KINATA . Karena Darryl.

KINATA . Karena Darryl.
eps. 4


__ADS_3

Aliken yang berhasil memasukan Asmira yang berada di luar jendela kamarnya ke dalam kamarnya melalui jendela bertanya kepada Asmira "apa yang kamu ingin lakukan di sini?" dan Asmira menjawab nya "kenapa aku ke sini. aku ke sini karena sudah melewati, melalui dan perhitungan yang sangat panjang dan rumit. aku datang ke sini karena terbukti di kertas yang aku tulis itu aku akan datang ke sini. aku telahh sangat sangat memperhitungkan hal ini, dan keputusan ku ialah pergi dari dunia ini dengan memegang erat tangan mu. aku memutuskan bahwa aku akan menggantungkan diriku ini bersama mu"


ternyata keputusan Asmira ialah mengikuti hal bodoh yang di pikirkan Aliken. aku sangat sekali bingung dengan perhitungan yang ia lakukan. metode perhitungan nya itu masih aku pikirkan. dan tulisan-tulisan apa yang di tulis Asmira di kertasnya itu hingga sampai ia memilih untuk bersamanya. kalau aku rasa sih, Asmira itu sangat mencintai Aliken. kalau tidak salah ia itu tidak melakukan perhitungan sedikitpun, dia tidak menuliskan sesuatu di kertas hingga ia harus memilih Aliken. Asmira itu hanya memikirkan bagaimana aku bisa meninggalkan dunia ini dengan Aliken dan bla bla bla. tapi keputusan Asmira itu bukan hak aku untuk memilihnya, keputusan dia yah keputusan dia, aku tidak ada hak apalagi mengubahnya.


sebelum Aliken dan Asmira menggantungkan kepalanya itu ke tali yang sudah tergantung di atap kamarnya Aliken, mereka berdoa terlebih dahulu dengan kepercayaan nya masing masing. Aliken melipat tangan nya dan menutup mata, sedangkan Asmira berdoa layaknya seorang muslim berdoa. beberapa saat kemudian mereka pun selesai berdoa. Aliken mengenakan cincin yang ia temukan di jalan pada saat itu saat ia hendak menggantungkan dirinya itu.

__ADS_1


Densi dan Keni merasa suda dekat sekali polisi yang mengejarnya itu ke arah mereka. Densi menanyakan kepada ku "apa yang harus kita lakukan saat ini?" dan aku menjawabnya "entah gimana aku juga tidak tau apa yang harus di lakukan. Densi melihat belakangnya itu ada pintu gudang yang tingginya sekitar empat meter dan lebar dua meter. setelah melihat pintu itu, dia mengatakan kepada ku "kita buka saja pintu ini dan kita masuk ke dalam nya" aku pun menjawab "bagaimana bisa kita membuka pintu ini. dengan apa kita membukanya." Densi menjawabnya "dengan apa saja yang dapat membuka pintu ini. apa saja yang kamu kantongi itu, keluarkanlah saja, entah apa itu" aku menjawabnya lagi "ok jika begitu. aku akan mengeluarkan apa yang ada di kantong ini" saat aku mengeluarkan barang yang ada di kantongku ini, aku memegang sesuatu yang sepertinya terbuat dari besi tetapi itu kecil.


saat aku mengambilnya, ternyata barang kecil itu ialah kunci yang waktu itu aku temukan di jalan bersama kotaknya, tetapi kotaknya itu aku buang di tempat sampah yang berada di sekitarnya. saat aku mengetahui bahwa yang berada di kantongku itu kunci aku mengatakan nya kepada Densi "Densi ini di kantongku ini ada sebuah kunci. mungkin saja kunci ini bisa membuka pintu ini" Densi menjawabnya "ya suda jika begitu, coba saja buka pintu ini dengan kunci itu. mudah mudahan saja pintu ini terbuka. lalu di masukanlah kunci yang aku pegang itu ke dalam lubang kunci pintu itu. ternyata kunci itu cocok sekali dengan lubang kunci pintu itu. pintu itu pun berhasil di buka.


Aliken yang sudah mengikat talinya itu ke kepalanya dan Asmira pun telah mengikat tali gantung nya itu ke kepalanya. mereka hanya tinggal turun dari kursi yang di naikin nya itu. secara bersamaan Aliken dan Asmira turun dari kursi itu dan secara bersamaan juga Densi dan Keni memasuki pintu itu. pintunya pun di tutup oleh Densi dan mereka memasuki ruangan yang gelap itu. Asmira dan Aliken yang sudah terjun dari kursi nya itu ke bawah, ternyata ia berada di awan yang putih. ia berada di sekeliling awan yang putih, awalnya Aliken dan Asmira mengira jika itu hanya sebuah halusinasi. tetapi makin lama mereka merasakan mereka akan jatuh dari tempat yang sangat tinggi. kira kira Aliken dan Asmira berada si ketinggian sembilan ratus meter di atas permukaan laut. Asmira dan Aliken secara bersamaan berteriak "ahhh, kita berada di mana ini" hingga akhirnya Aliken dan Asmira mendarat di daratan dan entah karena apa, mereka itu masih hidup dan tidak mati, padahal Aliken dan Asmira terjatuh dari ketinggian sekitar sembilan ratus meter, tetapi tidak ada patah tulang apalagi kematian. Aliken dan Asmira pingsan karena benturan yang kencang itu. mereka terbentur karena tingginya mereka terjatuh.

__ADS_1


akun dan Densi dari kejauhan melihat sebuah cahaya yang sangat kecil sekali. tetapi jika mendekati cahaya itu, cahaya itu semakin besar. aku dan Densi semakin mendekati cahaya yang tadinya kecil. hingga akhirnya cahaya itu besarnya tiga kali lipat dari aku dan Densi. setelah itu aku dan Densi keluar dari kegelapan itu dan kita di kejutkan oleh pemandangan yang lumayan indah. hingga akhirnya aku dan Densi sadar bahwa kita itu berada di sebuah tempat yang berbeda dengan tempat kita masuk tadi.


aku berada seperti di perbatasan antara dua tempat yang berbeda. tempat sebelah kiri Ku seperti tempat yang tanahnya subur dan di pandanya enak, terapi di sebelah kanan ku ialah seperti daratan yang hanya terdapat batu di sepanjang jalan nya. batu batu itu seperti batu yang terdapat di dekat gunung merapi. aku dan Densi sangat terkejut melihat dua orang berada di sebelah kiri aku sedang tertidur di tanah. aku pun menghampiri dua orang itu. sepertinya orang itu perempuan dan laki laki. aku menuju dua orang itu hanya berniat untuk mengetahui nya. betapa terkejutnya aku ternyata dua orang itu seperti Aliken dan Asmira. aku langsung memanggil Densi yang tidak tau lagi ngapain. Densi pun menghampiri aku dan dua orang itu. Densi sama hal nya dengan aku. ia terkejut dan tidak menyangka. "apakah betul ini Asmira dan Aliken" kata Densi kepada ku, aku menjawabnya "sepertinya ini bukan Aliken dan Asmira deh. dia saja tidak ikut dengan kita saat kita memasuki tempat ini"


"dan sepertinya pertanyaan bukan mengenai dua orang ini. tetapi yang aku tanyakan, tempat apa ini. mengapa kita berada di tempat ini?" tanya ku kepada Densi. lalu aku dan Densi kembali ke gua, tempat aku dan Densi memasuki daerah yang aneh itu. sesampainya di gua, aku dan Densi tidak melihat pintu yang tadi di buka oleh aku.

__ADS_1


__ADS_2