King Haidar

King Haidar
Mulai menata hidup


__ADS_3

Harapannya untuk menyusul sang istri ke Dubai rupanya tidak berjalan dengan lancar. Arsen, sang daddy bertindak lebih cepat. Mengirimnya langsung ke Kalimantan.


Hari demi hari berlalu. Dan di sinilah King berada. Anak perusahaan yang masih merintis, gedung tinggi tapi belum mempunyai fasilitas mewah. Arsen mengutus putranya untuk memajukan perusahaan ini agar berkembang. Berdiri kokoh seperti perusahaan yang ada di pusat.


Keinginan kuat untuk menemui istrinya membuat King semangat bekerja, memenangkan beberapa tender berskala kecil. Dan berharap kedepannya bisa menangani tender berskala besar seiring ilmunya semakin bertambah di dunia bisnis.


King dan Cilya masih berkomunikasi dengan baik. King selalu menanyakan kabar dan kegiatan apa saja yang sedang dilakukan Cilya, melalui aplikasi chat berwarna hijau. Cilya membalas alakadarnya saja. Tidak mau berharap lebih, wanita itu tidak mau menunjukkan rasa cintanya lebih dulu pada suaminya, takut dikecewakan karena sang suami masih mencintai wanita masalalunya.


"Sir, anda sedang di tunggu pak Musri." Meta, sekertaris King menginfokan jika ada tamu yang sedang menunggu.


"Siapa pak Musri?" tanya King yang tidak mengingat orang tersebut.


"Pak Musri, pemilik lahan 30 hektar yang anda incar. Sepertinya beliau setuju untuk menjualnya pada anda." jelas Meta.


Selain meneruskan perusahaan ayahnya, King ingin merambat bisnis baru di bidang perkebunan, kelapa sawit. Apalagi setelah mendapat kabar jika Ali di sana berhasil menemukan ayah kandungnya. Yang ternyata pengusaha minyak. King bisa menjalin kerja sama dengan sahabatnya itu. Meski jauh berbeda dengan minyak yang dikelola oleh Muhammad Baharuddin.


Walaupun saat itu King tidak bisa ikut ke Dubai bersama Benzema, sebagai sahabat, King mengusahakan Ali untuk ikut dan meminta bantuan pada Benzema untuk mencarikan ayah Ali yang bernama Muhammad Baharuddin. Meski melenceng dari tujuan awal Benzema dan membuang waktu berharganya, pria itu berbesar hati untuk membantu Ali.


Dengan bekal secarik kertas berisi alamat rumah Muhammad Baharuddin yang di berikan oleh ibunya, Ali mudah menemukannya. Apalagi Benzema mengenal pengusaha minyak tersebut.


"Oh.. kita temui sekarang." King bersemangat, lahan seluas 30 hektar akan jatuh ke tangannya dengan harga lebih murah. Si pemilik menjualnya karena butuh uang cepat, untuk melunasi hutang-hutangnya pada rentenir.


Kerja dari pagi sampai malam hari membuat tubuh King begitu lelah. Ternyata mencari uang untuk sesuap nasi begitu melelahkan. Apapun pekerjaannya, semua pasti merasa lelah bekerja seharian. Tidak peduli itu seorang direktur, office boy atau pekerja kasar lainnya, pasti membutuhkan tenaga yang ekstra.


King termenung, betapa lelahnya daddynya selalu bekerja keras untuk menghidupi keluarganya agar hidup berkecukupan. Bukan hanya itu, ada tanggungjawab pada ribuan karyawan yang menjadi beban terberatnya. Ternyata menjadi seorang pemimpin bukan hal yang mudah.


Satu balasan pesan dari sang istri membuat lelah King berkurang. Seutas senyuman terbit di wajah yang terlihat sayu. Jarinya berselancar di layar ponsel untuk membalas pesan Cilya. Tiap kali ucapan I Love you atau I miss you tersemat di baris terakhir pesan itu. Entah perasaan yang tulus dari hati atau hanya sekedar ucapan biasa agar menarik di baca. Cilya tidak percaya sepenuhnya, namun mampu membuat wanita itu tersenyum bahagia.


"Sir, apa perlu saya siapkan makan malam untuk anda?" sela Meta. Membuyarkan senyum King yang sedang menatap ponselnya.


"Emm.. boleh." kata King yang memang merasa lapar. Lalu kembali fokus pada ponselnya.


Sopir melajukan kendaraan menuju restoran, sesuai perintah Meta.

__ADS_1


King mengerutkan keningnya ketika mobil berjalan lawan arah, tidak menuju apartemennya. Ponselnya ia masukan kembali ke dalam saku. "Kenapa ke sini?" tanyanya heran.


"Bukannya tadi anda ingin makan malam?" kata Meta.


King menghela nafasnya. "Ingin makan malam, bukan berarti harus pergi ke restoran, Meta!" tubuhnya ingin beristirahat, tidak berniat untuk mengunjungi restoran terlebih dahulu. Pria itu ingin segera beristirahat. "Bukannya tadi kamu bilang ingin menyiapkan makan malam? bukan makan malam bersama!" semburnya. "Kamu bisa pesankan melalui layanan pesan antar!"


Meta tertunduk. "Maaf sir!"


King melengos. "Pak, putar balik!" serunya pada sang supir.


Perjalanan pulang menjadi memakan banyak waktu. King sedikit kesal, karena. waktunya terhubung sia-sia.


"Kenapa kamu ikut turu?" tanya King. Sampai di apartemen, Meta ikut turun bersamanya.


"Emm... mau menyiapkan makan malam untuk anda Sir." jawabnya.


King menghela lagi. "Ya ampun Meta! tinggal pesan melalui ponsel mu! gak usah ikut turun! apalagi masuk ke dalam apartemen ku! jaga batasan mu Meta!"


"Oh.. baik sir. Maaf."


King harus mempertahankan Meta yang sudah lama menjadi sekertaris direktur terdahulu agar mempermudah pekerjaannya. Jika sudah menguasai, King akan menggantinya. Pria itu juga sudah memberikan fasilitas gratis untuk Asep melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, semua biaya di tanggung perusahaan. Berharap empat atau lima tahun lagi ke depan, Asep bisa direkrutnya menjadi sekertaris pribadinya, sesuai janjinya dulu.


"Cil, aku kangen." seusai membersihkan diri. King merebahkan tubuhnya di ranjang. Mengirim pesan audio pada Cilya. Tidak ada balasan. King menunggunya samapi tertidur.


***


"Sorraaaa!!!!" suara Arsen menggelegar di setiap sudut rumahnya. Pria iri tahu jika putrinya masih menjalin hubungan dengan Higo. Bahkan tadi malam anak buahnya melaporkan bahwa Soraya pergi ke club malam bersama Digta.


"Ada apa sayang." tanya Lisa.


"Dimana Sora?" tanya Arsen.


"Sepertinya di dalam kamar. Ada apa?" Lisa penasaran kenapa Arsen terlihat sangat marah. Apa yang terjadi?

__ADS_1


Lisa menutup mulutnya yang menganga tak percaya. "Semalam dia pamit ke rumah Arlet, jadi aku mengijinkannya." kata Lisa yang merasa bersalah karena telah membiarkan Soraya pergi dan membohonginya. "Maafin aku mas."


Arsen mendengus. Untung saja anak buahnya bergerak cepat, menyeret Soraya pulang ke rumah. Dan pagi hatinya baru melaporkan pada tuannya.


"Ada apa pah?" Soraya mendekat dengan langkah pelan, takut daddy nya akan memarahinya karena kejadian semalam.


Arsen menatap putrinya tajam. Baru kali ini ia bersikap sedikit kasar putri kesayangannya. Tapi itu demi kebaikan Soraya. "Kenapa membohongi daddy?" tanya Arsen dengan tegas.


"Sorry dad." Soraya tertunduk, menyesali perbuatannya. " Tapi Sora gak nglakuin apa-apa di sana. Baru masuk ke dalam, pengawal daddy udah nemuin Sora."


Arsen tidak menggubris alasan putrinya. "Sesuai janji, daddy akan menikahkan mu dengan laki-laki pilihan daddy."


"Baik dad." Soraya pasrah. Menurut apa kata daddynya.


"Gak ada penolakan apapun keputusan daddy. Kamu di larang menolak! harus menurut!"


"Iya.."


"Oke. Besok daddy panggilkan calon suami mu." kata Arsen.


"Siapa dad? apa anak dari rekan bisnis daddy?" tanya Soraya.


Arsen menggeleng. "Bukan. Dia punya usaha sendiri."


"Siapa mas? kamu gak pernah cerita sama aku." kata Lisa yang sama sekali tidak tahu laki-laki pilihan Arsen untuk Soraya.


"Pengusaha apa dad?"


"Kamu kenal sayang." kata Arsen pada Lisa. "Dia pemilik bengkel. Kenal dekat dengan Dona."


"What!!!" pekik Soraya yang terkejut mendengar usaha calon suaminya hanya memiliki sebuah bengkel. Dan otak pintarnya menuju pada pria itu, pria angkuh dan irit bicara. Karena sering kali bertandang ke rumahnya.


Bersambung...

__ADS_1


...Siapa hayoo???? si pemilik bengkel itu???...


__ADS_2