King Haidar

King Haidar
Pernikahan dadakan


__ADS_3

Gadis cantik berjalan dengan kemayu memasuki rumah. Rambut coklat keabuan tergerai dengan indahnya. Bunyi ketukan heels yang beradu dengan marmer membuat kedua orang yang sedang berada di ruang tamu mengalihkan pandangannya ke suara tersebut.


"Busett cakep bener.. kaya boneka barbie!" tapi sayang, hanya bisa berucap dalam hati. Mengingat dirinya sudah mempunyai istri yang sedang ada di rumah.


Kulit bersih seputih susu dan selembut kapas terlihat sangat menggoda iman. Apalagi pakaiannya cukup terbuka. Rok pendek di atas paha dan atasan sabrina yang memamerkan sebelah bahunya. Begitu fashionable. Berbeda jauh dengan gadis yang sedang tertunduk, menyembunyikan wajahnya.


"Kalian siapa?" tanya Soraya yang melihat orang asing sedang ada di rumahnya. "Tamu mommy apa daddy?"


Bukannya menjawab, Ali malah terbengong, menikmati wajah cantik Soraya yang kini terlihat jelas. "Ini siapanya Key?"


Soraya mengerutkan keningnya. Lalu berdecak kesal. "Terkesima nih ama gue?" cibirnya melihat Ali yang tak berkedip memandangnya. Bagi Soraya, sudah biasa mendapatkan tatapan kagum para pria.


"Heh?" Ali tersadar. "Mulutnya sama kayak Key.. asal jeplak."


Tatapan Soraya teralihkan pada gadis yang duduk di samping sang pria. "Kamu.." Soraya mengingat ingat, seperti mengenal gadis itu.


"Hai Ra apa kabar?" ucap Cilya yang terdengar tegar, seperti tidak ada apa apa, padahal hatinya sedang berkecamuk. Cilya sudah lama mengenal Soraya.


Soraya mendelik. "Kak Cilya.." lalu mendekat. "Kok bisa di sini?" Soraya dan Cilya saling mengenal. Mereka adalah teman masa kecil, meski Cilya lebih tua tiga tahun dari Soraya. Dulu mereka sering bermain di taman perumahan.


Soraya mengenal Cilya ketika dulu sering bermain di rumah Arletta (sepupunya). Rumah Cilya dan Arletta lumayan dekat.


Belum sempat menjawab, Arsen dan Lisa datang bersama King.


"Kakak!" pekik Soraya. Gadis itu langsung menubruk tubuh kakaknya. "Sora kangen." ucapnya manja.


"Adeknya si kampret!"


Cilya langsung tertunduk ketika Lisa dan Arsen menatapnya.


"Jadi ini calon istrimu?" tanya Arsen.


Ucapan Arsen membuat Soraya melepaskan pelukannya. "Calon istri siapa?" tak ada yang menjawab pertanyaan Soraya, karena hanya fokus dengan gadis yang sedang duduk.


Lisa mendekat, duduk di samping Cilya. Mengelus punggung Cilya dengan lembut. "Siapa nama mu nak?" Lisa mengerti dengan kondisi Cilya saat ini, gadis itu mungkin masih trauma dengan kebejatan putranya. "Maafkan putra ku, dia akan bertanggungjawab atas semua perbuatannya."

__ADS_1


Arsen masih berdiri dan melipat kedua tangannya di depan dada, memperhatikan pria yang duduk di samping Cilya. Tatapannya bergantian menelisik King dan Ali. "Kalian rebutan gadis ini?" celetuk Arsen karena wajah putranya dan Ali terdapat banyak lebam, baku hantam pasti sudah terjadi.


Lisa terkejut, wanita itu baru sadar jika wajah putranya banyak luka berkas pukulan.


"Kamu merebut pacar pria ini?" tuduhnya pada King.


"Bukan om! saya hanya temen." seru Ali.


"Dad! bukan merebut!" King menghela nafasnya. "Kalo gak mabok juga gak bakal minat." ucapnya lirih agar Cilya tidak mendengarnya. Tapi masih bisa terdengar oleh Arsen.


"Ck!" Arsen berdecak kesal. Tahu maksud dari ucapan King. Wajah calon menantunya memang tidak menarik karena tertutup oleh banyak jerawat. "Kamu harus giat bekerja, punya uang banyak! biar bisa mempercantik istri mu." kecantikan yang tersembunyi di balik wajah calon menantunya, Arsen bisa melihatnya.


"Dad, kak Cilya kan anaknya om Radit." sedikit mendengarkan, Soraya mengerti duduk permasalahan yang sedang terjadi.


Arsen mengerutkan keningnya. "Radit?"


"Iya dad, tetangganya uncle Basbas."


"Benar, kamu anaknya Radit Hermawan?"


"Iya Om."


"Beneran mau langsung nikah? gak mau ada pesta perayaan?" tanya Lisa.


"Iya mom, gak usah pake resepsi segala! yang penting sah." ucap King. Pria itu ingin segera mempertanggungjawabkan kesalahannya. Dan tidak mau membeberkan pernikahannya dengan Cilya pada public. Sebisa mungkin jangan sampai orang lain tahu, hanya kerabat dekatnya saja. Rasanya belum siapa memiliki istri seperti Cilya.


"Tapi muka kamu masih lebam-lebam Key, gak nunggu seminggu dulu biar ilang bekas lukanya."


Arsen harus mengurus surat-surat yang di butuhkan untuk proses pernikahan dadakan putranya, tentu dengan bantuan anak buahnya. Untung saja dia mempunyai banyak koneksi, sehingga dengan mudah meng-handle permintaan konyol putranya. Yang ingin cepat-cepat di nikahkan.


King menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Gak usahlah.. biar setara jeleknya." kenapa harus terlihat tampan ketika menikahi Cilya? Bukannya menjadi adil jika wajah King yang penuh lebam di sandingkan dengan wajah Cilya yang penuh dengan jerawat?


Arsen berdecak mendengar ocehan putranya. "Gak suka tapi di embat juga!"


"Lagi mabok dad, jadi keliatannya glowing!"

__ADS_1


"Awas nanti kepincut! kalo udah beneran glowing." ledek Lisa. "Ntar gak bisa makan, tidur gara-gara mikirin istri yang udah glow up!"


King hanya mencibir menanggapinya. Mana mungkin!


Untung saja Cilya tidak mendengarnya, karena berbeda mobil. Akan bertambah sakit mendengar ucapan King yang hanya terpaksa menikahinya.


Kedatangan Arsen dan sekeluarga mengejutkan Radit yang hanya sendirian di rumah. Istri dan anak tirinya sedang berlibur ke luar negeri. Radit kembali terkejut melihat ada putrinya dianatara mereka. Arsen memulai berbicara maksud dan tujuan kedatangannya.


"Ya ampun anak ku.." Radit merangkul putrinya. Pria itu merasa bersalah karena tidak bisa menjaga putrinya dengan baik. Di pelukan sang ayah, Cilya menumpahkan kesedihannya. King menatap nanar kepiluan gadis itu, rasa bersalah menyelimuti hatinya.


Dan, Radit pun menyetujui untuk segera menikahkan putrinya. Rasa kecewanya pada King meredup tatkala melihat sisi baik King yang segera mempertanggungjawabkan kesalahannya. Radit hanya berdoa semoga pernikahan ini akan membahagiakan putrinya.


Dua jam kemudian, penghulu dan tokoh agama terdekat sudah datang. Keluarga Bastian pun ikut hadir.


"Kenapa bisa? kok mendadak?" Clara, kakak kandung Arsen menanyakan pernikahan King yang terlalu mendadak. Untung saja rumahnya dekat, hanya butuh dua puluh lima langkah saja untuk sampai ke rumah Cilya.


"Nanti aku jelaskan." jawab Lisa.


"Key.. itu bukannya artis lawas yang terkenal itu ya?" sempat-sempatnya Ali menanyakan hal itu. Bertemu dengan orang-orang tak biasa membuat Ali takjub. "Cakep-cakep semua.. tajir lagi. Wahh gue bangga jadi temen lu!"


"Bisa diem gak lu!" sentak King.


"Sensi banget sih. Senyum napa key.. ini kan hari bahagia lu."


"Gak tuh!"


"Ck! lu gak ikhlas nikahi Cilya?"


"Mau gimana lagi? gue harus bertanggungjawab." ucapnya pasrah. "Ini semua gara-gara lu yang ninggalin gue sendirian!" rasanya tak cukup sekali menyalahkan Ali.


"Semua udah takdir bro.. mungkin Cilya emang jodoh lu. Allah menyatukan kalian dengan cara kayak gini."


King mendengus kesal. "Tau ah!"


Tidak ada riasan apik di wajah Cilya. Kebaya yang di pakainya pun milik almarhumah ibunya. Bukan hanya Cilya yang terlihat biasa saja. King pun sama, hanya menggunakan baju koko putih serta peci hitam yang melekat di kepalanya.

__ADS_1


Ikrar suci pun terucap dengan lancar dari mulut King. Pria itu telah mempersunting Cilya. Menjadikan Cilya sebagai istri sahnya. Meski tanpa cinta, hanya rasa pertanggungjawaban yang mendasari semuanya.


Bersambung...


__ADS_2