
Cilya tidak pernah menyangka akan mendapatkan keluarga baru yang begitu perduli padanya, meski bukan dari suaminya. Mereka sama sekali tidak mengucilkan ataupun menghina keadaannya. Sungguh di luar dugaan. Lisa dan Soraya begitu hangat menyambut kedatangannya sebagai anggota keluarga baru mereka.
Terlihat dari sikap ibu mertuanya yang sangat welcome dan antusias membantu dirinya mempersiapkan diri untuk melewati malam pertama selayaknya pengantin baru.
Berbagai pakaian minim di sodorkan padanya. "Mommy belum sempat memakainya, kayaknya pas di kamu." Lisa memberikan koleksi baju dinasnya yang belum sempat dipakai. Pernikahan yang berlangsung mendadak membuat Lisa ataupun Cilya tidak sempat mempersiapkan apa saja yang di butuhkan untuk pengantin baru.
"Wow.. seksi sekali, aku juga mau mom." ucap Soraya.
"Kamu belum bersuami Sora, nanti akan mommy belikan kalo sudah memiliki suami." terang Lisa.
Soraya mendengus kecewa. "Oke mom."
"Tante.. "
"Panggil mommy dong, jangan tante lagi..."
Cilya tersenyum. "Iya mom. Tapi aku gak perlu pakaian seperti ini. Aku dan Key bukan pasangan yang seperti itu. Kita hanya berteman mom." Cilya sadar diri jika King pasti menolaknya, dan akan sangat memalukan sekali memakai pakaian tipis itu di hadapan King. Pasti akan di tertawakan!
Lisa dan Soraya saling melirik. "Kalian sudah menikah, bisa jadi sekarang teman, besoknya teman tapi mesra, besokannya lagi teman di ranjang.. hihi.." Lisa terkekeh. "Apalagi Key itu laki-laki, mana bisa dia diemin kamu kalo berada di satu ruangan."
"Betul apa kata mommy!" seru Soraya ikut mendukung mommy nya.
"Heh.. jangan berfikir kemana-mana ya! belum waktunya. Pikirin kuliah aja yang bener." seru Lisa pada putrinya.
"Iya mom." Soraya menurut.
"Pakai ini kalo udah di kamar." ucap Lisa sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Besok ikut aku ya kak, ke klinik.. kita perawatan seharian.. habisin uang daddy." ajak Soraya. Gadis itu tak menyangka bertemu lagi dengan Cilya dalam penampilan yang semakin buruk. Jika dulu hanya kacamata tebalnya saja yang mengurangi kecantikannya, sekarang bertambah wajah dan pakaiannya yang tidak sedap dipandang. Entah apa yang membuat Cilya tidak merawat wajahnya hingga dipenuhi dengan jerawat.
Cilya mengangguk dan tersenyum. "Baiklah.. tapi aku punya uang sendiri."
"No! harus pake punya daddy. Uang kak Cilya di simpan aja."
"Iya sayang, kamu sekarang anggota keluarga kita." ujar Lisa.Tidak mau menolak lagi dan menyinggung perasaan Lisa dan Soraya, Cilya menerima tawaran adik iparnya.
Cilya kembali ke kamar King. Sebelumnya Soraya sudah memberitahu dimana letak kamar suaminya. Dengan langkah penuh keraguan, Cilya perlahan membuka pintu kamar itu. Tangannya membawa dua buah baju dinas seorang istri, pemberian dari ibu mertuanya. Cilya tidak berniat memakainya di depan King. Pasti hanya akan di tertawakan!
Sebelum kembali ke kamar, tadinya Soraya memaksanya untuk merias wajah terlebih dahulu. Menyembunyikan bintik bintik jerawat dengan peralatan make up milik adik iparnya, tapi Cilya menolak.
__ADS_1
Dilihatnya King sudah terbaring di atas tempat tidur dengan bertellanjang dada, kebiasaan laki-laki itu jika tidur hanya menyisakan boksernya saja.
Jantungnya berdegup kencang melihat tubuh King untuk kedua kalinya. Dengan cepat Cilya meraih selimut dan menutupinya.
Seusai membersihkan diri di kamar mandi, Cilya melangkah menuju sofa panjang yang terdapat di kamar itu. Dia memilih tidur disana. Rasanya sangat aneh jika ikut berbaring di ranjang bersama King.
Wanita yang baru saja menyandang status baru itu memandang langit-langit kamar. merenungi nasibnya saat ini. Pernikahan yang tidak dilandasi oleh cinta, membuatnya ragu. Bagaimana ia dan King menjalani hidup sebagai suami dan istri? sedangkan King sendiri sangat menjaga jarak dengannya, malah enggan menganggapnya ada.
Cilya tahu jika King menikahinya hanya karena rasa tanggungjawab atas kesalahannya. Dia sendiri pun tidak tahu perasaannya untuk King. Cinta? Cilya tidak yakin mencintai King. Dia hanya merasa nyaman saja jika berdekatan dengan King. Mungkin karena King satu satunya orang yang mau berdekatan dengannya. Yah.. meski hanya memanfaatkannya saja.
Lama larut dalam pikirannya, Cilya mulai memejamkan kedua matanya. Tidur meringkuk di sofa panjang, untung saja sofa itu bisa menampung sempurna tubuhnya, dan lumayan empuk.
***
Pagi pun tiba. King membuka matanya, senyum mengembang di wajah tampannya. Tidurnya terasa nyenyak. Merasa senang karena bisa kembali tidur di ranjang empuknya. Tubuhnya tidak pegal-pegal lagi saat bangun tidur.
"Akhirnya gue balik lagi jadi sultan." ucapnya sembari meregangkan ototnya yang terasa kaku. Senyumnya memudar seiring ingatannya kembali, tersadar dirinya sudah menjadi seorang suami dari Cilya! gadis culun yang ieuhhh.. memalukan!
King mendengus kesal. "Kirain cuma mimpi! tapi kenyataan!" Menyibak selimut kemudian masuk ke bathroom. Mempersiapkan diri untuk memulai bekerja di perusahaan daddy nya.
Sedangkan Cilya sudah ada di dapur, menemani ibu mertuanya untuk menyiapkan sarapan pagi. Meski ada pelayan yang juga ikut membantunya.
"Selamat pagi istriku.." pagi ini benar-benar cerah. Secerah wajah Arsen yang terlihat sumringah, seperti sudah memenangkan lotre.
"Apa tidur mu nyenyak?" tanya Arsen sembari duduk di salah satu kursi meja makan.
"Kamu tau jawabannya sayang." Lisa mengerling genit. "Kamu terlalu bersemangat! aku masih mengantuk." ujar Lisa.
"Gimana gak semangat! jalannya usah lancar, gak kena blokir lagi." Arsen terkekeh.
"Ishh.. mom! dad! gak malu apa sama kak Cilya!" seru Soraya yang jengah melihat tingkah kedua orang tuanya. Bermesraan tidak tahu tempat. Soraya sudah biasa melihatnya, tetapi tidak dengan Cilya. Menantunya itu sampai di buat melongo melihat mertuanya saling mengecup bibir tanpa malu. Cilya langsung menundukkan kepalanya, malu sendiri.
Lisa terkekeh. "Nanti juga terbiasa." sedangkan Arsen tak mau ambil pusing.
"Pagi semua.." King datang dan menyapa. Pria itu menghiraukan keberadaan Cilya, istrinya.
"Pagi." balas Lisa dan Soraya bersamaan.
"Kenapa bajumu rapih? mau kemana?" tanya Arsen yang melihat King sudah rapih dengan stellan jasnya, sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Kerja lah, mau apa lagi." jawab King. "Bukannya kemarin daddy bilang, aku udah bisa mulai bekerja?" sebenarnya bukan Arsen yang meminta putranya itu cepat cepat masuk kerja, mengingat masih pengantin baru. Dia sendiri yang berinisiatif untuk langsung bekerja.
Arsen menghela, lalu kedua tangannya bersila di depan dada, punggungnya pun di sandarkan ke sandaran kursi meja makan. Tatapannya kembali meremehkan putranya. "Daddy cuma bilang persiapkan diri untuk mulai bekerja."
"La ini aku udah siap dad." jawab King.
"Tapi pakaian mu terlalu berlebihan King, kaya eksekutif muda aja." celetuk Arsen.
King mengerutkan keningnya. "Daddy ini gimana sih, penampilan harus maksimal. Biar gak malu-maluin." ujarnya. King tidak merasa ada yang salah dalam penampilannya. Bukannya memang seperti ini yang biasa para businessesman pakai.
"Ck!" Arsen berdecak, kemudian memanggil Parman-supir pribadinya. "Parmaaaannn..."
Pria yang di panggil segera datang. "Iya tuan."
"Ambilkan seragam di mobil."
"Baik tuan."
Sepuluh menit kemudian pria bernama Parman muncul dengan membawa seragam. "Pakai ini." Arsen memberikan seragam itu pada King. "Bekerja mulai dari bawah sebelum menggantikan daddy."
"Whattt!!!" King tercengang menerima seragam office boy. "Gak salah dad?" Arsen menggeleng dengan cepat.
King melirik mommy nya, meminta bantuan. Tapi sayang, Lisa tidak bisa berbuat banyak. Baginya sudah beruntung mendapatkan ijin dari suaminya, membawa kembali King ke rumah ini.
"Kamu masih di hukum." seru Arsen.
"Tapi dad.." King mencoba mencari alasan lainnya. Tidak lucu jika dirinya yang tampan menjadi office boy di perusahaannya sendiri.
"Tapi apa?" tanya Arsen.
"Emm.. mana cukup uangnya untuk memberi nafkah Cilya. Aku sudah beristri dad." King menemukan celah agar Arsen mengurungkan niatnya.
Arsen menggeleng. "Cilya akan mendapatkan fasilitas dari daddy, tenang saja."
"Ck!" King menatap Cilya tak suka. Sangat tidak adil! dia yang anak kandungnya tetapi kenapa Cilya yang mendapatkan kemewahan?
"Jangan membantah! apa kamu mau, daddy pindahin ke pelosok? kebetulan kita punya proyek baru di pedalaman Kalimantan. Mau?" King menggeleng dengan cepat.
"Habiskan sarapan mu! kita berangkat bersama." ucap Arsen.
__ADS_1
Berbeda dengan King yang mendapati kenyataan pahit. Cilya bersama Soraya pergi ke klinik kecantikan untuk menghabiskan uang daddy nya. Sedangkan mommy Lisa memilih melanjutkan tidurnya, semalam wanita yang tak lagi muda itu bekerja lembur hingga menjelang pagi.
Bersambung...