
Kedatangan keluarga besar Arsen di sambut hangat oleh keluarga Clara. "Selamat datang semuanya." ucap Clara begitu ceria menyambut kedatangan adik dan keponakannya.
"Malam aunty." King pun menyapa, lalu menyalimi wanita yang masih terlihat sangat cantik di usianya yang tak lagi muda.
"Wah.. istri mu cantik sekali Key." Clara memeluk dan menautkan kedua pipi mereka, sapaan wajib bagi kaum wanita. Cilya tersipu mendengar pujian dari Clara.
"Key, gitu loh..." ucapnya sembari menepuk dadanya, berbangga diri.
"Ck! gaya mu Key.. Key.." Arsen berdecak melihat tingkah anaknya. Seusai menyapa kakaknya, pria itu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Lisa dan Clara sudah bergosip ria dan bernostalgia. Jika kedua wanita itu sudah bertemu, pasti lupa segala hal.
"Halo Cilya cantik.." King waspada dengan keberadaan Kenzo yang tebar pesona pada istrinya.
"Hai kak." balas Cilya. Merasa tidak enak jika hanya diam tanpa membalas. Menghiraukan King yang sudah melototinya, tak rela Cilya beramah tamah pada Kenzo, si playboy dadakan.
"Jangan ganggu dia Kenz, cari yang lain aja." ucap King, wajahnya sudah terlihat masa. "Tuh.. ada cewek single." tunjuk King pada wanita berwajah kas orang India, Kalpana.
Kalpana turut di undang makan malam di rumah Clara. Mengingat wanita itu cukup dekat dengan keluarga tersebut, sebab wanita itu bekerja dengan Langit sebagai asisten pribadinya.
Kenzo tergelak, mengikuti arah pandang King ke wanita asal India itu. "Ngaco lu!" tidak ada minat apapun pada wanita yang bernama Kalpana.
Cilya bergabung bersama Soraya dan Arletta yang sedang bermain dengan baby boy, putra dari pasangan Langit dan Arletta.
"Lucu banget." Cilya menciumi gemas baby boy.
"Kapan kak Cilya mau kasih aku ponakan yang lucu?" tanya Soraya. Gadis itu pun ingin bermain dengan bayi kecil yang lucu di rumahnya.
Cilya tersenyum. "Belum saatnya. Nanti aku kasih banyak buat kamu." kata Cilya.
"Kak Cilya, gimana kak Key, dia romantis kan?" tanya Arletta yang penasaran bagaimana sikap King pada istrinya itu. Mengingat mereka menikah karena sebuah insiden, bukan karena cinta sedari awal.
"Let, lu nanya kayak gitu! kak Key bukannya romantis lagi! tapi terlalu messum!" sembur Soraya yang sering kali melihat King menggoda Cilya di depannya.
"Nanya doang Ra." Arletta terkekeh. "Terus lu kapan nyusul nikah Ra?" tanya Arletta. Wanita itu juga penasaran siapa jodoh Soraya di masa depan. Apa sesuai dengan kriteria yang gadis itu inginkan. "Lu ama Digta udahan kan?" Arletta pun tak setuju jika saudara sepupunya masih menjalin hubungan dengan pria yang bernama Digta.
Soraya mendengus. "Nanya satu satu Let!"
"Yaudah lu tinggal jawab aja!"
Soraya menghembuskan nafasnya kasar, lalu berkata pelan agar daddy nya tidak mendengarnya. "Gue masih ama Digta." jawabnya.
"Bukannya uncle gak bolehin, kenapa di terusin?" Arletta ikut kesal karena ternyata Soraya ngasih menjalin hubungan dengan Digta.
"Ini kalian lagi ngomongin siapa? apa cowok yang pernah daddy bilang waktu itu?" Cilya bertanya pada Soraya. Wanita itu sempat mendengar jika daddy Arsen melarang Soraya untuk menjalin kasih dengan pria bernama Digta. "Kamu masih back street?"
__ADS_1
"Jangan bilang bilang daddy kak. Bentar lagi juga aku putusin." ucap Soraya.
Arletta mencibir, pasalnya sudah berulang kali Soraya mengatakan jika akan memutuskan hubungannya dengan Digta, tapi sampai sekarang masih saja berhubungan. "Ngomong doang lu, awas aja jangan nyesel kalo ampe ketahuan uncle, bisa bisa kamu langsung dinikahin." cetus Arletta.
"Beneran sekarang mah." ucap Soraya.
"Semoga lu gak bohong lagi.".
" Gak!" entah mengapa Soraya belum siap memutuskan Kekasih tampannya itu. Mungkin karena Digta salah satu tipe pria idamannya.
"Udah udah.. kita gabung yang lain yuk, mereka udah di ruang makan semua." Cilya menengahi. Mengajak Arletta dan Soraya berkumpul di ruang makan.
"Aku tidurin baby boy dulu ya di kamar, kalian duluan aja. Ntar aku nyusul." ucap Arletta.
"Oke kita duluan." sebelum pergi, Cilya mendaratkan kecupan di wajah baby boy.
Makan malam telah usai, dilanjutkan mereka untuk berkumpul sembari bersenda gurau, mengenang masa muda.
Ketidak hadiran Benzema membuat seorang wanita menjadi sendu. Pasalnya ia berharap bertemu dengan pria itu di acara makan malam keluarga ini.
Kalpana, wanita itu menaruh hati pada pria berwajah datar, berharap bisa mendapatkan seorang Benzema.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Seusai berbincang sebentar, para anak muda memilih melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Arletta dan suami memilih kembali ke kamar. Sedangkan Kenzo sudah ijin untuk keluar dengan alasan ingin mencari udara segar, padahal dia akan menemui teman kencannya.
"Nungguin mereka pasti lama! apalagi kalo mom and aunty udah ngobrol, pasti gak bakal ada ujungnya." kata King. Tentu saja pria itu ada maksud lain mengajak sang istri cepat cepat pulang.
Cilya mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu senyam-senyum begitu? ada yang lucu?" tanya Cilya.
"Ada deh.." tidak mau memberitahu jika dirinya sendang memikirkan hal messum. Rasanya ingin cepat sampai ke rumah, melanjutkan aktivitas yang tadi sempat tertunda. Berbagai peluh dengan Cilya. "Pasti mantap!"
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang King kendarai sudah terparkir di halaman rumah. King tergesa menggandeng lengan Cilya. "Ayo cepetan!"
"Key, kenapa sih buru-buru. Jalannya pelan aja, aku pake high heels." Cilya cukup kesulitan berjalan cepat mengikuti langkah King dengan menggunakan sepatu bertumit tinggi.
King menghentikan langkahnya, lalu dengan cepat menggendong Cilya ala bridal style, membawa ke kamar mereka.
"Key!" pekik Cilya, wanita itu segera mengalungkan
tangannya di leher sang pria agar tidak terjatuh. "Aku mempunyai firasat buruk." batin Cilya. Memandangi wajah tampan King yang selalu tersenyum, senyuman yang terlihat begitu mencurigakan.
"Key, turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri."
"Tanggung, bentar lagi sampe." King masuk ke dalam, tidak lupa menutup pintu kamar kembali, menendang dengan kakinya. "Kunci Cil." kedua tangannya sedang memapah Cilya, jadi meminta sang istri untuk memutar kuncinya.
__ADS_1
"Key, jangan macam macam. Turun kan aku!" Cilya mulai waspada, meminta untuk di turunkan.
"Iya." King menurunkan Cilya di atas ranjang, lalu meninndihnya. Mengunci pergerakan Cilya. "Kita lanjut yang tadi ya," bujuknya penuh rayuan. Kerlingan sebelah matanya memperlihatkan jelas jika pria itu sangat menginginkan Cilya.
"Key... aku..aku.." Cilya gugup, belum siap melakukannya lagi dengan King.
"Tenang Cil, ini gak bakal sakit. Justru nikmat. Aku bakal bikin kamu merem melek, percaya deh.." setelah itu King menyambar bibir Cilya. Melummat dan menyessapnya begitu rakus.
Cilya sampai kewalahan membalas ciuman King yang begitu buas. Wanita itu menepuk-nepuk bahu King ketika nafasnya mulai terasa sesak.
"Nafas Cil." kata King yang sudah mengurai ciumannya.
"Key, aku belum siap." sorot mata Cilya memohon.
"Aku gak tahan Cil," dengan tergesa, King melepaskan pakaian Cilya. Bibirnya menari-nari di kulit lembut sang istri. Memberikan banyak tanda merah di sana.
Cilya mulai terbuai oleh sentuhan King. Tubuhnya bergetar hebat ketika merasakan gelayar aneh terus merayapinya.
Dessahan Cilya menambah semangat King makin membara. Dua dada sebesar mangga tak luput dari santapan King yang terus saja mengulumminya, memilin, lalu menggigitnya dengan gemas.
Di bawah sana, sang mercusuar sudah berdiri menantang, bersiap untuk bersirine sepanjang malam. Memamerkan ketangguhannya.
"Key!" Cilya mendelik ketika King membuka semua kain yang melekat di tubuhnya hingga polos. Kedua pipi Cilya memerah, malu melihatnya.
King terkekeh. "Ditutup tapi masih ngintip! buka aja Cil gak usah malu." kata King. Cilya begitu lucu, menutupinya dengan kedua telapak tangan tapi masih mengintip di balik celah.
Mendengar itu, Cilya bertambah malu. "Ish.." Cilya mencubit gemas perut rata King.
"Gimana Cil, mantap kan punya ku?" tanya King sembari menempelkan miliknya ke inti Cilya yang masih tertutupi kain segitiga.
Tidak mau menjawab, Cilya hanya merasakan. Hatinya berdebar-debar ketika berdekatan dengan King, seintim ini? Cilya masih tidak mempercayainya. "Ya ampun gimana ini? aku terjebak!" sangat sulit untuk menolak persona dari suami tampannya. Apalagi mulutnya sangat pandai merayu. Cilya mudah terbuai.
"Key.. sepertinya itu bukan 14 cm." celetuk Cilya. Wanita itu teringat ucapan King kala itu. Meski melihat hanya sekilas, rasanya itu lebih...
King kembali tergelak. "Tentu semakin bertambah, 14 cm itu dulu waktu SMA!" jawabnya tak bohong.
Dulu ketika masih remaja, keempat pria beranjak dewasa itu saling memamerkan kepunyaannya. Menunjukkan punya siapa yang paling lebih oke. Dan sudah pasti, Benzema selalu memenangkannya. Selalu di atas dalam segala hal. Sial!
"Kamu udah basah Cil." King merabba inti Cilya, menggodanya agar lebih terangssang. Tapi ada yang aneh.
King mengerutkan keningnya, lalu melihat tangannya yang terdapat noda merah. "Cilyaaaaaaaaa!!!!!!" teriaknya kesal.
Bersambung...
__ADS_1
...gagal lagi dehπππ...