.
bapak situmorang pun membuka pintunya, dan langsung mengatakan "tadi menang gak, turnamen futsal di sekolahnya"
"SMAN 77 tidak berhasil membawa piala wali kota pah" jawab Aliken kepada bapa nya.
"sekarang Aliken masuk, papa mau kasih hadiah karena kalahnya pertandingan futsal di sekolahnya" ucap bapa situmorang kepada Aliken dengan suara lembut nya.
Aliken pun masuk ke dalam rumahnya.
bapak situmorang mengambil tongkat yang berada di atas meja, dan memukul Aliken dengan kerasnya di bagian kakinya sebanyak 4 kali.
Aliken merasa kesakitan, ia menahan tangisnya yang ingin keluar.
__ADS_1
"sekarang adek naik tidur, besok adek sekolah" ucap bapak situmorang kepada Aliken sehabis memukulnya. Aliken pun mandi dan tidur dengan nyenyak.