
Dua hari sejak kedatangannya ke Kalimantan, Cilya hanya berada di apartemen, King mengurungnya. Padahal Cilya ingin pergi menikmati indahnya kota itu. Mengunjungi pantai, bermain air di sana.
"Key.. apa gak bosen di rumah terus? aku pengin ke pantai. Yuk?" Cilya membujuk suaminya bayar mau mengajaknya jalan-jalan di sekitar.
"Nanti aja, aku masih capek. Kaki ku pegel!" bagaimana tidak pegal, pria itu terlalu bersemangat bereksperimen, membolak-balikan tubuh istrinya sesuka hati.
"Ishh.. padahal harusnya aku yang capek. Kok malah kamu sih yang ngeluh mulu."
"Kamu kan cuma diem Cil, aku yang terus bergerak." katanya.
"Makanya jangan serakah, kamu udah kaya cacing kepanasan aja, gak bisa diem. Jadinya loyo kan?" Cilya tak habis pikir, King menikmatinya seperti tidak akan ada hari esok lagi. Sehari bisa berkali-kali. Dia yang hanya diam saja sangat lelah, apa kabar suaminya yang terus bergerak liar di atasnya? sudah pasti sangat kelelahan!
"Kan udah lama Cil, jadi ya bawaannya pengin lagi pengin lagi!" alibinya. "Eh.. aku gak loyo ya, cuma lagi ngaso bentar." King yang semula berbaring kini duduk, tak terima di bilang loyo oleh istrinya. "Aku masih kuat! mau berapa ronde lagi? dua, tiga apa empat? ayo aku jabanin." tantangnya.
Cilya menggele dengan cepat. "Gak, gak sekarang Key! besok besok lagi aja. Aku nyerah!"
King tergelak. "Padahal kamu yang loyo. Aku mah selalu full terus batrenya." King kembali berbaring. "Eh.. ntar malem sekali lagi deh.. lupa aku." King berencana untuk membalas sahabat laknutnya. Ia akan merekam audio saat bercinta dengan Cilya. Balas dendam yang sangat tepat, mengingat Ali sekarang sudah tidak punya lawan mainnya.
"Lupa apa?" tanya Cilya. "Pokoknya aku gak mau lagi sebelum kamu bawa aku jalan-jalan! titik!"
"Iya ntar sorean dikit aku ajak kamu ke pantai. Sekalian ntar aku beliin kostum mermaid."
"Gak usah pake kostum mermaid berenangnya. Aku mau pake bikini aja."
"Ehh.. mana bisa! gak boleh pake bikini! enak aja jadi pemandangan gratis. Yang boleh liat kamu tellanjang cuma aku! inget itu!"
"Iya.. iya.."
***
Sore hari, sesuai janjinya, King membawa Cilya pergi ke pantai. Wanita itu terlihat sangat senang melihat hamparan lautan lepas, lengkap dengan pasir putihnya.
__ADS_1
"Key, aku pengin nungguin sunset. Jangan cepet-cepet pulang ya."
"Hem.." dehemnya. Pria itu milih duduk santai, melihat Cilya yang kegirangan dengan pemandangan yang ada di depannya. Seperti baru pertama kali pergi ke pantai saja.
"Key.. main air yuk?" ajaknya.
"Hah? serius? malu lah Cil!" jawabnya. Pria itu tidak menangkap dengan benar ucapan Cilya.
"Ngapain malu? sini?" Cilya meneriaki King untuk mendekat, wanita itu sudah berlarian di tepi pantai, menenggelamkan kakinya di air.
"Di rumah aja Cil kalo pengin! masa di sini, malu di liatin orang!" seru King. Otak mesumnyaa salah tangkap, mengira istrinya itu meminta bercinta di pantai. "Ayo pulang!"
"Kamu ngomong apa sih Key! aku bilang ayo main air! bukan main gituan di air!" Cilya memperjelas.
"Oh.. aku pikir..." tubuhnya lemas kembali. "Aku tunggu di sini aja. Kaya anak kecil main air." ucapnya seraya menjauh dan mulia berbaring di atas pasir putih, menutupi wajahnya dengan topi agar tidak terkena sinar matahari yang menyilaukan.
"Ishhh.." Cilya mendengus kesal. "Key! ayoo!" teriak Cilya.
"Aku masih pegel Cil. Ntar aja di bathtub main airnya." balas King. Pria itu tidak peduli orang sekitar akan mendengar percakapannya.
"Minggir woi! sultan Arab mau lewat!" suara yang sangat familiar terdengar di telinga King. Pria itu membuka topi yang menutupi wajahnya. Dan terkejut mendapati wajah sahabatnya berada di sana.
"Lu! kok bisa di sini?" tanya King yang terkejut.
"Bisalah.." ucapnya. Wajahnya terlihat begitu pongah. Muhammad Ali Baharuddin kini telah kembali. Setelah berhasil menemui ayah kandungnya, dan mendapatkan sejumlah warisan yang berlimpah. "Perkenalkan, nama saya Muhammad Ali Baharuddin." Ali menjulurkan tangannya, seolah mereka baru pertama kali bertemu. Dan dengan bangga menyebutkan nama lengkapnya, dulu mana mau ia memiliki nama yang sama persis dengan ayah kandungnya.
"Ck! blagu lu!" sembur King, lalu menepis kasar telapak tangan Ali yang terjulur di depannya.
Ali tergelak. "Sekarang gue blagu juga gak papa, gue kan Sultan!" pria itu duduk di samping King.
King mencibir. "Dulu aja lu maki-maki bokap lu, sekarang aja kicep udah dapet warisan!"
__ADS_1
"Yoi bro! kan harus berbaik hati biar dapet warisan!" kata Ali.
"Eh.. lu kenapa bisa di sini?" King penasaran, kenapa Ali bisa berada di tempat ini. Sedangkan King tidak pernah memberitahu tentang keberadaannya.
"Gue nyusul Lu lah.."
"Ngapain nyusulin gue! gak ada kerjaan banget!"
"Ya buat pamer! apalagi!"
"Ck! gue gak bakal iri. Gue udah punya banyak duit!" semburnya. Mungkin kalau King masih terjerat dengan kemalasan dan masih berada di bawah. Pasti King akan sangat iri pada Ali yang mempunyai uang berlimpah tanpa susah payah bekerja.
"Key.. liat deh.. tu cewek yang pake baju pink cakep banget. Gue gebet pasti dapet nih.. secara duit gue udah banyak!" tatapan Ali tertuju pada perempuan berbaju merah muda yang sedang bermain air di tepi pantai.
"Mana?"
"Tuh.."
King mengikuti arah pandang Ali. "Brengsekkk! itu bini gue! jangan macem-macem lu!"
"Itu Cilya?"
"Iya.."
"Kok makin cantik." Ali memuji kecantikan Cilya. King menimpuk kepala Ali karena kesal, tidak terima istrinya di puji oleh pria lain. Kecantikan Cilya hanya King seorang yang boleh memuji dan menikmatinya. "Awww.." pekik Ali.
"Gue congkel mata lu!"
"Sabar bro! sabar!" Ali menenangkan. "Udah bucin ni ye.. dulu aja ogah, ampe sumpah!" ledeknya. Mengingatkan King yang dulu sangat anti pati dengan Cilya yang masih berpenampilan culun. "Eh.. mau kemana lu?" tanya Ali. King berjalan menjauhinya.
"Bahaya! lu bisa bikin rusuh kalo ketemu Cilya. Bacott lu gak ada remnya!" King takut, kenangan buruk akan teringat oleh Cilya, tentang kelakuannya dulu yang sangat...
__ADS_1
Bisa gawat! malam-malam indahnya akan jadi siaga satu atau mengalami lockdown dalam kurun waktu yang tidak bisa di tentukan.
Ali tertawa terbahak-bahak melihat ketakutan King. "Bucin akut lu!"