
Kamar terasa begitu sunyi. King merebahkan diri di atas ranjang dengan kedua tangan menjadi bantalan kepalanya. Menatap langit-langit dengan perasaan yang entah..
Biasanya sebelum tidur, King akan menyuruh ini dan itu pada Cilya. Membuat istrinya terusik sebelum tidur. Dan itu membuat kesenangan sendiri bagi King. Cilya menurut begitu saja tanpa penolakan, meski raut wajahnya begitu sebal padanya.
Kedua matanya melirik ke sofa, tempat Cilya tidur selama menjadi istrinya. Cilya tidak di perbolehkan tidur di ranjangnya. "Kenapa gue mikirin dia!" sudah tengah malam tapi King tidak bisa memejamkan matanya. Bayangkan Cilya melakukan kegiatan di kamar itu begitu terasa.
"Ck! emangnya ngaruh dia pergi! siapa dia!" gerutunya kesal.
Pria itu mulai memejamkan matanya ketika jam menunjukan pukul tiga dini hari. Mungkin karena lelah, membuatnya perlahan tertidur.
Pagi hari suara teriakan Lisa menggema di kamarnya. "Keyyy!! bangun!!!!!" guncangan di bahu serta tepukan di pipi, tidak mempan membangunkan putranya dari alam mimpi.
Hari semakin siang. Arsen di bawah sudah menunggu King untuk berangkat ke kantor bersama.
"Key!!! bangun!" terpaksa Lisa menyiratkan air di wajah King. "Bangun Key! daddy menunggu mu!"
King hanya menggeliat. "Aku masih ngantuk mom." kembali lagi meringkuk di bawah selimut.
"Nanti daddy marah! lama menunggu di meja makan! mau di hukum lagi?" teriak Lisa.
"Di hukum key! di tendang ke hutan Kalimantan! mau!" seru Lisa dengan sebuah ancaman.
Mendengar ancaman, sontak saja King terbangun. Pria itu tidak mau di usir ke pedalaman Kalimantan. Jauh dari hiruk pikuk kota. Tidak ada cafe untuk tempat tongkrongan, susah kendaraan, apalagi signal pasti sulit di dapat. Key tidak mau menjadi masyarakat primitif di masa modern.
"Gak mau mom!"
"Yasudah.. buruan mandi, daddy menunggu di meja makan." kata Lisa mengingatkan.
King bergegas ke kamar mandi. Sedangkan Lisa kembali ke ruang makan. Menghampiri suaminya dan juga Sora di sana.
"Sudah bangun?" tanya Arsen.
"Sudah. Lagi mandi, sebentar lagi turun." jawab Lisa.
"Ck!" Arsen berdecak kesal, matanya melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Sudah terlalu siang, hampir setengah jam mereka menunggu King turun. Kebiasaan di keluarga itu, sarapan dan makan malam harus berkumpul.
"Sabar sayang." ucap Lisa.
Arsen mengangguk. Lalu menoleh ke arah putrinya yang sibuk memainkan ponselnya. "Sora.."
"Ya dad." jawab Soraya tanpa mengalihkan pandangannya, fokus menatap layar ponselnya.
__ADS_1
"Masih gak mau nurut sama daddy?" tanya Arsen. Bukan hanya Soraya yang tak mengerti maksud ucapan Arsen, Lisa pun sama.
Soraya meletakkan ponselnya ke atas meja. "Maksud daddy apa?" tanyanya.
Arsen menghela. "Daddy sudah bilang, jauhi pria itu. Dia gak baik untuk mu, sayang." kata Arsen. Sebagai seorang ayah, Arsen ingin yang terbaik untuk putrinya. Laki-laki seperti Digta (kelasih Soraya) tidaklah baik untuk putrinya. Arsen sudah mencari tahu informasi secara detail mengenai Digta.
"Tapi kenapa? gimana bisa daddy bilang dia gak baik buat aku?" tanya Soraya. Bukannya Arsen sudah mengijinkannya untuk menjalin hubungan dengan seorang pria? asal tahu menjaga batasan, bisa menjaga diri.
"Sayang, daddy tau yang terbaik untuk mu. Menurutlah." walaupun Lisa sendiri belum tahu siapa itu Digta, tapi ia percaya jika suaminya itu mengatakan yang sebenarnya. Arsen ingin Soraya mendapatkan pria yang tepat.
"Baik dad, mom." jawab Soraya pasrah. Mungkin hanya akan di mulut saja. Selebihnya dia masih bisa menjalin hubungan dengan Digta secara sembunyi.
Seolah Arsen tahu apa yang di pikiran putrinya, Arsen berkata. "Daddy selalu mengawasi mu. Jangan berkata iya di depan daddy dan mommy, tapi di belakangnya masih bertemu dengan nya."
Soraya hanya diam mendengarkan. Tidak mungkin dia. membantah kedua orang tuanya.
"Apa mau daddy jodohkan saja?" ucap Arsen. "Daddy carikan pria yang baik untuk mu."
"Asal daddy memilih kan ku calon suami yang seperti Lee Min Ho.. aku mau dad." kata Soraya dengan wajah datarnya. Gadis itu hanya sekedar berucap, tidak sungguh-sungguh.
"Kamu beneran mau di jodohkan? gak mau cari sendiri?" tanya Lisa.
"Apa daddy dan mommy setuju calon suami yang akan aku pilih?" Soraya balik bertanya.
Obrolan mereka terhenti ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. King menunjukkan batang hidungnya. "Pagi semua.. maaf menunggu lama." entah kenapa hari ini dia terasa malas sekali.
"Pagi sayang.." Lisa menjawabnya.
"Pagi kak." Soraya pun membalasnya. Hanya Arsen yang diam.
Mereka memulai sarapan pagi, Lisa dengan cekatan mengambilkan makanan untuk sang suami.
"Cil!" panggil King ketika tidak melihat segelas susu full cream favoritnya di atas meja. "Cill..." teriaknya lagi karena orang yang dipanggil tidak menyaut.
Lisa dan Soraya saling bertatapan. Heran, bukannya King sudah tahu jika istrinya itu sudah pergi?
"Ck! istri kamu udah pergi Key!" tegur Arsen. King terkesiap, merasa bodoh dan konyol memanggil Cilya. "Ada di cuekin, gak ada di cariin!" cibir Arsen.
Lisa dan Soraya hanya bisa tersenyum. "Baru sehari di tinggal udah kangen aja." goda Lisa.
"Kak Key pasti kesepian ya, gak ada kak Cilya?" Soraya ikut menggoda sang kakak.
__ADS_1
King mendengus kesal. "Biasa aja tuh!"
"Sudah, selesaikan makannya! ini udah siang!" kata Arsen yang tidak mau datang terlambat di meeting pagi ini.
***
Di pantry, King hanya rebahan saja. Kerjaannya seharian ini hanya memainkan ponselnya hingga bosan. Biasanya dia akan mengikuti kemanapun Asep pergi.
"Bos, mau ikut gak keluar? mau beli perlengkapan ATK nih.." ucap Asep.
"Gak ada distributor buat ATK apa?" biasanya perusahaan besar selalu bekerjasama dengan pemasok barang keperluan kantor. Jadi tidak perlu repot-repot membeli sendiri. Mereka lah yang akan mengantarkan barang apa aja yang di butuhkan.
"Gak tau! belum dapet lagi. Yang kemaren bangkrut katanya." jawab Asep.
"Udah berapa lama?" tanya King. Pasalnya semenjak King bekerja di sana, OB seringkali keluar untuk membeli keperluan ATK.
"Dua bula lebih kayaknya." jawab Asep.
King mengangguk. "Bilang ke kepala Divisi Procurement!"
Asep menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Saya mana berani bos. Bukan wewenang saya."
"Ck! yaudah ntar gue yang bilang abis jam istirahat." ucap King.
"Oke. Saya pergi dulu ya bos."
Kepergian Asep membuat ruangan pantry sepi kembali. Berulang kali King menatap ponselnya, berharap mendapatkan pesan balasan dari seseorang. "Kok gak di bales, padahal udah di read!"
Karena tidak mendapat balasan, tapi sudah di baca oleh sang penerima, King memilih untuk melakukan panggilan. Tapi masih di abaikan.
Cil.. kok gak di bales? gak di angkat?
Cil.. lu gak kangen ama gue? bales dong Cil!
Cil gak takut jerawat makin banyak? gak bales chat gue? lu gak kangen ama gue?
Deretan pesan singkat yang King kirim pada Cilya tak mendapatkan balasan.
Cilya mengabaikan pesan dari King karena mulai sibuk dengan aktivitas barunya. Seolah membalas bagaimana dia dulu sering mengirim pesan namun King selalu mengabaikannya.
"Bangkee!" King baru menyadari jika ia sudah mengirim pesan yang terlihat konyol. "Ngapain gue chat dia sih." King merutuki dirinya sendiri. Pesan yang belum sempat terbaca segera di hapus oleh King.
__ADS_1
"Gue biasa aja tuh.. gak ada lu." ucapnya meyakinkan diri sendiri bahwa dia baik-baik saja tanpa adanya Cilya.
Bersambung...