
Aliken dan Asmira terus berlari ke sekolah nya karena mereka takut terlambat masuk ke sekolahnya, betapa terkejutnya mereka melihat pintu gerbang sekolah sudah hampir tertutup. Aliken dan Asmira berhasil masuk ke dalam sekolah dengan tepat waktu. "Tunggu bu, jangan di tutup pintu kelas nya, saya sudah sampai ke sekolah ini dengan tepat waktu," ucap Aliken kepada seorang guru yang ingin menutup pintu pintu kelasnya dengan nafas seperti mau habis. "Ya sudah, cepat masuk sebelum ibu menutup pintu nya," jawab seorang guru kepada Aliken. Aliken dan Asmira pun memasuki kelas nya masing-masing dengan tepat waktu.
Saat sedang pelajaran berlangsung, ada sebuah batu yang masuk ke dalam kelas Aliken dan mengenai seorang murid hingga terjatuh dan pingsan, batu itu semakin banyak yang masuk ke dalam kelas nya. Seluruh murid sekolah SMAN 77 pun keluar dari kelas nya dan mencari tempat berlindung, untuk menghindari batu yang mengarah kepadanya. Bel sekolah berbunyi sebagai tanda peringatan untuk keluar dari dalam kelas dan mencari tempat berlindung. Aliken keluar dari dalam kelas nya dan menemui Asmira di kelas nya. "Ayo Asmira sekarang ikut aku, kita harus mencari tempat berlindung dari batu yang makin banyak mengarah kepada sekolah ini" kata Aliken kepada Asmira, saat ia sampai ke kelas Asmira.
"Sebelum kita mencari tempat berlindung, kita harus secepat mungkin menelpon polisi, yang kita dapatkan tadi di tempat bubur ayam tadi, supaya semakin sedikit orang yang terkena batu nya," kata Asmira kepada Aliken untuk menelpon polisi yang ia dapatkan nomor nya, di tempat bubur ayam tadi. Lalu seorang guru perempuan membawa toa dan mendekati orang-orang yang sedang menyerang sekolah nya, dengan batu yang di bawanya, di luar gerbang sekolah. "Kalian mau apa dari sekolah ini, mengapa kalian semua menyerang sekolah ini dengan melemparkan batu ke arah sekolah ini?," tanya seorang guru kepada orang-orang yang sedang melempari batu ke sekolah nya. Guru yang sedang berbicara dengan nya, di lempari batu oleh orang-orang yang berada di depan nya, hingga pingsan dan terjatuh ke tanah.
"Oh tidak, mereka saja berani melempari guru dengan batu, bagimana jika aku yang menghampiri mereka," ucap Aliken kepada Asmira. "Aliken, coba lihat itu, ada Densi sedang menuju kepada orang-orang yang sedang melempari batu ke arah sekolah ini," kata Asmira kepada Aliken mengenai Densi yang berada di antara orang-orang yang sedang melempar batu ke arah sekolah itu. Lalu Densi yang berada di antara orang-orang yang sedang melempari batu ke arah sekolah itu, mengambil toa di sebelah guru yang pingsan di depan gerbang nya. Aliken dan Asmira langsung memikirkan cara untuk menelpon polisi terdekat, telepon umum yang ada di sekitar sekolah itu jaraknua lumayan jauh dari sekolah itu, dan banyak anggota geng Densi yang sedang menjaga sekolah nya itu, akhirnya di sepakati bhwa Asmiralah yang akan menelpon polisi dan akan keluar dari sekolah itu.
"tes-tes-tes-, apakah semua mendengar suara ku" ucap Densi menggunakan toa yang ia ambil dari guru yang sedang pingsan kepada seluruh murid SMAN 77. "Sudah lama tidak bertemu teman-teman SMAN 77, yang ganteng dan cantik-cantik, tetapi yang di sayangkan, aku berada di sini bukan mau sekolah lagi, tetapi mau membuat sedikit kekacauan di sekolah ini, anak-anak SMAN 77 yang ganteng dan cantik, ada yang masih mengenal ku tidak?" kata Densi kepada murid murid yang sedang ketakutan dan bersembunyi untuk menghindari batu yang mengarah kepada nya, menggunakan Toa. Lalu seluruh murid SMAN 77 keluar dan melihat siapa yang sedang berbicara menggunakan Toa di luar sekolahnya.
"Ini bukan Densi?, anak sekolah ini dulu," kata seorang murid kepada yang lain nya. "Iya ini Densi" "iya" "ini Densi" "itu yang berada di depan sekolah, itu Densi" ucap semua murid SMAN 77 kepada yang lain nya. "Densi, mengapa kamu berbuat seperti ini di sekolah kamu dulu nak?, ada maslah apa sekolah ini dengan mu nak?, coba jelaskan sedikit saja kepada ibu mengenai sekolah ini" tanya seorang guru kepada Densi. "Ok, tenang semua, tenang semua, aku berada di sini karena ada yang memanggil ku datang ke sini, jika aku tidak di panggil ke sekolah ini, aku juga tidak akan menginjakan kaki ku di sekolah ini, apalagi menyerang sekolah ini. Sekarang yang memanggil ku ke sekolah ini silakan menampakan diri nya di hadapan ku, aku tidak akan menyebutkan namanya, tetapi yang aku mau, tampakan lah dirimu di hadapan ku" ucap Densi kepada semua murid SMAN 77 yang menatap nya.
"Siapa yang memanggil Densi ke sekolah ini? "
"ia, siapa yang memanggil nya?"
"siapa?"
__ADS_1
"siapa?"
"menurut mu siapa yang memanggil Densi ke sekolah ini?"
"di mana orang yang memanggil Densi ke sini?,"
tanya semua murid SMAN 77 satu sama yang lain mengenai orang yang memanggil Densi ke sekolah itu.
"Sudah Densi, ucapkan saja siapa yang memanggil mu ke sekolah ini, kami para guru dan murid-murid SMAN 77,akan melanjutkan kegiatan belajar mengajar di sekolah ini, karena waktu KMB belum selesai, jika sudah kamu juga tidak boleh membuat keributan di sekolah ini," kata seorang guru SMAN 77 kepada Densi, untuk mengatakan siapa yang memanggil nya ke sekolah nya. "Ok Bu, baik bu, santai saja, baru saja saya datang, ibu sudah menyuruh saya pergi dari sekolah ini, timpuk batu ke arah ibu itu," perintah Densi kepada seorang geng nya, untuk menimpuk batu ke arah guru yang berbicara tadi. Guru yang berbicara tadi di lempar menggunakan batu hingga pingsan oleh seorang geng Tarata yang di perintahkan oleh Densi.
Lalu Asmira berhasil keluar dari sekolahnya melewati pintu belakang sekolahnya tanpa di ketahui seorang pun. Ia langsung menuju telepon umum yang berada di jalanan. Lalu seorang geng Tarata melihat murid SMAN 77 sedang berada di luar sekolah nya, anggota geng Tarata di perintah Densi untuk mengawasi dan melihat murid SMAN 77 untuk tidak keluar dari sekolah nya, sebelum Densi dan anggotanya pergi meninggalkan sekolah itu. Asmira menyadari bahwa ada dua orang yang sedang mengarah kepadanya. Asmira langsung pergi dari tempat telepon umum itu mencari tempat persembunyian, namun Asmira berhasil menelpon polisi yang dia dapatkan nomornya dari penjual bubur ayam tadi pagi.
"Sekarang kalian semua, murid-murid SMAN 77, jika kalian melihat seorang di kepala nya, ada bekas sebuah luka yang tidak akan pernah hilang, kalian bawa ia ke hadapanku, dan aku langsung pergi dari sekolah ini," ucap Densi kepada semua murid SMAN 77.
"siapa ya, yang punya luka di kepalanya?"
"siapa?"
__ADS_1
"siapa ya?"
"ada yang lihat tidak?"
kata semua murid bertanya satu dengan lain.
"Apakah sudah temui orang yang memiliki luka di kepalanya yang tidak akan hilang?" tanya Densi kepada semua murid yang berada di depan nya. "Kami semua belum menemukan orang yang Densi maksud, kami semua sedang mencari nya" jawab seorang murid kepada Densi. "Ok, kalau begitu, aku kasih kalian waktu sekitar dua puluh menit lagi, jika belum di temui juga, aku dan teman-teman ku yang akan mencari orang itu di dalam sekolah ini," ucap Densi kepada semua murid SMAN 77 mengenai waktu yang ia berikan kepada semua murid SMAN 77. Aliken yang berada di dalam kelas sedang membuat rencana bersama teman-teman nya mengenai mengusir orang-orang di luar sekolahnya yang membuat kekacauan. Setelah rencana selesai di buat, Aliken langsung menampakan dirinya di hadapan Densi. "Apa yang kamu mau dariku?"
aku sudah bilang kepada kamu, bahwa kemarin malam itu hanya bercanda, tetapi kamu menganggap ini semua benar, jadi semua ini bukan aku yang salah" ucap Aliken kepada Densi di depan muka nya.
"Ia, memang bukan kamu yang salah, tetapi ucapan mu yang salah. Ok, jangan banyak bicara lagi, kamu keluar dari sekolah ini dan berjalan menuju lapangan belakang warnet, yang aku tunjukan kamu kemarin malam," jawab Densi kepada Aliken mengenai siapa yang salah dalam situasi seperti ini. Dan setelah mereka berbicara ppanjan-lebar mengenai siapa yang salah, Densi sudah tidak tahan lagi dengan yang Aliken lakukan, ia langsung masuk ke dalam sekolahnya bersama anggotanya untuk membawa Aliken ke belakang warnet. Densi berhasil masuk ke dalam sekolahnya, sementara itu rencana yang Aliken buat bersama teman teman nya langsung di kerjakan, mereka semua yang akan ikut mengusir Densi dan gengnya langsung menyerang Densi dan gengnya itu. Perkelahian antara geng Densi dengan sekolah SMAN 77 di mulai, mereka saling melukai antar kedua belah pihak.
Asmira yang berada di dalam gerobak sampah, ia keringatan karena engap dan bau di dalam gerobak itu. Setelah beberapa lama ia berada di dalam gerobak sampah itu, ia sudah tidak tahan lagi dengan bau sampah yang berada di sekitar nya, panas engap yang ia rasakan. Ia pun mulai mengeluarkan keringat yang di hasilkan karena engap dan bau sampah itu. Tanpa berpikir panjang, Asmira memberanikan diri nya keluar dari gerobak sampah itu, tetapi sebelum ia keluar dari gerobak sampah itu ia berpikir "tadi aku sudah menelpon kepolisian terdekat yang berada di daerah ini, dan polisi itu berkata ia akan datang ke sekolah itu secepatnya dan bersama anggota lain nya. Jadi buat apa aku di tempat yang bau dan panas ini lama-lama, aku keluar dan menampakan diriku, aku pasti akan selamat"
Asmira langsung keluar dari gerobak itu dan ia tidak melihat dua orang yang mengejarnya, Asmira mendengar ada suara siren polisi yang mengarah ke sekolah itu. Kebetulan mobil-mobil polisi itu melewati di hadapan Asmira, Asmira langsung melambaikan tangan nya kepada mobil-mobil polisi yang melewatinya, setelah mobil itu berhenti, Asmira dengan polisi berbicara sekian lama, setelah itu Asmira menumpang mobil polisi itu untuk menuju sekolahnya.
Sesampainya di sekolah, geng Tarata dengan Densi mengetahui adanya mobil polisi yang datang ke sekolah itu, mereka semua langsung pergi dari sekolah itu menuju pondok, tempat mereka berkumpul dan nongkrong. Sebagian ada yang tidak pingsan dan yang pingsan tinggal di sekolah itu. Polisi tidak sempat mengejar geng Tarata dengan Densi, karena mereka semua sudah lari dari sekolah itu ketika mengetahui bahwa polisi sedang menuju ke sekolah itu. Asmira terkejut melihat Aliken yang hampir pingsan karena pertarungan itu. Polisi itu meminta sedikit informasi mengenai hal itu kepada Asmira, seketika Aliken bagun dari pingsan nya itu, Aliken dengan Asmira memberikan semua informasi yang mereka ketahui mengenai hal itu. Aliken mengetahui bahwa jika ia memberikan informasi mengenai Densi dengan geng nya kepada polisi, ia akan di beri pelajaran bahkan bisa di bunuh oleh Densi. Ada salah satu geng Tarata yang pingsan di sekolah itu, nama orang itu ialah Dadryl, Darryl mengetahui bahwa Aliken dan Asmira memberikan informasi mengenai Densi dan gengnya kepada polisi-polisi itu, ia segera memberikan informasi itu kepada Densi, pemimpin geng itu. Darryl segera pergi dari sekolah itu menuju pondoknya dan memberi tau kepada Densi behwa Aliken dan Asmira memberikan informasi mengenai nya kepada polisi. Setelah Densi mengetahui hal itu, ia langsung pergi dari pondok itu bersama teman teman nya ke rumah orang tua Densi.
__ADS_1