
"jadi seperti itu, penyebab semua kejadian yang tidak di duga ini" kata ibu Dewi kepada Aliken dan Asmira. Aliken dan Asmira selesai memberi tahu penyebab dan kejadian itu serta mengenai Densi serta anggotanya.
ternyata pada saat itu di sekitar sekolah itu, masih ada satu anggota geng Tarata yang pingsan karena terkena batu mengarah kepada kepala nya. saat aku mencari tau nama orang itu, aku mengetahui nama nya dari Densi. nama orang itu ialah Darryl. kedengaran nya nama itu asing di telinga orang Indonesia seperti aku tentunya. mengapa bisa begitu, ternyata setelah aku mencari tau. ayah Darryl ialah orang Amerika dan ibu nya orang Bali. Darryl lahir di bali dengan kedua orang tua yang berbeda negara. tetapi tentang Darryl jangan banyak di pikirkan atau di bayangkan. Darryl tidak terlalu banyak berperan dalam cerita ini.
Darryl pun terbangun dari pingsan nya dan mengetahui serta mendengar kan semua yang terjadi di sekolah itu. ia juga mengetahui bahwa Aliken dan Asmira menceritakan hal yang Densi sudah larang kepada Aliken. setelah ia mendengar kejadian yang terjadi di sekolah itu, Darryl langsung menuju pondok geng Tarata untuk memberikan info tentang hal yang ia dengar tadi kepada Densi.
sementara itu keadaan di sekolah sudah sangat membaik. guru guru dan murid murid sudah pada sadar dari pingsan nya itu. gak lama kemudian polisi itu menanyakan satu hal lagi kepada Asmira dan Aliken.
"adek mengatahui tidak lokasi Densi dengan anggota geng nya berkumpul?" tanya polisi yang tadi di sebelah Asmira kepada Aliken dan Asmira mengenai lokasi geng Densi berkumpul.
"ohh bapak ingin mengetahui dimana Densi dan gengnya berkumpul" jawab Aliken kepada polisi itu "jika bapak ingin mengetahui lokasi itu. bapak bisa ajak aku dengan Asmira tidak, ikut dengan bapak menggunakan mobil polisi itu. karena kami tidak bisa memberikan info mengenai lokasi itu hanya dengan perkataan saja. aku dan Asmira bahkan tidak mengetahui nama jalan di sekitar daerah ini"
"baik kalau begitu. kamu dan perempuan itu boleh ikut dengan bapak dan anggota kepolisian jakarta pusat menuju lokasi tersebut dengan mobil polisi itu" kata bapak polisi itu kepada Aliken dan Asmira dengan menunjukkan mobil polisi yang gagah itu.
"baik bu. aku anggap semua ini sudah selesai dan ibu jika butuh bantuan atau membutuhkan apa saja demi keselamatan sekolah ini dan yang didalam nya. ibu tinggal menelfon nomor ini saja bu" kata polisi itu kepada ibu Dewi yang berada di sebelahnya dengan memberikan kartu nomor kepolisian jakarta pusat.
__ADS_1
semua murid murid pun langsung meninggalkan lapangan dan sekolah itu, karena jam pelajaran nya sudah usai dan tidak ada kegiatan di sekolah lagi. Aliken, Asmira dan anggota kepolisian pergi mulai mencari Densi hingga semua murid dan guru guru serta semua orang yang didalam sekolah itu pergi dari sekolah itu. pasti kalian bertanya tanya. mengapa Aliken, Asmira dan anggota kepolisian mulai mencari Densi dan anggota menunggu semua yang berada di sekolah itu pergi?. penyebab itu aku masih tidak mengetahui apa sebabnya. karena Asmira dan Aliken memberi tahu kepada ku hanya itu saja, tetapi penyebab nya belum pasti dan jelas. tapi hal itu juga jangan terlalu banyak di fikirkan, ya walau penyebab nya sangat berpengaruh dalam cerita ini, tetapi aku tidak mengetahui penyebab nya. ok kita lanjutkan saja cerita nya.
setelah semua orang yang berada di sekolah sedah meninggalkan sekolah itu. Aliken dan Asmira di suruh oleh polisi itu untuk naik ke mobil polisi nya. anggota polisi yang lain juga menaiki mobil masing masing nya. suara sirine polisi mulai berbunyi. semua mobil polisi itu juga sudah berbunyi sirine polisinya. mobil polisi nya juga sudah menyala dan siap untuk menuju lokasinya.
"apakah adek siap?" tanya polisi itu kepada Aliken dan Asmira. Aliken menjawab pertanyaan itu "apa yang harus di siapin pak?"
"ok kita siap" kata polisi itu kepada anggota polisi lain nya yang berada di dalam nya.
mobil polisi yang berada di sekolah itu berjumlah tiga mobil. satu mobil berisikan empat anggotapolisi. satu di pengemudi, satu di sebelah pengemudi dan dua di belakang pengemudi. tetapi satu mobil hanya berisi dua anggota polisi. satu di pengemudi dan satunya di sebelah pengemudi. mobil yang hanya berisi dua anggota polisi itu di tumpangi Aliken dan Asmira di belakangnya.
mobil polisi itu sudah sampai di depan pasar yang Aliken rasa ia pernah datang ke pasar itu. mobil polisi itu tidak bisa masuk ke dalam pasar nya. karena pasar itu pasar terbuka yang di jalan jalan nya itu terdapat orang banyak sedang melakukan kegiatan jual beli barang. aku tentunya juga pernah ke pasar itu, karena pasar itu ialah akses satu satunya untuk menuju pondok geng Tarata nya. memang betul di pasar itu tidak bisa di lalui mobil dan motor, karena banyaknya orang di pasar itu yang sedang melakukan jual beli barang. bahkan untuk pembeli pun kadang sangat sulit untuk melewati orang orang itu sangking ramainya orang orang itu. pasar itu ialah pasar satu satunya di daerah itu. daerah itu bernama daerah rambutan yang berada di jakarta pusat. daerah rambutan memiliki jumlah warga sebanyak dua ratus ribu warga yang menetap di daerah rambutan itu. dua ratus ribu warga termasuk anak anak, bapak bapak, ibu ibu, dan para lansia. kita ambil saja anak anak dan para lansia sebanyak seratus lima puluh ribu banyaknya, sisanya bapak bapak dan ibu ibu yang tentunya yang masih sehat dan segar.
dengan begitu yang melakukan kegiatan jual beli ialah bapak bapak dan ibu ibu sebanyak lima puluh ribu orang berada di pasar itu dari pagi jam 07.00 hingga malam pukul 21.00. begitu banyak sekali orang yang melakukan transaksi di pasar itu. karena pasar itu ialah pasar satu satunya yang memiliki segala kebutuhan rumah tangga dan sayur sayuran terlengkap di daerah rambutan itu. dan aku juga tidak bisa memastikan luas pasar itu, karena pasar itu berada di jalan jalan yang yang sangat sulit untuk di ukur luasnya. yang pasti pasar itu pasar yang luas dan ramai orang berada di pasar itu.
tentunya kamu pasti sudah bisa membayangkan betapa ramai pasar itu. hingga sangat sulit di lalui mobil dan motor, yang berkepentingan pun juga sangat sulit melewatinya. terpaksa Aliken dan Asmira serta anggota polisi yang berada di mobil satu, dua dan tiga turun dari mobil itu hanya untuk melewati orang orang yang berada di depan mereka yang begitu sangat ramai dan banyak. mereka pun berjalan menuju pondok geng Tarata melewati orang orang di sebelah kanan, kiri, depan dan belakang. satu demi satu mereka lalui orang orang itu. bahkan pada sesaat ada waktunya mereka untuk berpegang tangan satu anggota ke tangan anggota lain nya. orang yang berada di tempat itu tidak peduli mau siapa yang melewati tempat itu, mereka tetap melakukan kegiatan jual beli. termasuk polisi sekalipun, warga sudah mengetahui bahwa ada polisi bersenjata lengkap sedang melewati mereka, tetapi tak ada satu pun yang menoleh nya dan menyapanya. tentu memang begitu karena prinsip mereka di pasar itu bukan untuk menyambut siapa pun termasuk polisi, tetapi prinsip mereka ialah berjualan, membeli, menawar dan mendapatkan.
__ADS_1
Aliken tidak mengetahui jam berapa pada saat itu ia di sana. Aliken pun sesaat pada saat berjalan dengan anggota polisi itu melihat jam yang ia kenakan di pergrlangan tangan nya. ternyata jam menunjukan pada saat itu ialah pukul 13.00.mereka pun sudah sangat dekat sekali dengan pondok itu. mereka hanya tinggal berjalan sebanyak sembilan puluh meter dan belok ke kanan, setelah belok ke kanan mereka harus berjalan lagi sejauh lima puluh meter dan belok ke kiri. disitulah sudah tampak kelihatan pondok itu. mereka pun merasakan bahwa semakin mereka mendekat ke pondok itu, orang orang yang tadinya banyak sekali di sebelahnya seketika tinggal sedikit dan bahkan tidak ada yang berada di sebelah mereka. mereka pun terus berjalan dan matahari mulai tidak terlihat menyinari tempat mereka berjalan. mereka melihat di atas mereka ada seperti spanduk atau lain sebagainya yang terpasang di atas rumah warga. spanduk itu terpasang dari rumah warga yang berada di sebelah mereka ke rumah warga yang berada di depan rumah nya itu. jadi terlihat seperti sinar matahari tadak masuk ke jalan itu dan jalan itu terlihat beda dengan jalan lain nya. ternyata kegelapan jalan itu cuman sampai sejauh lima puluh meter dari mereka.
mereka pun terus berjalan menuju pondoknya. sesampainya di pondok itu. betapa terkejutnya bahwa mereka tidak melihat orang satu pun yang berada di pondok itu. pondok terlihat sangat sepi dan sunyi. hanya ada gelas dan piring yang berada di atasnya. polisi itu langsung melakukan penggeledahan terhadap tempat itu. bagian samping kanan lah awal dari penggeledahan itu, setelah itu samping kiri dari pondok itu mulai di geledah. setelah samping kiri, bagian depan dari pondok itu di geledah. Aliken dan Asmira yang berada di tempat itu merasa sangat bingung sekali. waktu itu ia melihat bahwa Densi dan anggota nya berada di tempat itu. tetapi pada saat mereka membawa polisi ke tempat itu mereka sudah tidak ada di tempat itu. tadi aku sudah ceritakan di sebelum nya, mengapa anggota polisi itu dengan Asmira dan Aliken menunggu orang yang berada di sekolah tidak ada untuk mereka pergi dan mulai mencari Densi dengan anggotanya?. jika saja mereka tidak menunggu orang orang yang berada di sekolah. aku yakin sekali mereka pasti sudah menemukan aku, Densi dan anggota lainnya untuk di bawa ke kantor polisinya.
aku dan Densi sudah di beri tahu oleh orang yang mendengar semua yang terjadi si sekolah itu. orang itu ialah Darryl. mengenai penyebab terjadinya kejadian kekacauan di sekolah itu, mengenai Densi juga dan anggota anggota nya. dan tentunya mengenai polisi yang akan datang ke pondok geng Tarata itu. tetapi mereka tidak memberi tahu tentangku kepada polisi itu. entah Aliken dan Asmira menggapku ialah bagian salah satu dari anggota Densi atau lain sebagainya. tetapi memang begitu aku ialah bagian anggota geng Tarata.
sesudah aku, Densi dan anggota geng Tarata mengetahui bahwa polisi itu akan datang ke pondok nya. tentunya aku dan Densi tidak terlalu badoh walau memang aku, Densi dan anggota lain nya bodoh. mengapa bisa begitu, karena aku, Densi dan anggota lain nya hanya memiliki ijazah SD saja. tetapi kalau tentang masuk penjara dan rasanya di dalam penjara, aku, Densi dan anggota lain nya mengetahui rasanya. maka dari itu aku dan semuanya yang berada di pondok itu pergi meninggalkan pondok itu menuju rumah Densi. tetapi yang aku herankan, entah ini kebetulan atau memang pertolongan dari Tuhan, sesampainya di rumah Densi. di dalam rumah itu terdapat ayah Densi yang sedang membaca koran. lalu Densi menanyakan kepada ayah nya mengenai rumah nya yang di sita itu. ternyata rumah ayah nya itu sudah lunas terbayar. aku juga tidak mengetahui dari mana ayah Densi mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar utang nya itu. karena jika aku mengetahui itu bukan hak aku tentunya. tanpa berfikir lama lama, Densi menyuruhku dan anggota nya untuk masuk ke dalam rumahnya supaya polisi tidak mengetahui keberadaan ku dan semua orang yang tadi membuat kekacauan di sekolah itu.
setelah di geledah tempat itu. polisi dengan anggotanya tidak menemukan barang satu pun yang mencurigakam di pondok itu. tetapi salah satu polisi menyadari bahwa bagian belakang pondok itu belum di geledah. polisi itu memanggil teman anggota lain nya untuk membantunya menggeledah bagian belakang pondok itu. awal nya tidak ada yang terlihat mencurigakan. tetapi salah satu polisi melihat sebuah kotak yang berbentuk balok dengan ruang di dalam nya. kotak itu memiliki panjang satu meter, tinggi tiga puluh centimeter dan lebar tiga puluh centi meter. kotak itu terkunci dengan gembok yang lumayan besar. tentunya polisi itu curiga dengan isi kotak tersebut. mereka membuka kotak itu dengan menembak gembok itu menggunakan pistol yang di bawa oleh polisi itu.
sebelum polisi polisi itu menggeledah isi kotak itu. mereka memakai sarung tangan yang berwarna putih di kedua tangan nya. polisi yang menggeledah kotak itu hanya dua polisi saja. lalu di bukanya kotak itu dengan perlahan. setelah terbuka kotak itu. mereka melihat barang yang di bungkusi pelastik hitam. salah satu polisi sudah curiga dengan isinya pelastik itu. polisi itu mencurigakan isinya ialah narkoba. bungkusan pelastik itu di ambil dan di bawa keluar dari kotak itu. setelah di bawa keluar dari kotak itu. pelastik itu diletakkan di atas tanah. penggeladahan pun di lakukan lagi oleh dua polisi yang mengenakan sarung tangan putih di kedua tangan nya. pelastik itu di sulit untuk di buka. akhirnya pelastik itu di sobek secara paksa. betapa terkejutnya kedua polisi itu. mereka melihat isi pelastik itu ialah narkoba berjenis sabu. barang itu langsung di jaga ketat oleh lima polisi yang berada di tempat itu untuk mengamankan narkoba itu. polisi polisi itu langsung mencari narkoba itu di sekitar nya untuk memastikan bahwa tidak ada lagi yang tersisa.
Aliken dan Asmira tidak mengetahui bahwa pelastik itu isinya narkoba. Aliken dan Asmira juga membantu mencari sesuatu di tempat itu. stelah beberapa lama di tempat itu, polisi polisi itu tidak menemukan barang yang mencurigakan di tempat itu lagi. narkoba jenis sabu itu beratnya sekitar dua puluh kilogram.
polisi itu sudah memastikan bahwa di tempat itu tidak ada barang yang mencurigakan lagi.
__ADS_1