King Haidar

King Haidar
Menemui Benzema


__ADS_3

Setelah kepergian Cilya, King kembali masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian.


"Loh, kok balik lagi?" tanya Lisa. Ia pikir putranya sudah berangkat sedari tadi.


"Ganti baju dulu mom!" kata King. Pria itu ingin mengganti seragam OB nya menjadi pakaian formal, pakaian yang biasa dipakai oleh kebanyakan karyawan. Stellan jas atau sebuah kemeja yang di padukan dengan celana bahan.


Lisa menatap bingung putranya. "Yasudah, mommy berangkat ke yayasan dulu ya Key!" teriak Lisa agar King mendengarnya. tapi tidak ada sautan dari atas sana. Lisa yang di buru oleh waktu, harus bergegas pergi. Salah satu kegiatan rutin Lisa adalah mengunjungi yayasan yang ia dirikan bersama sang suami.


Mulai hari ini, King akan belajar mengenai bisnis secara langsung, bukan teori lagi. Pria itu akan mengunjungi sepupunya, belajar dari sana. "Semoga aja Benz gak nyebelin!" penampilannya di rasa sudah maksimal. Terlihat seperti executive muda berbakat. Layak menjadi seorang pewaris Haidar. "Nah.. kalo gini kan gue tambah ganteng! kece abisss!" sifat narsisnya tidak pernah berkurang, bahkan semakin bertambah.


"Cari duit, duit, duit! awas kamu Cili.. kalo duit gue udah banyak, abis kamu!" King tergelak sendiri. Membayangkan jika dirinya sudah menjadi milyarder sungguhan, King akan mengurung istrinya, berbuat sesuka hati dalam hal yang mengenakkan.


"Tunjukkan otak pintar mu Key!" ucapnya menyemangati diri sendiri. Rasanya tidak sabar menanti hari itu. Hari dimana dompetnya akan bertambah tebal dari hasil kerja kerasnya.


Kedatangan King di perusahaan Bastian cukup membuat Benzema terkejut. Kehadiran King sangat tidak di inginkan oleh pria berwajah datar itu. "Ada apa kesini?" ucapnya.


"Gue.. eh sorry, aku mau belajar bisnis sama kamu." berbicara dengan Benzema harus meninggalkan bahasa sehari-harinya. Harus sopan. Sungguh menyebalkan bagi King.


Benzema memicingkan sebelah alisnya. "Apa niat mu?" insting pria itu tidak pernah salah, selalu telat sasaran. Tidak mungkin King tiba-tiba datang dengan suka rela untuk belajar bisnis. Benzema tahu salah satu sifat King yang begitu angkuh. Tidak sudi meminta jika tidak benar-benar terdesak.


"Ck! ya menambah ilmu lah." jawabnya santai.


Belum menanggapi ucapan King, ponsel milik Benzema berbunyi. Benzema menerima panggilan itu sembari menatap King. Rupanya Arsen menghubungi keponakannya untuk membimbing King.


"Hari ini aku sibuk, ada beberapa meeting di luar." terang Benzema. Dimintai bantuan oleh uncle Arsen, mana mungkin Benzema menolaknya. Pria itu sangat menghormati orang yang lebih tua, apalagi masih memiliki ikatan saudara. "Kamu belajar dulu dengan Sir Bastian. Kebetulan beliau ada di tempat." jika sedang berada di ruang lingkup pekerjaan, Benzema bersikap profesional. Memanggil ayahnya dengan sebutan yang biasa para bawahannya memanggil pimpinan mereka.


King menghela, semangat empat limanya mendadak turun ketika mendengar nama Bastian. "Aku ikut kamu aja deh.. daripada sama uncle, yang ada di tanyain sin cos tan, di ajarin cara suntik menyuntik, bisa jadi suruh ngerjain soal ujian anak SMA!" King menggeleng cepat. Menolak keras.


"Kamu berlebihan Key!" kata Benzema.

__ADS_1


"No! aku udah ngalamin sekali. Udah kapok! gak mau lagi!" King bersikeras menolaknya.


Obrolan mereka terhenti ketika suara pintu di ketuk, lalu terbuka lebar. Seorang wanita cantik berpakaian rapih muncul dari sana. "Maaf, menganggu." ucap wanita itu dengan suara lembutnya.


"Ada apa?" tanya Benzema.


"Kita harus segera berangkat Sir, setengah jam lagi meeting akan di mulai." ucapnya.


"Oke, kamu tunggu di luar sebentar." perintah Benzema.


"Wuiss pantesan betah kerjanya, kamu betah kan sama sekertaris cantik mu?" terka King. Bagaimana Benzema tidak betah saat bekerja, jika sekertaris yang selalu menemaninya terlihat cantik.


"Menurut mu dia cantik?" tanya Benzema.


King menggeleng. "Gak! wanita yang paling cantik cuma Cily, istri ku."


"Bukan Camelia lagi?" semua orang terdekat King tahu, jika dulu King selalu memuja-muja gadis yang bernama Camelia.


"Tapi jangan membuat masalah. Diam dan mengamati saja." kata Benzema memperingati.


"Oke!" King kembali bersemangat. Benzema dan King keluar dari ruangnya. Di luar, sekertaris Benzema bernama Gita sudah menunggu.


"Key, kemungkinan keberangkatan istri mu ke Dubai di percepat." ucap Benzema ketika mereka berjalan menuju lobby.


"Bukannya masih lama?" setau King, show akan di adakan beberapa bulan lagi.


"Iya, tapi para desainer di haruskah datang lebih awal sebelum show di mulai. Mereka harus mempresentasikan rancangannya untuk dinilai, layak tidaknya untuk mengikuti show tersebut." jelas Benzema.


"Oh.." ada rasa tak rela jika harus berjauhan dengan Cilya. Padahal King ingin menghabiskan waktu bersama Cilya sebelum dia pergi menangani proyek pertamanya. Kalau seperti ini, hari perpisahan dengan Cilya semakin dekat saja.

__ADS_1


"Belajarlah sungguh-sungguh untuk meringankan beban ku." Benzema akui, dia cukup kewalahan mengurusi rumah produksi milik oppa Adrian. Jika ada kegiatan di luar negeri, tentu Benzema yang akan mengambil alih. Tidak mungkin menyerahkannya pada Karin dan Mikha. Mereka wanita, tidak baik berpergian ke luar negeri untuk urusan pekerjaan.


"Iya." King mulai berpikir, betapa sibuknya seorang Benzema. Mengurus perusahaan ayahnya, oppanya, serta perusahaan warisan yang ada di Meksiko. "Pantesan orangnya kaku!kurang bergaul sih. Kerja terus!" King melirik Benzema, lalu ke sekertaris.


"Emm.. siapa tadi nama kamu?" tanya King pada sekertaris Benzema.


"Saya Gita Sir." jawabnya.


"Kalian sering bareng, apa kalian punya hubungan khusus? pacaran gitu?" celetuk King. Gita, sekertaris Benzema yang selalu ikut kemanapun Benzema pergi.


Di tanya seperti itu, tentu saja membuat Gita tertunduk, tersipu malu. Wanita mana yang tidak menyukai Benzema? Apalagi Gita selalu mengekori Benzema. Urusan pribadi pun Gita yang menyiapkan. Seperti pakaian, lalu makanan dan hal lainnya.


"Ngomong apa kamu!" sembur Benzema. "Kami hanya bekerja, gak ada hubungan seperti yang ada di pikiran mu itu!" ketus Benzema. Jawaban Benzema membuat hati Gita merasa kecewa. Wanita itu memang berharap lebih pada atasannya. Ibu dari Benzema pun selalu mendukung mereka jika memiliki hubungan spesial, hal itu membuat Gita percaya diri, bisa memiliki Benzema.


"Ck! terus siapa pacar mu, Benz?" tanya King. Benzema melotot, King tidak sopan memanggilnya. "Iya... kak Benz." ucapnya pelan.


"Tidak ada!"


King mendengus. "Udah tua belum punya pacar! menggenaskan!" lirih King.


"Kamu bilang apa?" Benzema menghentikan langkahnya. Menatap tajam sepupunya.


"Gak bilang apa apa." elaknya. Benzema mendengus, lalu melanjutkan langkahnya lagi. "Jangan sampe kamu naksir Cilya ya kak, awas aja kalo berani lirik-lirik Cilya. Aku aduin ke aunty Clara, kamu diem-diem pacaran sama Kalpana." King mengancam Benzema agar tidak mendekati istrinya ketika mereka bekerja bersama.


Benzema mendelik. "Ngomong apa kamu!" takut juga dengan ancaman King. Bisa-bisa dia dinikahkan langsung dengan asisten pribadi adik iparnya.


King tergelak. "Makanya jangan berniat menganggu istri ku."


"Gila kamu!" sembur Benzema. Mana mungkin dia merebut istri sepupunya sendiri. Lagi pula, Benzema tidak memiliki rasa lebih pada Cilya. "Kalau mulut mu masih ngomong gak jelas, mending gak usah ikut!" berurusan dengan King selalu membuatnya naik darah.

__ADS_1


"Iya.. iya.. jangan baper!"


Bersambung...


__ADS_2